Merunut Kasus Pelecehan Seksual di Lingkungan Universitas Negeri Semarang

Pernyataan sikap BEM KM Unnes 2021 terhadap kasus tindakan kekerasan seksual di lingkungan Universitas Negeri Semarang, Senin (19/3). (Sumber: unggahan akun Instagram @bemkmunnes)

Joglo Pos, Edisi I Tahun 2021 – Kasus pelecehan seksual di lingkungan kampus marak terjadi, bahkan sudah menjadi isu global.  Dilansir dari theguardian.com (2/3/18) di Inggris, survei dilakukan kepada 4.500 mahasiswa yang berasal dari 153 universitas berbeda dan membuktikan bahwa 62 persen mahasiswa telah mengalami pelecehan seksual. Di Indonesia sendiri, kasus pelecehan seksual di lingkungan kampus masih menjadi salah satu isu hangat hingga kini. Hal tersebut terbukti setelah adanya isu terkait pelecahan seksual yang dilakukan oleh salah satu mahasiswa Unnes, AAS setelah beredarnya video klarifikasi yang diunggah  pada akun instagram @anqoro, Kamis (18/3).

Kronologi Terjadinya Kasus Pelecehan Seksual Oleh AAS

Dugaan kasus pelecehan seksual terungkap setelah adanya laporan dari seorang penyintas pada pertengahan Februari kepada pihak Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Anti Kekerasan Seksual (KP2AKS) BEM KM Unnes. Berdasarkan keterangan Menteri KP2AKS, Siti Nur Dzakiyyatul Khasanah, mulanya hanya terdapat satu penyintas yang berani melapor. Namun, setelah mendalami kasus ini, pihaknya mendapatkan laporan dari penyintas lain.

“Sementara sudah ada empat penyintas yang tertangani namun dari hasil pendalaman kasus terdapat indikasi empat penyintas lain”, ujar wanita yang kerap disapa Kiyya,ketika diwawancarai awak Manunggal via WhatsApp, Kamis (25/3).

Setelah menerima laporan tersebut, pihak KP2AKS langsung meruntut kronologi terjadinya kasus pelecehan seksual tersebut. KP2AKS mengumpulkan data dan memeriksa kembali data yang didapat, baik dari penyintas maupun pelaku hingga mendapatkan gambaran keseluruhan kasus.

Setelah adanya penelusuran kasus tersebut, atas tuntutan dari penyintas, pelaku diminta untuk mengakui perbuatannya dengan membuat video klarifikasi yang diunggah  pada akun instagram @anqoro pada Kamis (18/3).

“Saya AAS memohon maaf kepada seluruh korban yang telah saya lecehkan secara seksual, terhitung dari tahun 2019 hingga Februari 2021. Saya mengakui bahwa ini murni kesalahan saya dengan memaksa korban untuk melakukan hal-hal yang berbau seksual,” ungkap AAS dalam video klarifkasi tersebut.

Pendampingan Para Penyintas oleh Pihak KP2AKS

Selanjutnya, BEM KM Unnes merilis press release pernyataan sikap terhadap kasus tindak kekerasan seksual di lingkungan Universtas Negeri Semarang, Senin (19/3). Pada poin enam pernyataan sikap BEM KM Unnes tersebut, disampaikan bahwa pihak BEM KM Unnes akan terus mendalami kasus tersebut dengan tidak melepaskan tanggung jawab dalam pemenuhan hak-hak para korban maupun pelaku dan berupaya melakukan pendampingan terhadap keduanya,baik secara hukum maupun psikologis.

Pendampingan dilakukan secara psikis maupun psikologis,pihak KP2AKS terus berusaha untuk memberikan ruang aman, menjadi teman, dan membantu pemulihan psikologis penyintas. Keberlanjutan kasus yang akan akan didampingi oleh pihak KP2AK berjalan sesuai  kesepakatan penyintas sehingga para penyintas dapat merasakan keadilan dengan harapan kesejahteraan psikologis dapat mudah kembali.

“Pendampingan kami lakukan sesuai kapasitas kami. Apabila penyintas memerlukan pendampingan lebih lanjut oleh tenaga professional, maka kami merujuknya ke beberapa mitra kami yang memang memiliki tenaga professional,”tutupnya.

Tidak Ada Ruang Untuk Pelaku Pelecehan Seksual

Awak Manunggal juga berhasil menghubungi pihak BEM KM Unnes, Franscolyn Gultom selaku Wakil Presiden BEM KM Unnes Periode 2021/2022. Mengingat pelaku AAS pada saat dilaporkan akan dilantik sebagai Wakil Menteri Lingkungan di kabinet, maka pelantikan tersebut resmi dibatalkan setelah dikeluarkannya keputusan resmi yang diturunkan langsung oleh BEM KM Unnes.

“Ada surat pemecatan berarti ia resmi tidak akan menjabat di BEM KM Unnes periode ini,” ujarnya saat diwawancarai viaWhatshap,Jumat (26/3).

Menanggapi permasalahan tersebut, Franscolyn mengatakan bahwa kasus ini menjadi sebuah cambukan dan warning agar kita lebih peduli terhadap isu pelecehan seksual. Ia berpendapat bahwa semua orang bisaterindikasi menjadi pelaku. Namun, ketidakkuatan buktiperbuatan lah yang membuat banyak kasuspelecehan seksual tidak mencuat ke permukaan.

“Seharusnya masyarakat tidak men-judge mentah-mentah, tetapi harus introspeksi karena kasus juga dapat mengenai kita semua. AAS bukan satu-satunya pelaku. Masih ada banyak pelaku yang berkeliaran di luar sana. Maka dari itu, ada proses khusus yang sedang dilakukan oleh KP2AK dalam menghadapi kasus ini,” tegasnya.

Ia juga menambahkan bahwa belum adanya aturan legal mengenai kasus pelecehan seksual di Indonesia. Hal itumembuat BEM KM Unnes sebagai lembaga mahasiswa hanya bisa memfasilitasi korban atau penyintas dalam penanganan kesehatan mental penyintas dan tidak memiliki wewenang untuk mengadili pelaku.

“Tidak ada ruang bagi pelaku pelecehan di kampus, BEM KM Unnes berusaha membersihkan kasus ini dari internal dengan proses sesuai alur yang ada sehingga keadilan dua sisi bisa didapatkan,”terangnya.

Sebagai penutup, Franscolyn mengungkapkan bahwa BEM KM Unnes juga sedang berusaha untuk melakukan audiensi dengan pihak rektor agar peraturan mengenai aturan pelecehan seksual dilingkungan kampus segera diturunkan. Ia juga berharap teman-teman pers dapat mendukung kampanye tentang pencegahan kekerasan seksual di lingkungan kampus, sembari mendukung disegerakannya pengesahan RUU PKS di Indonesia.

 

Reporter: Christian Noven, Mirra Halizah

Penulis : Mirra Halizah

Editor: Aslamatur Rizqiyah, Dyah Satiti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *