Dahulu Ada Kartini, Sekarang Siapa?

 

Pawai perempuan serukan ‘hapus kekerasan dan diskriminasi’ di Indonesia tahun 2017. (Sumber : bbc.com)

Peristiwa – Siapa yang tak mengenal sosok R.A. Kartini? Karena jasa-jasanya dalam memperjuangkan emansipasi wanita, Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden RI No. 108 Tahun 1964 perihal peringatan Hari Kartini. Dari keputusan tersebut juga, Kartini ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Kala itu, perempuan yang mendapat gelar Pahlawan Nasional hanya berjumlah 12 orang. Peringatan Hari Kartini dilaksanakan tiap tanggal 21 April, diambil dari tanggal lahir pahlawan perempuan asal Jepara, Jawa Tengah tersebut.

Berasal dari kalangan bangsawan Jawa, Raden Ajeng Kartini merupakan putri dari Bupati Jepara, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dengan M.A. Ngasirah. Meskipun dari keluarga bangsawan, oleh keluarganya, Kartini hanya diperbolehkan bersekolah selama 12 tahun di ELS (Europese Lagere School) untuk belajar bahasa Belanda. Setelahnya, ia terpaksa meninggalkan sekolah karena dipingit dan siap dinikahi, istilahnya sih menunggu calon suaminya untuk melamarnya.

Selama masa pingit tersebut, ia tetap belajar dan mulai menyalurkan kemampuan bahasa Belanda yang ia miliki dengan menulis surat kepada teman-temannya di korespondensi Belanda. Surat-surat tersebut mencerminkan pengalaman hidup Kartini sebagai seorang putri dari Bupati Jepara. Sekaligus, menyampaikan pemikirannya terkait berbagai masalah, seperti tradisi feodal, pernikahan paksa, poligami pada perempuan Jawa kelas atas, dan betapa pentingnya pendidikan bagi perempuan.

Kartini ingin memajukan perempuan pribumi yang mempunyai status sosial rendah sebab pendidikan yang terbatas kala itu. Ia juga terinspirasi kemajuan berpikir yang dimiliki perempuan Eropa. Sayangnya, di usia 25 tahun, tepatnya pada tanggal 17 September 1904, Kartini tutup usia. Kemudian, surat-suratnya dikumpulkan oleh J.H. Abendanon yang merupakan Menteri Kebudayaan, Agama dan Kerajinan Hindia Belanda kala itu untuk diterbitkan.

Lalu diterbitkanlah buku Door Duisternistot Licht (Dari Kegelapan Menuju Cahaya) pada 1911. Di tahun 1922, Balai Pustaka menerbitkan buku tersebut dalam bahasa Melayu. Hingga pada tahun 1938, terbitlah buku versi Armijn Pane dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Terbitnya buku tersebut sangat menarik perhatian masyarakat Belanda, serta mulai mengubah pandangan mereka terhadap perempuan pribumi di Jawa. Salah satunya adalah seorang tokoh politik etis, Van Deventer.

Van Deventer terkesan akan impian Kartini yang dirasa cocok dengan cita-citanya sendiri, yakni mengangkat bangsa pribumi secara ekonomis dan rohani, sekaligus memperjuangkan emansipasi mereka. Ia pun tergerak untuk menuliskan sebuah resensi untuk lebih menyebarluaskan cita-cita mulia tersebut. Bahkan, istrinya juga mendirikan Yayasan Kartini guna membuka sekolah-sekolah untuk perempuan pribumi.

Wah, inspiratif banget, ya? Gak heran kalau sampai sekarang cita-cita dan cerita perjuangan Kartini masih dikagumi. Memang sih, sudah banyak perubahan serta kemajuan pada pencapaian sosial, ekonomi, budaya, dan politik bagi perempuan di dunia. Namun, sayangnya kesenjangan gender masih tetap ada.

Bahkan, menurut laporan Global Gender Gap 2017, kesetaraan gender masih harus diraih lebih dari 200 tahun lagi. UN Women juga mengatakan bahwa diperlukan lebih banyak perjuangan untuk memberdayakan kaum perempuan yang tertinggal.

Kenapa? Karena perempuan lebih mungkin untuk hidup dalam kemiskinan dibandingkan pria. Pendapatan perempuan rata-rata lebih rendah sekitar 20% dibanding pria. Hal tersebut dikarenakan mereka kesulitan untuk menyeimbangan antara pekerjaan di luar dan pekerjaan rumah. Faktor utama sebenarnya ialah adanya praktik glass ceiling, yakni ketimpangan gender yang terjadi di tempat kerja. Gak heran deh kalau perempuan berkarir disebut Wonder Woman!

Masalah kesetaraan gender ini juga masuk dalam bagian integral dari Agenda Pembangunan Beekelanjutan (SDGs), loh! Karena separuh penduduk dunia adalah perempuan dan hak mereka perlu “didengar”.

Indonesia sendiri sebenarnya punya potensi besar bagi perempuan untuk berperan penting di berbagai sektor. Namun, gak bisa dipungkiri kalau Indonesia masih memegang budaya patriarki yang mem-“primadona”-kan kaum laki-laki dan mendapat manfaat serta hak lebih banyak dibanding perempuan. Oleh karena itu, Indonesia perlu terus mendorong dan memperjuangkan kesetaraan gender dan mengikis hambatan perempuan untuk berperan di masyarakat.

Nah, kabar baiknya, sekarang sudah mulai muncul organisasi-organisasi dengan misi kesetaraan gender di Indonesia. Salah satunya adalah PWAG (Peace Women Across the Globe) Indonesia yang sudah menjadi bagian dari jaringan PWAG Internasional sejak tahun 2004 silam.

PWAG Indonesia adalah jaringan relawan dan aktivis damai perempuan dalam bidang HAM, kesetaraan gender dan feminisme yang fokus berjuang untuk perdamaian, mengangkat hak-hak perempuan dan mempromosikan kepemimpinan perempuan.

Semoga, dengan terus muncul dan berkembangnya organisasi-oganisasi kesetaraan gender seperti PWAG tersebut dapat terus membakar semangat kita untuk terus berjuang demi dunia yang lebih baik dan adil, ya!

Ingat, perjuangan kesetaraan gender ini terus berlanjut dan belum berhenti sampai di sini!

Selamat Hari Kartini.

 

Referensi :

Dewi, D. S. (2020, April 20). Sejarah Hari Kartini 21 April dan Catatan Pemikirannya. Retrieved from tirto.id: https://tirto.id/sejarah-hari-kartini-21-april-dan-catatan-pemikirannya-ePG3

Indorelawan.org. (n.d.). PeaceWomen Across the Globe (PWAG) Indonesia. Retrieved from indorelawan.org: https://www.indorelawan.org/organization/5507291e9fb307fc0f650d48

tempo.co. (2018, April 25). Transformasi Digital Adaptasi Interaksi Sosial. Retrieved from koran.tempo.co: https://koran.tempo.co/read/opini/430123/perjuangan-kesetaraan-gender

 

Penulis: Annisa Earlysiam, mahasiswa Fakultas Psikologi 2020.

Editor: Aslamatur Rizqiyah, Fidya Azahro

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *