Hari Musik Nasional: Menilik Perjalanan Panjang Seni Musik di Indonesia

Penampilan Musik Keroncong oleh Endah Laras, Danis Sugiyanto, dan Kelompok Keroncong Rumput University of Richmond di Galeri Fleer & Sackler, Washington, D.C, Amerika Serikat pada Minggu (5/10/2019) (Sumber: kemenparekraf.go.id)

 

Apresiasi – Industri musik Indonesia telah mengalami perjalanan panjang nan berkelok. Sejak masa kolonial hingga kini, Indonesia telah menjajal banyak genre musik. Indonesia juga menjadi gudang bagi musisi-musisi berbakat.

Sebelum kemerdekaan, Indonesia telah melalui lika-liku penjajahan yang menyebabkan musik pada zaman tersebut sangat dipengaruhi oleh gaya Barat. Salah satu gaya musik yang muncul pada masa ini adalah musik keroncong. Penelitian yang dilakukan Purwanto (2014) menunjukkan bahwa keroncong awalnya merupakan alat musik rakyat yang berasal dari Malaka. Lalu, datanglah kaum Portugis sehingga musik keroncong disesuaikan dengan gaya Eropa menggunakan instrumen klasik seperti biola dan gitar.

Pada masa awal kemerdekaan, fungsi utama musik adalah sebagai alat politik. Musisi kondang, Ismail Marzuki, cukup dikenal dengan lagu-lagunya yang kini dikategorikan sebagai lagu nasional menjadi salah satu contoh bahwa musik masih digunakan untuk membangkitkan semangat nasionalisme rakyat Indonesia. Mahakaryanya yang populer yakni “Halo-Halo Bandung” dan “Rayuan Pulau Kelapa”.

Setelah masa kemerdekaan, musik di Indonesia masih dipengaruhi oleh budaya Barat. Masyarakat, khususnya kaum muda pada masa itu lebih gemar mendengarkan musik Amerika. Hal ini membawa industri musik Indonesia mengeksplor lebih banyak genre seperti pop, jazz, dan rock yang tak lepas dari pengaruh media, termasuk radio dan televisi.

Musik mulai ditayangkan melalui beragam media Indonesia sejak tahun 1960-an. Maraknya musik Barat pada saat itu cukup mengancam keberadaan musik tradisional Indonesia. Oleh karena itu, muncullah pegiat musik seperti Addie MS dan Erwin Gutawa. Mereka mengombinasikan musik tradisional dengan percikan musik Barat sehingga lebih mudah diterima oleh telinga masyarakat. Grup musik seperti Koes Plus, The Rollies, dan Dara Puspita mulai muncul ke permukaan dengan lagunya yang khas. Selain grup musik, penyanyi solo juga tak kalah mengepakkan sayapnya. Mereka termasuk Chrisye, Titiek Puspa, dan Bing Slamet.

Di era yang sama, musik dangdut mulai menjarah kehidupan masyarakat. Sejalan dengan itu, Orkes Melayu juga mulai banyak muncul di Jakarta yang melahirkan idola dangdut, Ellya Khadam yang menjadi bagian dari Orkes Melayu Kelana Ria. Karyanya yang banyak diminati adalah “Boneka dari India” dan “Pergi Tanpa Pesan”.

Memasuki tahun 70-an, tak sedikit musisi yang terinspirasi dari musik Barat, seperti genre rock dan blues. Mereka mengombinasikannya dengan musik tradisional sehingga melahirkan genre baru yang dikenal dengan nama fusion atau progressive. Musisi yang menggaet cukup banyak perhatian pada masa ini diantaranya yakni Gombloh, God Bless, dan Benny Soebardja. Ahli musik Indonesia, Andre N. Weintraub, mengungkapkan bahwa lirik yang dibawakan musisi pada era ini cenderung kritis terkait kondisi sosial politik, tetapi tetap kreatif. Mereka juga terbuka untuk mengeksplor berbagai genre baru.

Selain musik fusion, dangdut juga masih menunjukkan perkembangan yang signifikan. Dangdut mulai banyak ditayangkan di media seperti radio dan televisi. Pedangdut Rhoma Irama yang telah merintis kariernya sejak tahun 60-an, akhirnya membentuk grup dengan nama Soneta pada tahun 1973.

Tahun 1980-an menjadi masa kejayaan bagi musik pop di Indonesia. Salah satu penyanyi pop tersohor, Chrisye, turut melahirkan berbagai karya legendaris yang masih diminati hingga kini. Lagunya, “Kala Cinta Menggoda” dan “Lilin-Lilin Kecil” adalah sebagian kecil dari karyanya yang tak lekang oleh waktu. Musiknya mengandung renjisan musik rock dan funk.

Iwan Fals juga menjadi salah satu yang cukup populer pada masa ini. Lagunya berisi pesan sosial yang esensial bagi masyarakat saat itu. “Bento” dan “Orang Pinggiran” contohnya. Selain Chrisye dan Iwan Fals, penyanyi wanita Hetty Koes Endang dan Betharia Sonata juga turut menaiki tangga musik dengan lagu-lagu mereka. Hetty Koes Endang dengan lagunya yang khas mengusung tema etnis seperti “Kuda Lumping” dan “Berdiri Bulu Romaku”, sementara Betharia Sonata beserta musik romantisnya yakni “Hati yang Luka” dan “Kau Tercipta Untukku”.

Musik di era 1990-an hingga kini mengalami perkembangan dan transformasi yang cukup pesat. Muncul berbagai genre baru yang memperkaya keragaman musik di Indonesia. Sejak awal 90-an, musik menjadi kian diminati oleh hampir seluruh kalangan masyarakat. Selain pop, genre baru seperti rock alternatif, hip-hop, dan rap juga tak kalah populer. Grup musik Slank menjadi legenda dalam eksistensi genre musik rock pada masa itu. Sementara itu, genre rap punya Iwa K sebagai ikonnya. Neo dan Black Brother mulai menaiki tangga musik melalui lagunya yang bernuansa hip-hop.

Nidji, Dewa 19, Peterpan, dan Gigi menjadi bintang musik pop Indonesia pada tahun 2000 awal. Tak mau kalah, musik dangdut juga mengalami popularitas yang cukup tinggi di era ini hingga pertengahan tahun 2000-an. Inul Daratista, Siti Badriah, dan Rhoma Irama adalah tiga di antara bertaburnya bintang dangdut di Indonesia.

Saat ini, teknologi dan internet memudahkan manusia mengakses berbagai hal termasuk musik. Masyarakat sudah lebih terbuka terhadap musik-musik yang berasal dari luar negeri seperti lagu Barat dan Korean Populer Music (K-Pop). Meski begitu, eksistensi lagu Indonesia juga tak kalah diperhitungkan.

Pada dekade berikutnya, muncul genre yang hingga kini masih merajai tangga musik lokal yakni Electronic Dance Music (EDM) dan Indie. Payung Teduh, Bernadya, dan Tulus merupakan musisi yang hingga kini masih populer dengan musik Indienya. Selain musik Indie, lagu bertema retro kini kembali populer di kalangan muda-mudi Indonesia. Lagu seperti “Waking Up Together With You” oleh Ardhito Pramono, “Terakhir Kali” milik Wijaya 80s, dan “Bunga Maaf” dari grup musik The Lantis mendapatkan perhatian yang sangat tinggi.

Musik telah hadir menjadi bagian dari sejarah dan perjuangan bangsa. Untuk itu, pemerintah menetapkan Hari Musik Nasional setiap tanggal 9 Maret sebagai wadah untuk menghaturkan apresiasi bagi mereka, para pegiat seni musik di Indonesia yang telah melahirkan karya yang luar biasa. Karya yang merepresentasikan suara rakyat, karya yang mengkritik, atau bahkan karya yang menjadi penghibur di sela hari yang runyam. Mereka, musisi dan karyanya yang tak lekang oleh waktu.

Selamat Hari Musik Nasional!

 

Penulis: Raisya Nurul Khairani 

Editor: Nuzulul Magfiroh, Nurjannah

 

Referensi

Good News From Indonesia. (Februari 27, 2023). Menelusuri Jejak Karya Seni Musik Indonesia dari Masa ke Masa. Diakses melalui https://www.goodnewsfromindonesia.id/short/terus-tingkatkan-kualitas-70-wasit-liga-2-dan-13-wasit-liga-3-ikuti-training-var-dan-avar0melalui%20Keputusan,terhadap%20sejarah%20dan%20pengorbanan%20bangsa.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. (Agustus 2, 2021). Transformasi Musik Dangdut dari Masa ke Masa. Diakses melalui https://kemenparekraf.go.id/ragam-ekonomi-kreatif/Transformasi-Musik-Dangdut-dari-Masa-ke-Masa

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menegah. (n.d.). Hari Musik Nasional 9 Maret 2024. Diakses melalui https://bbppmpvbispar.kemdikbud.go.id/portal/hari-musik-nasional-9-maret-2024/#:~:text=Hal%20ini%20diputuskan%2

(Mei 16, 2023). Sejarah Musik Indonesia dari Masa ke Masa. Diakses melalui https://www.semilir.co/sejarah-musik-indonesia/

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top