Menguak Penetapan Hari Kebangkitan Nasional, Hari Pemersatu Bangsa?

Poster tema Hari Kebangkitan Nasional 2021. (Sumber: k-cloud.kominfo.go.id)

Peristiwa – Sejarah telah menjadi bagian penting yang pasti ada dalam kehidupan setiap manusia, baik secara pribadi maupun kelompok. Keberadaan sejarah di masa lampau dapat memberikan dampak hebat di masa yang akan datang. Tentu saja banyak sekali kejadian yang membuktikan bahwa sejarah memiliki pengaruh besar atas kejadian-kejadian selanjutnya. Namun, bagaimana bila sejarah yang merupakan masa lampau justru keliru ditafsirkan?

Keterikatan sejarah dan masa depan ini dapat dibuktikan melalui salah satu peristiwa di Indonesia, yaitu penetapan Hari Kebangkitan Nasional yang kala itu disahkan oleh presiden pertama; Soekarno. 20 Mei 1948 merupakan peringatan pertama Hari Kebangkitan Nasional yang digelar di Istana Kepresidenan di Yogyakarta. Pada peringatan pertama itu, Presiden Soekarno berpidato tentang kebangkitan nasional.

Sebelum adanya penetapan tersebut, Indonesia tengah mengalami kekacauan besar. Beberapa peristiwa yang menggemparkan telah memicu perseteruan. Salah satunya yaitu perubahan kabinet dari Amir Syarifuddin yang digantikan oleh Muhammad Hatta. Masalah ini berhasil menyulut emosi dari partai politik besar, seperti PNI, Masyumi, dan PSI. Maka, saat itulah Soekarno mengesahkan adanya Hari Kebangkitan Nasional dengan harapkan dapat menjadi salah satu cara memersatukan kembali masyarakat terkhusus partai politik untuk kemudian melawan Belanda.

Alasan dipilihnya 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional karena hari itu bertepatan dengan tanggal terbentuknya Boedi Oetomo. Menurut sejarah, Boedi Oetomo merupakan sebuah organisasi yang memiliki tujuan untuk memajukan derajat bangsa. Ketika itu, pemerintah Belanda memang memberikan kesempatan besar berupa perizinan pembentukan organisasi. Seketika itulah banyak sekali organisasi-organisasi bermunculan, seperti Jamiatul Khair, Taman Siswa, maupun Boedi Oetomo.

Pelopor dibentuknya Boedi Oetomo ialah Dr. Wahidin Husodo yang pada masa itu tengah mengunjungi almamaternya dan bertemu dengan mahasiswa Stovia. Kemudian, ia menyampaikan ide dan gagasannya yang ternyata mendapatkan respon positif dari Sutomo dan kawan-kawannya. Maka, rencana pembentukan organisasi Boedi Oetomo direalisasikan pada 20 Mei 1908 di Jakarta. Tujuan awal adanya organisasi ini ialah memajukan pengajaran, teknik/industri, peternakan, pertanian, perdagangan, serta kebudayaan di Indonesia.

Kongres pertama Budi Utomo digelar di Yogyakarta pada 3 Oktober hingga 5 Oktober 1908 dengan beberapa hasil pembahasan yaitu,

  1. Menyusun Pengurus Besar Boedi Oetomo dengan diketuai oleh R.A Tirtokusumo yang merupakan Bupati Karanganyar
  2. Mengesahkan AD/ART Boedi Oetomo
  3. Ruang gerak terbatas pada daerah Jawa-Madura
  4. Yogyakarta menjadi pusat organisasi

Seusai kongres, Boedi Oetomo berubah menjadi sebuah organisasi yang dikhususkan pada kalangan priyayi namun ditekankan kepada cara-cara untuk memperbaiki kehidupan masyarakat dengan lebih baik.

Dalam perjalanannya, Boedi Oetomo dianggap memiliki andil besar terhadap kemerdekaan bangsa terkhusus pada bidang pendidikan. Hal ini dibuktikan melalui adanya pendirian Studifont atau Darmawara yang berguna sebagai perkumpulan para pelajar. Bahkan, organisasi ini telah berhasil memberikan beasiswa bagi anak-anak pribumi. Selain itu, peran penting yang dimiliki Boedi Oetomo selain dalam bidang pendidikan ialah tatkala Boedi Oetomo mengajukan tuntutan agar diadakan persamaan kedudukan di mata hukum.

Usut punya usut, penetapan Hari Kebangkitan Nasional yang berdasar pada hari lahirnya Boedi Oetomo ternyata menyimpan fakta-fakta menarik dan mengejutkan. Mr. A.K. Pringgodikdo menyatakan bahwa Boedi Oetomo menolak pelaksanaan cita-cita persatuan Indonesia yang disampaikan dalam kongres Budi Utomo 1928 di Solo, yakni gerakan Jawanisme. Disebutkan dalam republika.co.id, Boedi Oetomo justru menerima keanggotaan dari Belanda. Maka, ditetapkannya kelahiran Budi Utomo sebagai Hari Kebangkitan Nasional berhasil menuai beragam tanggapan.

Menurut K.H Firdaus AN selaku mantan Majelis Syuro Sarekat Islam, Boedi Oetomo merupakan organisasi lokal etnis yang sempit dan hanya memperbolehkan orang-orang Jawa dan Madura yang bergabung menjadi anggotanya. Selain itu, mereka hanya memikirkan cara memperbaiki nasib golongannya, bukan bangsa dan negaranya.

Pramoedya Ananta Toer menilai bahwa kebangkitan nasional sudah terjadi sejak Raden Mas Tirto Adhi Soerjo membangun Sarekat Prijaji pada 1906. Selain itu, ada pula Syarikat Dagang Islamiyah yang didirikan Samanhoedi pada 1905. Sementara itu, Boedi Oetomo juga digugat karena nama yang digunakan tidak memakai kata Indonesia

Walau demikian, hingga saat ini Peringatan Hari Kebangkitan Nasional tetap dilaksanakan. Pada peringatan ke-112 yaitu tahun 2020 lalu, “Bangkit dalam Optimisme Normal Baru” diangkat sebagai tema perayaan. Sedangkan tahun ini (2021), tema yang diusung ialah “Bangkit! Kita Bangsa yang Tangguh”. Tema ini ditetepkan dengan tujuan meningkatkan optimisme masyarakat guna meraih masa depan meskipun kondisi negeri masih belum stabil akibat Covid-19.

Meskipun penetapan Hari Kebangkitan Nasional dianggap kurang tepat atau bahkan keliru, bukan berarti kita harus lepas tangan dari kewajiban kita berbangsa dan bernegara. Sudah selayaknya kita bagian dari Indonesia untuk tetap bersatu teguh menjaga persatuan dan kesatuan. Kalau bukan kita, lalu siapa?

 

Referensi:

Gunadha, R. (2017, Mei 20). Menggugat Budi Utomo pada Hari Kebangkitan Nasional. Retrieved from suara.com: https://www.suara.com/news/2017/05/20/100749/menggugat-budi-utomo-pada-hari-kebangkitan-nasional

Husda, Husaini. Rekonstruksi Sejarah Kebangkitan Nasional Banda Aceh: Universitas Islam Negeri Ar Raniry.

 

Penulis: Annisaa’ Salas Qurrota A’yun, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya 2019.

Editor: Aslamatur Rizqiyah, Fidya Azahro

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *