Mahasiswa dan Belenggu ‘Produktivitas’

Ilustrasi mahasiswa dengan segala tanggung jawabnya. (Sumber: kieranblakey.co.uk)

Peristiwa – 10 Oktober merupakan hari peringatan kesehatan jiwa sedunia (World Mental Health Day). Masih seperti tahun kemarin, lagi-lagi kita harus melewati hari ini dalam situasi pandemi yang tak kunjung selesai. Pertanyaannya adalah apakah kita sudah cukup sehat secara mental selama pandemi ini?

 

Semenjak pandemi, isu kesehatan mental marak dibahas di berbagai kalangan. Keterbatasan kegiatan dan interaksi dengan sesama, masalah ekonomi, dan beban kerja di rumah menjadi faktor yang mempengaruhi kondisi jiwa dan mental seseorang. Berdasarkan data Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) pada 2020, dari 4010 orang, sebanyak 64,8% mengalami masalah psikologis. Pada tahun 2021 ini, angka tersebut dipastikan naik.

 

Rupanya, masalah mental banyak dialami oleh orang dewasa muda dengan rentang usia 18-29 tahun. Usia-usia produktif manusia yang di dalamnya terdapat satu nama sederhana. Mahasiswa. Tetapi, pada faktanya tidak sesederhana yang dilihat. Mereka sangat ‘produktif’ sepanjang pandemi ini.

 

Antara Produktivitas dan Mahasiswa

Tentu menjadi produktif adalah hal yang baik bagi mahasiswa. Ini menunjukkan bahwa mereka sadar terhadap tanggung jawab dan dedikasi mereka sebagai seorang mahasiswa. Tugas kuliah yang semakin melimpah, beban organisasi dan komunitas bagi mereka yang aktif, serta tugas-tugas lain yang harus dikerjakan demi karir yang cemerlang, contohnya magang. Tambahkan juga pekerjaan rumah tangga sebagai efek dari berkuliah di rumah yang jika tidak dilakukan dianggap tidak berbakti kepada orang tua.

 

Semua itu menjadikan mahasiswa semakin ‘produktif’. Tak henti melakukan pekerjaan yang sudah menjadi tanggung jawabnya, mereka bahkan rela mengorbankan jam tidurnya sehingga memicu pemikiran bahwa mahasiswa harus ‘produktif’.

 

“Kalo pas lagi ngga ada tanggungan dan ga ngapa-ngapain kek merasa ga produktif,” ujar Tiya, salah satu mahasiswa Undip pada Awak Manunggal.

 

Produktif sendiri menurut KBBI adalah kata sifat yang berarti memberi hasil, manfaat; menguntungkan. Artinya bahwa segala kegiatan produktif itu seharusnya mendatangkan hasil atau manfaat yang baik bagi mahasiswa. Dalam hal ini baik untuk pengembangan diri mereka. Namun, yang terjadi justru banyak mahasiswa yang mental dan jiwanya amburadul yang mengakibatkan tidak maksimal dalam setiap tugas-tugas mereka.

 

Lalu, apakah benar mahasiswa sudah produktif? Atau mereka malah terobsesi dan terjebak dalam toxic productivity?

 

Toxic Productivity merupakan kondisi saat seseorang terobsesi untuk mengembangkan diri dan merasa bersalah jika tidak bisa melakukan banyak hal. Kondisi inilah yang sedang dialami oleh mahasiswa. Setidaknya sebagian besar dari mahasiswa.

 

“Sering banget ngerasa bersalah, tapi kalau sudah sibuk, punya pikiran ‘besok harus dikurangin, nih’. Giliran dikurangin kok rasanya hampa,” terang Ully, salah satu mahasiswa Undip lain.

 

Produktivitas yang toxic ini menunjukkan kondisi kesehatan mental mahasiswa yang sebenarnya tidak baik. Mereka merasa perlu mengambil banyak peran, mengambil seluruh challenge yang ada di depan mereka, dan tidak boleh melewatkan satu kesempatan pun. Lalu, akhirnya membuat kewalahan, lelah berkepanjangan, cemas, dan terparah yaitu depresi.

 

Hadirnya situasi yang tidak pasti akibat pandemi memicu kondisi ini. Mahasiswa terbelenggu oleh pikiran dan keinginan untuk melakukan banyak hal dalam satu waktu, yang katanya demi kebaikan diri di masa depan, alias toxic productivity.

 

Magang misalnya. Saat ini sepertinya tidak ada mahasiswa yang tidak magang, alias merasa ‘harus’ magang. Di mana magang yang biasanya dilakukan oleh mahasiswa semester akhir, sekarang mahasiswa baru pun ikut magang! Segala hal yang serba daring dan kegiatan yang dirumahkan membuat mereka merasa memiliki banyak waktu luang sehingga ada dorongan untuk selalu produktif, termasuk menjalani magang.

 

Bagi sebagian mahasiswa, tentu ini menjadi hal yang menyenangkan. Tetapi tidak sedikit pula yang merasakan beban berat. Beban karena terbelenggu perasaan untuk selalu terlihat produktif, padahal masih banyak tanggung jawab lain yang mereka emban. Kemudian berakibat tidak baik bagi kesehatan mereka secara mental. Dan inilah yang kita sebut toxic productivity.

 

Mengatasi Toxic Productivity

Keinginan mahasiswa untuk produktif merupakan keinginan mulia, jika aktivitas tersebut masih dapat ditangani dan diselesaikan dengan baik. Untuk itu, mahasiswa perlu mengetahui apa motivasi dan tujuan utama mereka perlu memaksakan diri untuk terjun pada setiap kegiatan, bahkan pada yang sebenarnya bukan bagian mereka dalam kegiatan tersebut. Apakah mahasiswa benar-benar ‘butuh’ segala produktivitas tersebut, atau sebenarnya tidak melakukannya pun tidak apa-apa.

 

Evaluasi dan introspeksi juga perlu dilakukan. Seringkali mahasiswa sudah buntu saat harus mengevaluasi dirinya sendiri. Oleh karena itu, tidak apa-apa jika merasa perlu bantuan tenaga ahli seperti konsultasi ke psikolog. Ini menunjukkan bahwa mahasiswa sadar akan kesehatan jiwanya akibat toxic productivity, dan ada keinginan dalam persona mereka untuk memperbaiki diri.

 

Jangan lupakan bahwa kita sebagai mahasiswa masih manusia. Istirahat dan sedikit bersenang-senang masih sangat kita butuhkan.

 

Pada Hari Kesehatan Jiwa Sedunia ini, semoga seluruh orang, termasuk mahasiswa, semakin peduli dengan kesehatan mentalnya. Selamat berproduktivitas secara sehat. Hidup Mahasiswa!

 

Penulis: Merry Ivana

Editor: Aslamatur Rizqiyah

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top