Minat Baca Masyarakat Indonesia Rendah, Mari Kenali Dahulu Penyebabnya

Sejumlah anak membaca buku pada Festival Literasi Indonesia di Palu, Sulawesi Tengah. (Sumber: tirto.id)

Peristiwa United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) pada tahun 1995 menyelenggarakan Konferensi Umum di Paris dan menetapkan 23 April sebagai World Book Day. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh tercetusnya ide seorang penulis asal Spanyol, Valencia Vicente Clavel Andres yang menjadikan tanggal tersebut sebagai hari penghormatan atas kematian penulis terkenal asal Spanyol pula, Miguel de Cervantes dengan karyanya “Don Quixote”, dilansir dari Hindustan Times.

Selain Cervantes, beberapa penulis terkenal lainnya juga memiliki catatan kematian di tanggal yang sama, seperti William Shakespeare pada 23 April 1616 dan Inca Garcilaso de la Vega. Akan tetapi, sebenarnya Shakespeare meninggal 10 hari setelah Cervantes karena penanggalan Shakespeare mengikuti kalender Gregorian milik Spanyol, sedangkan Cervantes mengikuti kalender Julian milik Inggris.

Peringatan World Book Day merupakan bentuk penghargaan antara pengarang, penerbit, distributor, organisasi perbukuan, serta komunitas-komunitas yang bekerja sama untuk mempromosikan buku dan literasi untuk meningkatkan nilai-nilai sosial budaya kemanusiaan. Hingga kini, perayaan Hari Buku Sedunia dijadikan sebagai ajang untuk pengenalan ruang lingkup buku sebagai penghubung masa lalu dan masa depan, serta menjadi jembatan budaya dan generasi dilansir dari kompas.com.

Melihat Minat Baca Masyarakat Indonesia

Menurut Duta Baca Perpustakaan Nasional Indonesia – Najwa Shihab – dilansir dari Tirto.id, memaparkan hasil survei dari studi Most Littered Nation In the World 2016 (studi tentang minat baca) bahwa Indonesia menempati urutan ke-60 dari 61 negara, artinya berada pada peringkat kedua dari bawah dengan minat baca yang sangat rendah.

“Berdasarkan hasil survei, saat ini minat baca masyarakat Indonesia sangatlah rendah. Sebab minat baca di Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara,” ujar Najwa pada Agustus 2017 lalu saat menggelar acara Temu Literasi di Kupang, NTT. Acara itu digagas oleh Lembaga Garda Lamaholot yang bekerja sama dengan Direktorat Kesenian Kementrian Pendidikan. Tak tanggung, di sana turut hadir pula Gubernur NTT, Frans Lebu Raya sebagai bintang tamu.

Tak hanya minat baca, ternyata kemampuan membaca anak-anak Indonesia apabila dibandingkan setingkat negara se-Asean saja masih sangat jauh, apalagi jika dibandingkan dengan seluruh negara di dunia. Data meyebutkan, dalam setahun, anak-anak di Eropa atau Amerika bisa membaca hingga 25-27 persen buku. Diikuti oleh Jepang dengan konsumsi 15-18 persen buku tiap tahunnya. Sedangkan Indonesia, jumlahnya hanya mencapai 0,01 persen pertahun. Artinya dari 1000 orang hanya 1 yang rajin membaca buku.

Berdasarkan Indeks Aktivitas Literasi Membaca (Alibaca) Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), dilansir dari konde.co, ternyata penyebab masih rendahnya minat baca masyarakat Indonesia adalah karena kurangnya akses untuk membaca, yaitu fasilitas perpustakaan, terutama pada daerah-daerah terpencil. Apabila aksesnya saja susah, bagaimana bisa tumbuh minat untuk membaca?

Data Kemendikbud menyebutkan, Indonesia bagian timur, seperti Papua, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Barat memiliki tingkat literasi yang sangat rendah. Seorang pegiat literasi, Nila Tanzil dikutip dari konde.co menceritakan bagaimana minimnya fasilitas literasi di Nusa Tenggara Timur saat ia bekerja di provinsi tersebut.

“Saya pernah bekerja di Nusa Tenggara Timur selama empat bulan dan sempat berjalan-jalan keluar masuk kampung. saya lihat di sekolah-sekolah tidak ada buku bacaan dan perpustakaan,” tuturnya.

Upaya dongkrak minat baca di Indonesia

Alasan yang sangat masuk akal mengapa minat baca suatu penduduk negara sangat penting karena jalan untuk memperkaya ilmu adalah salah satunya dengan membaca. Kemudian, perkembangan teknologi yang masif menjadi media untuk menyebarkan informasi. Apabila pengetahuan kita kurang, kita bisa langsung termakan emosi dan percaya pada berita yang belum tentu benar tanpa mengkaji ulang terlebih dahulu.

Dikutip dari Idn.times, beberapa upaya untuk mendongkrak minat baca masyarakat Indonesia, antara lain: mengintegrasi perpustakaan di tiap tingkatan daerah, bekerja sama dengan posyandu untuk meningkatkan literasi anak usia dini, membuat program membaca bagi siswa sekolah, dan memanfaatkan teknologi untuk mengakses bahan bacaan elektronik.

 

Referensi:

Aida, N. R. (2020, April 23). 13 April Hari Buku Sedunia, Bagaimana Sejarahnya? Retrieved from kompas.com: https://www.kompas.com/tren/read/2020/04/23/160532865/23-april-hari-buku-sedunia-bagaimana-sejarahnya?page=all

Dinda, A. A. (n.d.). 4 Cara Meningkatkan Minat Baca Warga Indonesia. Retrieved from idntimes.com: https://www.idntimes.com/life/inspiration/anisa-anggi-dinda/4-cara-meningkatkan-minat-baca-warga-indonesia-smartfren-c1c2

Tan, P. (2020, Maret 14). Minat Baca Orang Indonesia Paling Rendah di Dunia, Karena Tak Ada Akses dan Kesempatan. Retrieved from konde.co: https://www.konde.co/2020/03/minat-baca-orang-indonesia-paling.html/

Penulis: Diana Putri M, mahasiswa Fakultas Sains dan Matematika 2020
Editor: Aslamatur Rizqiyah, Fidya Azzahro

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *