Hysteria Adakan Mini Muralfest: Seniman Mural Warnai Dinding Kampung Petemesan

Tur perkenalan mural-mural di Mini Muralfest oleh penyelenggara pada Sabtu (11/4) di Kampung Petemesan, Pekojan, Kota Semarang (Sumber: Manunggal)

Warta Utama – Komunitas Kolektif Hysteria atau yang dikenal sebagai Hysteria, komunitas seni budaya independen dari Kota Semarang, menginisiasi acara Mini Muralfest di Kampung Petemesan, Kelurahan Purwodinatan, Pekojan, Kota Semarang. Acara tersebut merupakan kegiatan utama dari program Hysteria dengan tajuk “Untuk Perhatian 8: Mini Muralfest Petemesan Pekojan” yang dilaksanakan selama 16 hari, tepatnya dari Jumat (27/3) hingga Minggu (12/4). Sebanyak 22 seniman dan perwakilan kesatuan dari Semarang, Rembang, Kendal, Tangerang, dan Surabaya hadir untuk mengisi dinding-dinding jalan, toko, hingga rumah warga Kampung Petemesan dengan berbagai lukisan mural. 

Mini Muralfest mengusung tema dengan slogan “Aturen Awuren”. Slogan tersebut bermakna bahwa mural bukan diposisikan sebagai dekorasi, melainkan praktik yang menggambarkan kompleksitas, serta sebagai hasil negosiasi antara seniman, ruang, dan publik. Para seniman juga dibebaskan untuk melukis mural berdasarkan cara pandang mereka terhadap ruang publik. 

Kurator program dalam acara tersebut, Winatra Wicaksana mengatakan bahwa Hysteria mencoba untuk menjalankan program-program berbasis kesenian. Ia juga menjelaskan bahwa Hysteria ingin mengenalkan karya seni para seniman tersebut kepada banyak orang.

“Di tahun ke-21 (Hysteria) ini, kami juga punya manifesto semacam tagline (slogan), namanya ‘Aturen Awuren’, yang mana memang kami coba untuk berdiri di kaki sendiri (berdikari) untuk menjalankan program dan juga basis-basis kesenian yang kami pegang,” kata Winatra saat diwawancarai Awak Manunggal pada Sabtu (11/4).

Winatra juga menambahkan bahwa Kampung Petemesan dipilih sebagai kampung yang tepat untuk dijadikan lokasi acara. Ia mengungkapkan bahwa banyaknya anak muda yang datang ke kawasan Pekojan menjadi peluang untuk mengenalkan Kampung Petemesan lewat mural-mural tersebut.

“Jadi kami ingin coba untuk memasukkan (peluang untuk mengenalkan Kampung Petemesan) ke dalam kampungnya, yang mana coba dielaborasikan lewat program kami yang memang mural, terus kayak banyak dinamika yang terjadi, jadi mengubah kampung secara visual,” ungkap Winatra. 

Ketua Rukun Tetangga (RT) di Kampung Petemesan, tepatnya RT 03, Rukun Warga (RW) 04 Kelurahan Purwodinatan, Aris Kurniawan menceritakan bahwa Kampung Petemesan sudah sejak lama berkolaborasi dengan Hysteria. 

“Di tahun 2016, kalau tidak salah, kita juga pernah mengadakan upacara juga di wilayah kampung sini, semuanya dari remaja, anak-anak, dari bapak-bapak, ibu-ibu ikut upacara. Itu adalah dorongan dari teman-teman Hysteria,” jelas Aris saat diwawancarai oleh Awak Manunggal pada Sabtu (11/2).

Selain itu, Aris mengatakan bahwa Hysteria tidak hanya mengadakan acara kesenian, melainkan juga berkontribusi pada pendidikan karakter dan sopan santun warga sekitar, terutama anak-anak dan remaja. 

“Kita kilas balik tadi kan bahwasanya mereka datang bukan untuk seni dulu ya, mereka datang untuk, ini loh, masalahmu, di kampungmu ada masalah, ini anak-anak mudamu ternyata memang tata cara sopan santunnya masih kurang,” terang Aris.

Aris juga menuturkan bahwa hal tersebut menjadi salah satu alasan Kampung Petemesan menerima kerja sama dengan Hysteria.

“Itu menjadi suatu perhatian tersendiri bagi teman-teman di Hysteria pada waktu itu, bagaimana untuk mengubah perilaku itu, jadi kerja samanya sampai sekarang seperti itu,” tutur Aris.

Tidak hanya itu, Aris pun mengungkapkan bahwa Mini Muralfest memunculkan pertimbangan terkait tantangan yang hadir, seperti jalan keluar-masuk yang terganggu. Hal tersebut dikarenakan Kampung Petemesan berada di gang-gang buntu, sehingga dapat menyulitkan akses jalan. Keadaan tersebut juga yang menjadikan Kampung Petemesan dikenal sebagai “Kampung Buntu”. Meskipun demikian, warga sepakat dan tetap antusias untuk bekerja sama mengadakan Mini Muralfest

“Mereka akhirnya bisa menerima toleransi itu karena memang ditekankan dari kita yang pendahulu bahwa Petemesan itu harus punya nilai jual, harus punya nilai tawar karena nyuwun sewu (maaf), di wilayah kita kan terhimpit dari wilayah pergudangan, pertokoan,” ucap Aris. 

Aris menekankan bahwa Kampung Petemesan harus menjadi kampung yang aktif agar eksistensinya tetap terjaga.

“Kalau kita nggak aktif, kita akan tergusur, kampung kita akan hilang. Jadi itu menjadi dasar pokok dari warga untuk, yuk, kita harus ada, kita harus eksis untuk menjaga kampung kita,” tambah Aris.

 

Karya Mural dan Filosofi 

Mini Muralfest menghadirkan para seniman dengan karya muralnya masing-masing, yakni sebagai berikut:

1. Akbar Walkink – “Asymmetrical Balance”

Mural “Asymmetrical Balance” karya Akbar Walkink (Sumber: Manunggal)

Melalui mural  “Asymmetrical Balance”, terdapat kesan berbagai harmoni sebagai bentuk penggambaran kehidupan manusia. Akbar Walkink juga mencoba menyampaikan terkait berbagai komposisi kehidupan yang tidak selamanya berjalan dengan proporsi setara. Akan tetapi, dalam perbedaan tersebut terdapat keindahan yang dapat dilihat. Kunci keindahan itu pula sebagai proses penerimaan dan fleksibilitas.

2. Yogahya – “Existence”

Mural “Existence” karya Yogahya (Sumber: Katalog Karya Mini Muralfest)

Mural “Existence” bermakna ekosistem dan eksistensialisme. Mural tersebut berlatar belakang pada masalah krisis identitas yang kerap dirasakan oleh anak muda. Selain itu, mural hewan yang ada pada karya Yogahya ini menegaskan bahwa, manusia tidak sama dengan hewan. Maksud kalimat tersebut mengacu pada ekosistem keduanya. Manusia tidak seperti hewan yang telah ditentukan tempat tinggalnya, melainkan dapat memilih tempat untuk hidup dan tumbuh.

3. Hysteria Artlab x Nippon Paint

Mural Hysteria Artlab x Nippon Paint
(Sumber: Manunggal)

Mural Hysteria Artlab x Nippon Paint mengandung pesan bahwa kerja sama antara Hysteria Artlab dan Nippon Paint telah tuntas. Melalui ikon Bubbly dan Si Toa Hysteria, keduanya menggambarkan kolaborasi dan akan terus memberikan peluang dari berbagai sudut Petemesan.

4. Rudy Murdock – “NO ART NO FUTURE”

Mural “NO ART NO FUTURE” karya Rudy Murdock (Sumber: Manunggal)

Mural  “NO ART NO FUTURE” membawa pesan terkait peran seni terhadap peradaban manusia. Melalui seni, seseorang mendapatkan rekam jejak kehidupannya. Kehangatan yang dihasilkan seni, mulai dari segi ekspresi, empati, dan makna memberikan semangat kehidupan. Manusia akan tetap menemukan masa depan meskipun tidak ada seni di dalamnya. Namun, manusia juga akan kehilangan jati dirinya. 

5. Djoko Susilo – “To Be Present”

Mural “To Be Present” karya Djoko Susilo (Sumber: Manunggal)

Melalui mural  “To Be Present”, Djoko Susilo membawakan pesan mengenai berbagai konflik yang terjadi akhir-akhir ini. Sebagian besar fenomena di negeri ini adalah sesuatu yang negatif. Hal tersebut menyebabkan munculnya rasa muak dan jengkel. Di sisi lain, Djoko Susilo juga menyampaikan bahwa permasalahan di sekitar kita dapat menjadi sesuatu yang kecil apabila manusia hanya merasa bodo amat

6. Arthawala – “Rasa & Rakit”

Mural “Rasa & Rakit” karya Arthawala (Sumber: Katalog Karya Mini Muralfest)

Mural “Rasa & Rakit” menggambarkan kehidupan kampung di tengah Kota Semarang. Di dalamnya, masih dapat ditemukan interaksi hangat antar-warga dengan rutinitas kehidupan, gotong royong, dan musyawarah yang  menjadi kunci keharmonisan. 

7. Yuls – “Bersemi di Petemesan”

Mural “Bersemi di Petemesan” karya Yuls (Sumber: Manunggal)

Mural “Bersemi di Petemesan” bermakna bahwa Kampung Petemesan tetap bertumbuh di tengah pesatnya perkembangan kota. Melalui mural tersebut, Yuls ingin semua orang mengetahui, melihat, dan mendengar cara masyarakat Kampung Petemesan merawat tempat tinggal mereka.

8. Ikatan Remaja (IR) Petemesan – “Wani Ngatur, Wani Pitutur”

Mural “Wani Ngatur Wani Pitutur” karya IR Petemesan (Sumber: Manunggal)

Karakter Hanoman pada mural  “Wani Ngatur, Wani Pitutur” melambangkan petuah terhadap kebajikan yang harus selalu diperjuangkan. Hasil yang dituai nantinya juga bukan atas dasar pribadi, melainkan untuk kepentingan bersama. Selain itu, karakter Hanoman memiliki persamaan karakter dengan IR Petemesan. 

9. Hanalogi Semata – “Lapisan Waktu”

Mural “Lapisan Waktu” karya Hanalogi Semata (Sumber: Manunggal)

Melalui mural “Lapisan Waktu”, Hanalogi Semata menggambarkan jejak sejarah Petemesan. Penggambaran tersebut mencerminkan sebuah tempat akan terus mengalami perubahan. 

10. Polo Triuns – “Are You Okay?”

Mural “Are You Okay?” karya Polo Triuns (Sumber: Katalog Karya Mini Muralfest)

Mural “Are You Okay?” menyoroti salah satu fenomena yang terjadi di sekitar, yakni Fear of Missing Out (FOMO). Fenomena ini merupakan segala perasaan cemas, takut, dan gelisah karena merasa tertinggal dari tren dan pengalaman terbaru yang dinikmati oleh orang lain. Tanpa disadari, fenomena FOMO mengakibatkan hilangnya arah dan rasa syukur pada diri manusia. Melalui mural tersebut, Polo Triuns mengajak manusia untuk lebih menyadari kebahagiaan masing-masing. 

11. Stokemaki – “Oasis”

Mural “Oasis” menggambarkan perkembangan kota dan dunia yang semakin ramai. Perkembangan tersebut dapat diciptakan melalui ruang-ruang yang ada. Proses tersebut akan menjumpai serangkaian tantangan, tetapi hal tersebut akan dapat teratasi.

12. ZHWN – “Spontan”

Mural “Spontan” menyatukan keteraturan dan kebebasan dalam satu karya bermakna ganda. Selain itu, mural tersebut juga sebagai respons terhadap “Overlap & Overlay” atas figur manusia yang terbagi oleh lapisan-lapisan. 

