Maafku Tak Pernah Elok

Penangkapan para simpatisan peristiwa Madiun (Sumber: historia.id)

Sastra – Dogma partai merah makin mendominasi dalam pemerintahan era Sukarno. Perselisihannya dengan kelompok militer tak kunjung padam. Presiden yang kala itu tengah berusaha menyeimbangkan kekuatan serta loyalitas kedua kubu jatuh sakit. Hal tersebut menarik banyak perhatian dari partai berhaluan kiri, kekhawatiran mencuat akibat penyakit yang menyerang Bapak Proklamator Indonesia, yang secara tidak langsung mampu melengserkan posisi PKI sebagai partai terkuat di Indonesia. 

Piye Man?”

Gundah gulana hatiku ini turut bersorak penuh kegelisahan. Segalanya seolah bertaut tertambat dalam dada nan sesak. Peluh berkucur deras tak tahu arah,  berkelok menyusuri hidung pesek serta pori-pori terpampang jelas. Kedua bibir terkatup gemetar sembari berdesis pelan.

“Man, tak tunggu tulisanmu lusa. Piye carane! (bagaimanapun caranya!)” 

Telepon terhenti tepat saat kukatupkan kembali kedua bibir yang hampir saja meleleh. Kedua alis bertaut membentuk satu garis lurus penuh kerut. Seolah benang kusut penuh lilitan yang bahkan tak dapat sekalipun diputus. Semakin hari rantai makin memanjang, diujungnya tertanam gembok tanpa kunci penuh pergulatan. 

Pintu terketuk, wanita tengah baya tergopoh-gopoh memasuki kamar. Raut wajahnya pucat bukan kepalang, tangannya menunjuk-nunjuk ruang tengah yang kian membisu. “Mas, anakmu mas! Ia sudah tidak menangis lagi!”

“Kita berangkat sekarang!” 

Langkahku gemetar menggendong bayi mungil dalam dekapan. Tubuhnya kecil kurang gizi, rambut belum tumbuh walau sehelai, wajahnya pucat kemerahan. Sudah hampir tiga hari lamanya ia panas tak teratur, makin kurus semakin harinya. 

“Sabar dik, sabar. Sebentar lagi sampai…” aku terus menggumam, menatap wanita di sampingku sibuk menahan tangis. Bibirnya komat-kamit melantunkan doa. Kain kusut nan sempit menghambatnya berjalan cepat, tanpa alas kaki sesekali mengaduh tersandung batu.

Pukul satu malam rumah bercat putih tulang telah tertutup rapat. Lampu dalam dimatikan, hening sunyi tak bersuara. Desis jangkrik bersahutan hanyut dalam irama tangis istriku.

Perlahan kuberanikan diri untuk mengetuk pintu, tak ada jawaban. Nampaknya dokter desa satu-satunya itu kelelahan usai bekerja seharian. Entah berapa lama kami hanya membisu di ambang pintu tanpa harapan, hingga salah seorang lelaki tua menepuk bahuku. Senyumnya khas mematikan.

“Mari, Pak Karman.”

*****

Desis mesin ketik menjerit merajut rangkaian kata penuh drama. Asing, nyaring, memekakkan telinga. Tiap-tiap katanya membenamkan siluet tajam, memadamkan seluruh jati diriku. Seluruh pikiranku tak lagi mampu terforsir jelas, segalanya seolah berlalu bak rangkaian kereta api cepat melaju. Melaju, terus melaju bercabang kusutkan benang merah padam. Benang partai merah.

Kubenamkan diri pada rangkaian kata haluan kiri. Berbagai buku juga jurnal kulahap dalam sekejap, kemudian melahirkan ratusan karya yang mendominasi pergerakan partai. Golongan kami makin melejit, melangkah di atas udara melambung menjalin relasi bersama sang proklamator. 

Omong kosong roda hidup. Roda hidupku mungkin saja bocor kemudian kempes. Tersungkur masuk kali menerjang arus, tak bermuara. Melaju hingga ke perairan besar bernama samudra, terseret ombak menggelayut kesana kemari tak tentu arah, sesekali paus serta ikan pari mencoba melahap. Makin kempes, tinggal separuh, yah itulah separuh hidupku.

Jati diriku telah kulepaskan demi sepeser uang dan sesuap nasi. Semuanya telah terjadi, Aku telah termakan oleh langit-langit mulut ikan pari, bentangan tubuh besar membuatku seolah terperangkap dalam ruangan luas tak berpenghujung. Tak berpintu, sesak penuh manusia haus kekuasaan. Berusaha melengserkan pemerintahan.

Mataku sayu, sayup-sayup kupandangi sudut ruangan dengan anggota baru yang melonjak signifikan. Baju lusuh compang-camping, tanpa alas kaki berharap cemas akan kehidupan yang lebih baik. Persis sepertiku dulu yang hanya bermodalkan kemampuan menulis seadanya, tepat saat Pak Panji menggiringku kemari usai buah hatiku berhasil diselamatkan. Tiga tahun yang lalu.

Pagi ini rapat besar-besaran resmi digelar oleh pimpinan partai. Lahan luas berpasir terasa sempit oleh lautan manusia. Gencar sekali petinggi partai menggembar-gemborkan suaranya. Pendapat serta usulan demokratis bagi para kaum buruh berhasil merangkul ribuan pribumi. Polos sekali mereka berteriak menyuarakan kemerdekaan yang tinggallah angan. Kami telah merdeka, dua puluh tahun lalu. Namun, kemerdekaan itu hilang, musnah, diterkam kaum bangsawan.

Teriakan serta harapan kesetaraan status sosial menjadi senjata tajam partai kami. Menarik suara kaum buruh serta tani, menggelembungkan partai secara drastis. Koran juga karya tulis yang kuhasilkan sebagai juru tulis rupanya berdampak lebih. Bukan bagi mereka dari kelas bawah yang tentu tak memiliki kemampuan membaca, namun memicu amarah tentara militer yang dengan keras menolak ajaran kami. Indonesia Komunis!

Ayahku seorang muslim taat, begitu pula ibuku, istriku, juga buah hatiku. Aku pun demikian. Mengimami keluarga kecilku ialah tugas yang tak mampu kuingkari. Tak lebih dari itu. Pintu kamar terkunci rapat tak perbolehkan siapapun memasukinya. Disitulah pikiranku mengalir, melalui tulisan-tulisan kiri tanpa tuliskan identitas penulis. Dengan sangat hati-hati kusimpan jerih payahku ini. Itulah rantai kehidupan, rantai partai yang sekalipun tak dapat kuputus.

Lembaran demi lembaran buku seolah melahap perlahan jati diri ini. Benakku yang gundah menjadi yakin, yakinkan diri tuk terus hanyut dalam arus gejolak pemerintahan. Rapat yang kali ini digelar ialah yang terbesar dari sebelumnya. Kami berkumpul rapi mengelilingi meja, mendengar gelegar aksi malam hari ini. 

“Merdeka Indonesia! Merdeka kaum buruh!”

“MERDEKA!”

“Merdeka Indonesia! Merdeka kaum buruh!”

“MERDEKA!”

Satu persatu rakyat berangsur pergi, langkahnya bergemuruh mencari jalan, sesak menegangkan. Rapat akan terus dilanjut, menuju puncak diskusi hari ini yang hanya dihadiri oleh sekian orang, usai selebihnya pergi meninggalkan ruangan. Rapat tertutup, pembicaraan rahasia, yang kemudian dimulai beberapa saat setelah tamu istimewa kami hadir.

Malam berdarah. 

*****

Hening. Sunyi. Senyap. Dingin menyelimuti malam. Kurus kering tubuh ini akibat pelarian hampir tiga bulan lamanya. Berpindah-pindah dari satu desa ke desa lainnya, mencari lahan kosong tuk sekadar berbaring pada tiap malamnya. 

Pikiran berkecamuk tak karuan. Mulut hanya bungkam namun benak terus berdalih. Mencari-cari sosok yang perlu bahkan pantas tuk disalahkan. Tapi lagi-lagi aku terpaku. Rumah kecilku yang telah lama kutinggalkan. Entah bagaimana keadaan kedua wanitaku. Mereka bahkan tak tahu  bahwa diri ini ialah salah satu dari sekelompok manusia yang tengah gencar diburu.

Rasa cemas juga takut saling bertaut, membentuk lingkaran setan penuh amarah. Khawatir merajalela, mencari muara yang tak kunjung temu. Batin bergejolak tak karuan, nelangsa kesengsaraan. Lubang buaya menjadi saksi perlawanan. Tumpah darah tercurah dalam lubang perseteruan. Malam berdarah tiga puluh September, puncak kemarahan kami. Partai merah.

Pagi-pagi sekali aku sudah melangkah pergi, cukup tiga malam pada setiap persinggahannya kemudian akan kembali berkelana mencari ruang kosong untuk tiga hari selanjutnya. Pengintaian masih terus berlanjut, tentara militer ganas menjebloskan pribumi yang dianggap kiri, dieksekusi dibunuh mati.

Tiga bulan lamanya tak juga meredakan pembantaian kaum PKI. Segalanya telah musnah, hancur tak bersisa. Jutaan jiwa melayang bahkan mereka yang tak bersalah sekalipun. Tanpa ragu menggiring wanita juga anak kecil keluarga PKI, hidup dalam penuh ketidakpastian di balik jeruji besi. 

Kumantapkan kaki tuk terus melangkah, keluar persembunyian tepat sebelum matahari terbit. Sudah tiga bulan maka kuputuskan untuk kembali. Setidaknya untuk berkumpul sejenak dengan sanak saudara kemudian kembali melarikan diri. Sebentar, hanya sebentar saja.

DORR!

Peluru itu tepat mengenai pergelangan kakiku. Terseok-seok aku melangkah demi sekadar tuk bertegur sapa. Namun aku telah tertangkap. Melingkar rantai besar di kedua tangan serta kaki, menyeretku tak berperasaan. Menghempasku pada mobil penuh manusia berlabelkan PKI.

Hilang, hilang sudah segalanya. Rumah kecilku telah kosong, tertulis besar-besar bahwa telah tersita pemerintah. Mungkin, mungkin saja dengan kedua wanitaku. Hilang arah, bak pohon telanjang tak berdaun. Berpisah tanpa salam perpisahan. Kini diri ini hanya seonggok tangkai tak berdaun, tak berbunga. Terseok-seok menangisi segala yang tak pernah elok.

*****

Penulis : Nadzira Inas Waluyo

Editor : Andaru Surya, Salsa Puspita

 

Scroll to Top