Diterka 1: Dilema Pengadaan Pembelajaran Tatap Muka di Lingkungan Undip

Pelaksanaan diskusi terbuka (diterka) oleh BK MWA Undip. (Sumber: Manunggal)

Warta Utama – Menilik isu pembelajaran tatap muka pada semester depan, Bidang Kajian Badan Kelengkapan (BK) Majelis Wali Amanat (MWA) Undip mengadakan diskusi terbuka terkait kesiapan Undip dalam melakukan perkuliahan tatap muka. Diskusi ini berlangsung pada Kamis (6/5), pukul 14.30-16.00 WIB di Microsoft Teams yang dihadiri langsung oleh Wakil Rektor 1 Undip, Budi Setiyono.

Pihak kampus mengeklaim sudah sangat siap untuk melakukan pembelajaran secara tatap muka apabila memang keadaan memungkinkan. Budi Setiyono mengakui bahwa Undip telah menyusun draf SOP terkait pembelajaran tatap muka tersebut dengan beberapa ketentuan.

“Ada bebrapa ketentuan yang sudah disusun draftnya tentang standar prosedur pengadaan pembelajaran tatap muka (hybrid atau blendid learning) dengan merencanakan metode ganjil genap supaya kapasitas ruangan diokupansi 50% dan tidak terjadi kerumunan,” ungkap Budi pada diskusi yang dihadiri hampir 350 mahasiswa tersebut.

Selain itu, pihak kampus juga akan menyediakan fasilitas dan infrastruktur yang dianggap dapat menunjang pembelajaran tatap muka sesuai dengan protokol kesehatan. Fasilitas tersebut meliputi handsanitizer, pengecekan suhu, penyemprotan ruangan, penyedian Unit Gawat Darurat dan fasilitas penunjang lainnya.

Dilema Pengadaan Pembelajaran Tatap Muka

Dilema pemberlakuan pembelajaran tatap muka tetap dihadapi karena adanya beberapa kendala, salah satunya terletak pada learning environment, yaitu masyarakat di luar kampus yang dinilai belum siap untuk mendukung pembelajaran luring ini.

“Pada praktiknya, apabila dibuka proses pembelajaran tatap muka semua mahasiswa harus datang ke Semarang, terutama yang berasal dari luar kota dan pasti akan ngekos. Pertanyaanya, apakah environment kos tersebut bisa memenuhi standar kesehatan?” ungkap Budi mempertanyakan kesiapan masyarakat luar kampus untuk mendukung pembelajaran offline.

Selanjutnya, untuk menuju pembelajaran tatap muka, berdasarkan SOP yang berlaku, semua tenaga pengajar harus sudah mendapatkan vaksin. Pada kenyataanya, baru sekitar 62,5% tenaga pengajar dan 46,8% tenaga kependidikan yang sudah mendapatkan vaksin. Pada beberapa kasus, tenaga pengajar serta kependidikan yang sudah divaksin tidak memiliki resistensi seperti yang diharapkan.

“Itu menjadi pertimbangan apakah vaksinasi tersebut dapat menjadi health safety bagi yang bersangkutan, mahasiswa dan masyarakat,” tambahnya.

Pembenahan Fasilitas dan Alternatif Lain Proses Pembelajaran

Apabila situasi tetap tidak memungkinkan untuk diadakannya pembelajaran secara luring bagi seluruh mahasiswa, pihak kampus terus berupaya mengembangkan kualitas pembelajaran online. Dengan penyedian fasilitas dan memberikan pelatihan kepada seluruh dosen, diharapkan perkuliahan daring juga dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan kompetensi mahasiswa.

Pihak kampus juga memberikan kesempatan untuk mahasiswa yang ingin mengadakan pembelajaran offline dengan mengajukan perizinan langsung ke rektorat, apabila urgensi pembelajaran sangat penting dan tidak memungkinkan untuk dilakukan secara jarak jauh.

Pihak kampus mengarahkan mahasiswa yang akan melakukan pembelajaran tatap muka untuk membuat surat pernyataan akan menanggung risiko apabila dalam proses pembelajaran tertular virus  Corona.

“Kampus tidak akan bisa melakukan back-up kongsi apabila terjadi penularan karena bisa jadi, mahasiswa tertular dari lingkungan luar selain di kampus,” tutup Budi setelah melakukan pemaparan diskusi terkait kesiapan Undip untuk melakukan pembelajaran tatap muka.

Reporter: Mirra Halizah

Penulis: Mirra Halizah

Editor: Aslamatur Rizqiyah, Fidya Azahro

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *