Dedikasi di Tengah Pandemi: Cerita Diana, Mahasiswa Relawan Covid-19

Suasana saat  proses vaksinasi warga. (Sumber: Dok. Pribadi)

Gaya Hidup – Siaran media baik cetak maupun daring tak henti-hentinya memberikan informasi mengenai kasus Covid-19 yang kian hari semakin melonjak. Berbagai informasi baik benar maupun tidak terus berkembang membuat kebingungan pada masyarakat, sehingga upaya penanganan pandemi masih sulit dilakukan. Sementara itu, seorang perempuan sedang sibuk dengan gadget di tangannya. Dia adalah Diana Kusuma, seorang mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro yang tengah menjalankan tugasnya menjadi relawan Covid-19. Bukan menggulir layar untuk sekadar, Diana memilih aktif terjun langsung sebagai upayanya membantu penanganan Covid-19.

“Aku suka ngikutin official akun yang ada di Instagram. Kebetulan pas aku cek akunnya Kemenkes, itu lagi oprec buat mahasiswa sebagai relawan tracer,” ujarnya ketika diwawancara awak Manunggal via WhatsApp, Selasa (29/7).

Tidak hanya sekadar terjun, ia pun harus menjalani pelatihan terlebih dahulu dari Kemenkes perihal bagaimana tugas seorang relawan. Pelatihan dilakukan sebanyak dua kali melalui Zoom Cloud Meetings. Para relawan diberikan pembekalan materi dasar mengenai hal-hal yang berkaitan dengan Covid-19 dan juga pengenalan terhadap aplikasi Silacak. Aplikasi Silacak merupakan aplikasi untuk men-tracking atau menelusuri orang-orang yang pernah kontak erat dengan orang yang terkonfirmasi Covid-19.

“Setelah pelatihan kedua, aku dikasih arahan untuk pergi ke Dinas Kesehatan Kab. Bogor. Di sana Pihak Dinkes yang menjadi penanggung jawab dari program Kemenkes, bersama Satgas Penanganan Covid-19 menjelaskan lebih lanjut tugas-tugas apa aja yang harus dilakuin.”

Setelah melewati berbagai persiapan, Diana akhirnya mulai bertugas menjadi relawan pada 2 Juni sampai 30 Agustus 2021 di Puskesmas Gunung Putri Kab. Bogor. Penempatan tersebut tentu saja sesuai dengan domisili asal dengan pertimbangan untuk menekan mobilitas yang dapat menyebabkan penyebaran virus tersebut.

“Hal pertama yang aku lakuin itu aku ngisi lembar Penyelidikan Epidemiologi (PE),” terangnya.

Lembar PE adalah formulir penyelidikan yang isinya data diri, gejala, riwayat penyakit, riwayat pemeriksaan, pertanyaan apakah mempunyai kontak erat dengan Covid-19, untuk nantinya diajukan pada pihak yang terkonfirmasi kasus Covid-19

Setelah mengisi Lembar PE, Diana kemudian menghubungi kontak erat untuk dipantau kesehatannya melalui WhatsApp ataupun telpon setiap harinya selama 14 hari dengan menanyakan kabar, gejala, dan informasi lainnya.

“Nah puskesmas itu mengadakan swab PCR. Jadi kontak erat yang berhubungan sama kasus konfirmasi itu difasilitasi swab PCR-nya, dan swab PCR-nya itu udah dijadwalkan dan gratis,” jelas Diana.

Setelah melakukan pemantauan dan menerima jawaban dari kontak erat, Diana lalu menginput informasi yang didapatkan tersebut ke dalam aplikasi Silacak. Selain bertugas menjadi tracker, Diana menyatakan dia pun sering dilibatkan dengan tim penugasan pemberian tes swab PCR serta melakukan vaksinasi. Dirinya mengaku betapa sulitnya ketika dirinya harusk memakai alat pelindung diri di tengah teriknya matahari. Tidak hanya sebagai pelindung pribadi Diana, ia juga melaksankannya untuk melindungi keluarganya pula.

“Orang tuaku selalu ngingetin buat pake APD lengkap dan untungnya dari Puskesmas itu memfasilitasi aku. Dari sana aku merasakan gimana panasnya rasanya pakai APD lengkap dan tahu rasanya jadi tenaga kesehatan waktu nanganin pasien Covid,” tutur Diana.

Nyatanya, tugas Diana sebagai relawan tidak menemukan jalan mulus. Ia harus menemukan pihak-pihak yang melakukan kontak erat tetapi terkadang sulit dimintai data diri bahkan hingga enggan dites swab. Terlepas dari itu, ia merasa senang ketika mengajarkan ibu-ibu kader memakai aplikasi Silacak.

“Ketika aku sering tiba-tiba ditelpon Ibu kader buat bantu nge-tracking, itu unik dan asik. Tentunya ada rasa bangga tersendiri karena bisa membantu walaupun sedikit dan tak terlihat untuk menangani pandemi ini,” tuturnya

Kesibukan kampus terutama saat ia menjelang Ujian Akhir Semester tidak membuat Diana menyerah menjadi relawan. “Jangan takut untuk mencoba suatu hal yang baru, karena sesuatu yang baru merupakan peluang besar untuk kita coba. Jangan pernah ragu untuk mencoba sesuatu sendirian. Dengan kita berani untuk mencoba hal-hal baru, disitulah kita mendapatkan makna bahwa benar apa yang dikatakan pepatah, pengalaman adalah guru terbaik,” ujar Diana berpesan.

 

Reporter: Rafika Immanuela

Penulis: Rafika Immanuela

Editor: Aslamatur Rizqiyah, Fidya Azahro

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top