Mural “Spontan” karya ZHWN (Sumber: Manunggal)

Selain itu, terdapat figur menutup wajah pada mural yang menggambarkan keresahan dan ketidaknyamanan. Pada intinya, pesan yang ingin dibawakan ZHWN melalui mural tersebut adalah keberlanjutan kehidupan yang dapat muncul akibat tumpang tindih yang dinamis dan ketidaksempurnaan yang terus bergerak.

13. Sirril Wafa – “(KUDA)PAN RIMANG”

Mural  “(KUDA)PAN RIMANG” karya Sirril Wafa (Sumber: Manunggal)

Mural “(KUDA)PAN RIMANG”  menggambarkan bentuk penceritaan sesuatu desas-desus bagaikan kuda. Senantiasa berkembang cepat seiring dengan tersebarnya cerita. Penutur cerita digambarkan sebagai warga Kampung Petemesan yang senantiasa merawat ingatan akan asal-usul Kampung Petemesan. 

14. Yehezkiel Cyndo – “Believe”

Mural  “Believe” karya Yehezkiel Cyndo (Sumber: Manunggal)

Mural “Believe” merepresentasikan kebiasaan yang senantiasa dibawa sejak kecil, yakni proses memercayai sesuatu dengan cara sederhana. Kepercayaan diucapkan bersamaan dengan rutinitas sederhana, seperti membaca buku di atas pohon nangka. Hasil dari kepercayaan tersebut akan dituai menjadi beberapa kejadian pada kehidupan nyata.

15. The Java Cats “Stray”

Mural “Stray” karya The Java Cats (Sumber: Instagram/@thejavacats)

Mural “Stray” menggambarkan kepribadian The Java Cats sebagai kelompok musik yang berasal dari kalangan mahasiswa seni rupa.  The Java Cats mengadopsi sifat kucing Jawa yang liar. Mereka ingin bebas mengeksplorasi genre musik tanpa mengindahkan stereotip masyarakat. 

16. Blur Temple “Pray or Pay?”

Mural  “Pray or Pay?” karya Blur Temple (Sumber: Manunggal)

Mural “Pray or Pay?” menggambarkan perempuan Bali yang harus memikul dua beban dan tuntutan, yakni pelestarian tradisi dan penopang ekonomi. Hal tersebut berjalan secara bersamaan, sehingga perempuan Bali tidak dapat memilih. Mereka hanya bisa ikhlas dengan kehidupannya.

17. HOKG – “Keluarga Kelinci”

Mural  “Keluarga Kelinci” karya HOKG (Sumber: Manunggal)

Melalui mural “Keluarga Kelinci”, HOKG menceritakan terkait ide awal pelukisan mural yang berasal dari Kampung Petemesan sendiri. Lukisan kelinci pada mural berasal dari judul lagu ‘Gang Kelinci’ karya Lilis Suryani. Di dalam mural juga terdapat proses interaksi ibu kelinci dengan anak-anaknya. Hal tersebut juga menggambarkan kehangatan dan kekeluargaan yang dimiliki Kampung Petemesan.

18. Inonkinonk – “I’ll take you HOME”

Mural “I’ll take you HOME” karya Inonkinonk yang masih dalam proses pengerjaan (Sumber: Manunggal)

Melalui mural “I’ll take you HOME”, Inonkinonk menggambarkan rumah sebagai tempat individu merasa dicintai. Tidak hanya itu, mural tersebut memiliki pesan terkait rumah yang dikembalikan kepada publik. Hal tersebut memiliki arti bahwa setiap individu bebas memaknai rumah seperti apa. 

19. Deny PLDK, Edy Bonetski, Iyung Sunyoto, dan Yudhistira Iqbal  – DITAMPART

Mural  “DITAMPART” karya  Edy Bonetski dan Iyung Sunyoto (Sumber: Manunggal)

Sesi tanya jawab kepada para seniman mengenai kesan dan kesulitan selama proses pengerjaan mural. (Sumber: Manunggal)

Salah satu rangkaian acara Mini Muralfest adalah Wicara Seniman atau Artist Talk. Acara tersebut menghadirkan beberapa seniman yang berkontribusi dalam menyumbangkan karyanya dalam Mini Muralfest. Para seniman yang hadir akan menceritakan tentang karya dan tantangan yang dihadapi selama proses pembuatan mural. 

Akbar Walkink turut membagikan tantangan yang Ia hadapi selama proses pembuatan karya. Akbar menyebutkan bahwa media mural, yaitu tembok tinggi dengan posisi di area gang sempit menjadi tantangan tersendiri. Selain itu, diperlukan penyesuaian waktu antara proses pengerjaan dengan ritme aktivitas warga. 

Selain Akbar Walkink, Yuls yang akrab disapa Mbak Yul mengungkapkan bahwa terdapat kebahagiaan tersendiri ketika melukis mural di tembok yang cukup besar. Baginya, mural “Bersemi di Petemesan” merupakan lukisan terbesar yang pernah dibuatnya selama ini. 

Mbak Yul juga menyebutkan terkait karyanya di Muralfest yang berupa objek bunga. Hal tersebut didasari atas keinginan Mbak Yul untuk membawa identitas Kampung Petemesan dalam hasil karyanya. Pemilihan bunga sebagai objek dilihat sebagai proses di kehidupan nyata yang senantiasa berkembang pada waktunya.

Selain itu, Arthawala pun turut membagikan pengalamannya selama mengerjakan mural. Ia mengungkapkan bahwa tantangan yang dihadapi selama proses pengerjaan mural adalah penentuan dan pencampuran warna. Hal tersebut dikarenakan satu mural dilukis oleh banyak orang. Meskipun demikian, kerja sama tersebut berdampak positif banyaknya orang membuat pekerjaan menjadi lebih cepat dan ringan. Bagi Arthawala, melukis di tempat tinggi dengan media tembok yang besar juga menjadi pengalaman pertama baginya. 

Perlu diketahui bahwa Anggota Komisi 7 Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI) Samuel Job David (JD) Wattimena turut hadir dalam acara Mini Muralfest. Samuel datang berkunjung untuk memberikan apresiasi atas mural-mural di Kampung Petemesan tersebut. 

“Ini tindak lanjutnya bahwa saya pribadi hadir di sini beberapa kali, bahwa saya pribadi mengundang teman-teman dari DPR Kota maupun DPR Provinsi. Ini tindak lanjut dan ini bagian dari tugas saya untuk pengawasan,” kata Samuel saat diwawancarai oleh Awak Manunggal pada Sabtu (11/4). 

Samuel berharap para seniman tidak hanya menyumbang karyanya untuk dinikmati masyarakat, melainkan juga mengenalkan kegiatan kesenian ke berbagai daerah lainnya.

Salah satu warga Kampung Petemesan, Rini memberikan tanggapannya mengenai kegiatan Muralfest. Ia berpendapat bahwa Kampung Petemesan menjadi lebih bagus karena dihiasi berbagai mural sepanjang jalannya. 

“Ya kalau kampung kita kan dibuat kayak gini bagus, Mbak, suka gitu loh, banyak yang datang pada foto-foto,” tutur Rini saat diwawancarai oleh Awak Manunggal pada Sabtu (11/4).

Selain Rini, warga Kampung Petemesan lainnya, Indah juga turut memberikan pendapatnya. Baginya, Muralfest menjadi peluang untuk mengenalkan Kampung Petemesan kepada lebih banyak orang.

“Jadi untuk kampung terkenal, dulunya kan pasif, dulunya kan jarang tahu kampung ini, pada nggak tahu Kampung Petemesan itu seperti apa, kan nggak tahu, Mbak. Biasanya orang tahu kampungnya Kampung Buntu saja, jarang orang masuk,” ucap Indah.

Dengan demikian, kegiatan Mini Muralfest bukan hanya sebagai ajang untuk memperindah jalanan Kampung Petemesan, melainkan juga memberikan makna perubahan bagi Kampung Petemesan itu sendiri.

 

Reporter: Salwa Hunafa, Najwa Hanindya, Tialova Rafita, Alya Nabilah

Penulis: Salwa Hunafa, Tialova Rafita

Editor: Salsa Puspita, Andaru Surya

Scroll to Top