BEM FH Undip Rayakan Kartini Lewat Panggung Bebas dan Aksi Simbolik

Penampilan band mahasiswa Fakultas Hukum (FH) Undip dalam sesi panggung bebas Hari Kartini 2026 di Beranda Kreativitas FH Undip pada Senin (20/4). (Sumber: Manunggal)

Warta Utama — Bidang Pemberdayaan Perempuan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (PP BEM FH Undip) mengadakan acara panggung bebas dan aksi simbolik dalam rangka perayaan Hari Kartini 2026 dengan tema “Dekolonisasi Identitas Kartini Modern: Kemerdekaan Berpikir Menuju Emansipasi” pada Senin (20/4), di Beranda Kreativitas FH Undip. Rangkaian acara tersebut dimulai dari pukul 14.00 hingga 17.30 Waktu Indonesia Barat (WIB).  Kegiatan ini merupakan kolaborasi bersama antara Bidang PP dengan Bidang Minat dan Bakat (Mikat) serta Bidang Hukum, Sosial, dan Politik (HSP) BEM FH Undip.

 

Panggung Bebas sebagai Medium Ekspresi dan Kesadaran Emansipasi Mahasiswa

Panggung bebas merupakan sesi pertama yang terdiri dari penampilan bebas dengan beragam kegiatan, mulai dari penampilan puisi, musik band, hingga solo vocal oleh mahasiswa Undip dari berbagai fakultas, baik dari FH maupun mahasiswa dari fakultas lain. Kegiatan tersebut bertujuan untuk menghadirkan sarana bagi mahasiswa FH maupun di luar FH agar mereka dapat mengekspresikan dirinya sebagaimana Kartini yang berani dan giat menyuarakan kebebasan berekspresi.

“Panggung bebas itu tujuannya agar orang-orang atau masyarakat yang ada di FH maupun di luar FH bisa mengekspresikan dirinya. Karena melihat juga Kartini, dia juga berpegang teguh pada kehidupannya sendiri yang di mana itu sebagai bentuk dari pengekspresian diri,” jelas Kezia Aulia Purnama, selaku Kepala Bidang (Kabid) PP BEM FH Undip 2026.

Tak hanya itu, Kabid Mikat BEM FH Undip menyatakan bahwa penampilan dalam panggung bebas tidak terbatas pada musik saja, tetapi dibebaskan kepada mahasiswa untuk mengekspresikan minat dan bakat mereka.

“Yang penting, mahasiswa FH Undip maupun mahasiswa Undip itu ingin menampilkan apa saja mengenai puisi, vokal, band, lalu ada tenis juga, menampilkan teater, dan segala macam,” ucap Muhammad Fadel Ilyasa selaku Kabid Mikat BEM FH Undip 2026.

 

Pernyataan Sikap

Setelah sesi panggung bebas, acara dilanjutkan dengan pernyataan sikap oleh BEM FH Undip di depan pelataran Gedung H FH Undip. Pernyataan sikap tersebut bertujuan mendorong perempuan menghadapi tantangan baru dengan menjadi Kartini modern yang tidak lagi terjebak dalam dikotomi identitas, serta berani bersuara secara kritis sebagai bentuk emansipasi yang sesungguhnya. Adapun poin-poin pernyataan sikap tersebut meliputi:

  1. menjamin emansipasi sebagai bentuk kebebasan perempuan dalam menentukan identitasnya sendiri tanpa beban ekspektasi sosial;
  2. menjadikan Hari Kartini sebagai momentum perlawanan terhadap segala bentuk kekerasan dan diskriminasi yang masih dialami oleh perempuan;
  3. menuntut terciptanya ruang aman bagi perempuan di lingkungan akademik maupun sosial;
  4. mengawal dan mengadvokasi kebijakan kampus agar responsif gender, termasuk dalam mekanisme pelaporan, perlindungan korban, serta evaluasi terhadap regulasi yang berpotensi melanggengkan ketimpangan; 
  5. menuntut penegakan hukum yang optimal dan berkeadilan khususnya bagi perempuan korban kekerasan seksual dan mendesak penghentian segala bentuk praktik berbahaya dan diskriminatif khususnya praktik perkawinan paksa terhadap anak di bawah umur;
  6. menuntut negara untuk mengakui femisida sebagai kategori tindak pidana khusus di dalam kerangka hukum pidana nasional di Indonesia; serta
  7. menuntut negara untuk memberikan pengakuan formal terhadap kerja perawatan sebagai kontribusi ekonomi yang setara dan mendesak lembaga terkait untuk segera mengesahkan Rancangan Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (RUU PPRT).

 

Aksi Simbolik sebagai Bentuk Upaya Edukasi dan advokasi 

Di akhir kegiatan, peserta menggelar aksi simbolik untuk menjunjung tinggi keadilan dan kesetaraan gender dalam perayaan Hari Kartini. Aksi simbolik tersebut diadakan dalam bentuk pawai singkat mengelilingi kawasan Undip dengan membawa bunga dan brosur layanan pengaduan kekerasan seksual di lingkup kampus. Langkah ini menjadi upaya konkret untuk meningkatkan kepekaan terhadap maraknya isu kekerasan yang masih kerap luput dari perhatian. 

Kabid HSP BEM FH Undip 2026, Amar Kholis, menekankan bahwa aksi ini merupakan simbol komitmen untuk menempatkan kesetaraan gender sebagai nilai yang harus dipahami bersama. Ia menilai dengan maraknya kekerasan seksual, baik melalui media digital maupun dunia nyata menunjukkan bahwa persoalan ini belum sepenuhnya ditangani dengan baik. 

“Dalam aksi simbolik ini kita juga akan keliling membagikan brosur berkaitan dengan layanan aduan kekerasan seksual,” ujar Ammar.

Cara ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dengan menyebarkan informasi layanan aduan sebagai akses perlindungan bagi korban sekaligus mendorong keberanian untuk melapor.

“Harapannya untuk apa? Mengurangi kekerasan seksual. Kalau bisa, di ranah Undip itu tidak ada,” tambahnya.

 

Partisipasi dan Antusiasme Mahasiswa

Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan ini menunjukkan respons yang positif. Selain sebagai bentuk perayaan, kegiatan ini dinilai mampu menghadirkan ruang yang menyenangkan tanpa melupakan esensi utamanya. Sejumlah peserta mengaku tertarik hadir karena konsep acara yang diusung dinilai relevan dengan kondisi saat ini. Disamping tujuan utamanya untuk menyuarakan isu, diusungnya konsep panggung bebas juga membuat kegiatan ini terasa lebih inklusif sekaligus memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengekspresikan diri sebebas mungkin.

“Aku sangat suka tentang konsep perempuan yang lebih punya power di masa sekarang ini, jadi aku merasa hadir di acara ini jadi suatu kesempatan yang bagus,” ungkap Stephanie Aurellia, salah satu mahasiswa FH angkatan 2025 yang turut hadir.

Ia juga menilai bahwa kegiatan seperti ini menarik untuk diadakan kembali, terutama untuk membangun kesadaran kolektif akan pentingnya isu perempuan dan kesetaraan gender.

“Harapannya mahasiswa bisa benar-benar mengimplementasikan bagaimana menghormati perempuan itu sendiri dan mengawal isu-isu keperempuanan,” tambahnya.

Sementara itu, Regina Manik yang juga merupakan mahasiswa FH, menyoroti suasana acara yang dinilai interaktif dan mampu menarik keterlibatan mahasiswa secara langsung. Ia juga berharap kegiatan serupa dapat terus diadakan agar semakin banyak mahasiswa yang terlibat dan terpapar urgensi dari isu yang diangkat. 

“Seru banget sih, kita bisa ketemu banyak orang, lihat teman yang tampil di panggung bebas, jadi excited juga ngelihatnya,” ujarnya.

Kehadiran mahasiswa menunjukkan bahwa kedekatan yang dikemas secara partisipatif mampu menjadi cara efektif untuk menyampaikan isu yang sedang terjadi, seperti kesetaraan gender dan kekerasaan seksual.  

Rangkaian kegiatan ini juga menegaskan pentingnya kolaborasi lintas bidang dalam mengangkat isu kesetaraan gender. Keterlibatan Bidang PP, Mikat, dan HSP menunjukkan bahwa isu ini bersinggungan dengan berbagai aspek kehidupan kampus, mulai dari kebebasan berekspresi hingga kebijakan dan advokasi. Kolaborasi ini menjadi langkah awal menuju gerakan yang lebih terintegrasi.

Upaya tersebut tentu tidak dapat berhenti pada satu momentum semata. Isu kesetaraan gender membutuhkan keberlanjutan melalui penciptaan ruang aman dan penguatan kesadaran kolektif yang terus dirawat di lingkungan kampus.

Peringatan Hari Kartini tidaklah sekadar agenda tahunan, melainkan juga titik refleksi atas sejauh mana nilai-nilai emansipasi telah dihidupkan. Di tengah realitas ketimpangan dan kekerasan berbasis gender yang masih nyata,  di sinilah semangat Kartini menemukan kembali urgensinya.

Dalam konteks saat ini, Kartini tidak hanya dipahami sebagai sosok historis, tetapi sebagai representasi keberanian dan semangat juang untuk berpikir merdeka, bersuara, dan menantang ketidakadilan. Kampus menjadi ruang terdekat kita dalam mengambil peran untuk menghidupkan nilai-nilai tersebut dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, rangkaian kegiatan ini menjadi pengingat kita semua, bahwa perjuangan menuju ruang yang adil dan setara masih belum selesai, dan setiap individu memiliki peran di dalamnya. 

 

Reporter: Alya Nabilah, Sekar Asa, Fathiyyah Kusuma

Penulis: Fathiyyah Kusuma, Sekar Asa

Editor: Salsa Puspita, Andaru Surya

Scroll to Top