Mengajak Lebih Peduli Lingkungan, KAWAN Undip Adakan Webinar Terbuka

 

Potret pelaksanaan Webinar Peduli Lingkungan oleh KAWAN Undip

Warta Utama ¾ Keluarga Mahasiswa Antropologi Sosial (KAWAN) Undip adakan webinar peduli lingkungan pada Sabtu (29/5) lalu. Webinar bertajuk ‘Masyarakat Cerdas Tanggap dan Peduli Pengelolaan Lingkungan’ ini, dilaksakan secara daring melalui platform Zoom Cloud Meetings dan dihadiri oleh hampir 100 orang peserta, baik dari dalam maupun luar Undip.

Menghadirkan pembicara Selviana J. Hehanussa, seorang pemerhati lingkungan United State Agency from International Develompent (USAID), yaitu sebuah badan independen dari pemerintahan Amerika Serikat yang mengurusi bantuan di bidang ekonomi, kemanusiaan, serta pembangunan untuk negara-negara lain di dunia. Tidak hanya itu, KAWAN juga mengundang Satrio Swandiko Prillianto, seorang renewable energy campaigner dari Greenpeace Indonesia, sebuah organisasi kampanye independen yang mengungkap berbagai permasalahan lingkungan global.

Ketua KAWAN, Indah Puan Aulia, memandang pentingnya suatu kegiatan sosial yang mengangkat persoalan lingkungan.

“Saya rasa webinar bertemakan lingkungan ini sangat besar urgensinya untuk masyarakat dan saya harap pengetahuan yang didapatkan hari ini dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari untuk lingkungan bumi yang lebih baik,” ujarnya.

Pada awal materi, Satrio mengatakan sudah banyak bencana yang terjadi di Indonesia pada tahun 2021. Banjir Jakarta, sebutnya terjadi tidak lain karena tumpukan sampah. Kemudian, kebakaran hutan di Kalimantan Tengah juga terjadi akibat kegiatan buruk manusia pada lingkungan terutama korelasinya pada kondisi iklim, seperti asap pabrik dan asap kendaraan bermotor yang menyumbang emisi gas paling besar sehingga terjadi pemanasan global. Ia juga memaparkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang menyebutkan pada kurun waktu 1 Januari – 30 April 2021, bencana di Indonesia mengalami peningkatan 1% jika dibandingkan dengan tahun 2020 lalu dengan kurun waktu yang sama. Terhitung sampai April, ada sekitar 1.205 bencana yang telah terjadi di Indonesia. Bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan angin puting beliung masih mendominasi.

“Awal tahun 2021, kita tahu ada curah hujan yang lumayan cukup tinggi. Rumah saya banjir dua kali, baru bersihin terus banjir lagi malemnya. Akhirnya baru dibersihin lagi waktu paginya,” ungkapnya di sela-sela materi.

Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk menanggulanginya ialah dengan dua langkah yaitu adaptasi dan mitigasi. Adaptasi maksudnya kita sebagai manusia menyesuaikan diri dengan lingkungan agar tidak terdampak, seperti apabila hidup di wilayah yang rentan banjir, maka ada inisiatif untuk meninggikan rumah. Akan tetapi, ia menyebutkan langkah tersebut kurang efektif.

“Nggak mungkin kan, kalau tiap tahun banjir, kita naikin rumah se-meter tiap tahunnya,” ujar Satrio lagi.

Sedangkan mitigasi merupakan pendekatan untuk mengurangi dampak dari masalah itu sendiri. Contohnya permasalahan perubahan iklim. Langkah yang tepat adalah mencari penyebab dari terjadinya pemanasan global. Setelah itu, mencari solusinya seperti mengurangi kegiatan yang dapat menyebabkan timbulnya emisi karbon (dekarbonasi).

Pada sesi kedua, Selvianna J. Hehanussa mengangkat topik seputar ‘Pencemaran Lingkungan Akibat Sampah dan Air Limbah Domestik (Sanitasi)’. Contoh sampah yang banyak ditemui di lingkungan sehari-hari adalah sampah plastik. Hal ini disebabkan hampir semua kegiatan manusia, baik rumah tangga, industri, sampai pasar memerlukan benda tersebut. Langkah paling efektif untuk mengurangi penggunaannya adalah dengan membawa kantong plastik sendiri.

“Kantong plastik dari warung, besoknya kalau belanja lagi ya dibawa lagi. Pengalaman saya ke luar kota saat saya bertugas di ujung Indonesia sekaligus Papua, itu tidak ada lagi kantong kresek di warung, minimarket, ataupun tempat lain. Kalau sedang keluar, nggak bawa kantong kresek, jinjing aja belanjaan kita,” tuturnya.

Selvianna juga menjelaskan beberapa dampak yang terjadi apabila sampah tidak dikelola, seperti pencemaran lingkungan (air, tanah, dan udara), penyakit kulit, diare, DBD, banjir, sampai mahalnya tarif air PDAM.

 

Reporter: Diana Putri

Penulis: Diana Putri

Editor: Aslamatur Rizqiyah, Fidya Azahro

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *