Bukan Sekadar Hujan, Kerusakan Ekologis jadi Faktor Krusial Banjir Semarang

Kawasan Stasiun Tawang menjadi salah satu titik landmark Ibu Kota Semarang yang terendam banjir, Sabtu (06/02). (Sumber : infonusantara.Id)

Kawasan Stasiun Tawang menjadi salah satu titik landmark Ibu Kota Semarang yang terendam banjir, Sabtu (06/02). (Sumber : infonusantara.id)

Semarangan – Tepat di pembuka Februari 2021, Kota Semarang kembali dilanda banjir. Menurut laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah, dalam kurun waktu 5 hingga 7 Februari terdapat 43 titik banjir di Ibu Kota provinsi tersebut dengan kategori banjir kiriman dan banjir lokal yang mendominasi. Sejumlah fasilitas umum seperti Stasiun Semarang Tawang dan kawasan Kota Lama menjadi salah satunya.

Dikutip CNN Indonesia, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menegaskan bahwa penyesuaian infrastruktur penampung air yang tidak berbanding lurus dengan intensitas pembangunan Ibu Kota menjadi faktor utama banjir Semarang kali ini. 

“Ada kawasan yang tergenang air di Semarang beberapa hari ini merupakan wilayah banjir. Kondisi diperparah dengan pertumbuhan pembangunan yang begitu pesat,” ungkap Direktur Perencanaan dan Evaluasi Pengendalian Daerah Aliran Sungai KLHK, Saparis Soedarjanto. 

“Penyesuaian infrastruktur (penampung air) itu ada keterlambatan dengan laju perubahan. Sebenarnya sudah diupayakan, tapi kecepatannya tidak imbang,” imbuhnya.

Pendapat yang sama diutarakan oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi, Ganjar mengoreksi bahwa banjir di awal bulan ini disebabkan oleh faktor non-alam, yakni permasalahan ekologis yang ada di hulu dan hilir, bukan karena curah hujan yang tinggi.

“(Penyebab) hulunya penggundulan hutannya tinggi. Yang di bawah (hilir) kita menghadapi land subsidence (penurunan tanah),” kata Ganjar

Dikutip Tirto.id, Ganjar mencetuskan beberapa resolusi yang akan dilakukan Pemerintah Jawa Tengah terhadap perbaikan lingkungan yang perlu dilakukan, di antaranya pembuatan polder dan kolam retensi yang terbukti efektif dalam menanggulangi banjir terdahulu. 

“Reboisasi terus dilakukan untuk mengatasi permasalahan di hulu. Sementara untuk kawasan hilir, kasus ini cukup rumit untuk diselesaikan lantaran tidak mudah mengontrol pembangunan disana,” imbuhnya.

Selain pendekatan ekologis, Ganjar juga merancang proyek Jalan Tol Semarang-Demak yang sekaligus diproyeksikannya sebagai solusi banjir. Ke depannya, ia berharap pembangunan infrastruktur tersebut dapat berfungsi sebagai prasarana transportasi sekaligus bendungan yang mampu mengendalikan arus banjir di kawasan pesisir.

“Jalan tolnya akan melingkar sehingga kami harapkan dapat mengendalikan banjir di robnya sehingga nanti memunculkan reservoir (waduk) di sana.” pungkasnya di penghujung obrolan.

cnnindonesia.com. (8 Februari 2021). Dikutip pada 9 Februari 2021, dari cnnindonesia.com: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20210208141416-20-603665/klhk-beberkan-indikasi-penyebab-banjir-semarang

Syambudi, I. (9 Februari 2021). tirto.id. Dikutip pada 9 Februari 2021, dari tirto.id: https://tirto.id/kerusakan-lingkungan-penyebab-banjir-semarang-bukan-sekadar-hujan-f97j

Reporter : Christian Noven H

Penulis : Christian Noven H

Editor : Aslamatur Rizqiyah, Dyah Satiti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *