PKM-RE Kembali Mendominasi: Ungkap Rahasia di Balik Konsistensi Prestasi

Potret salah satu poster yang diunggah di website Undip terkait jumlah tim PKM Undip yang berhasil lolos pendanaan. (Sumber: Undip.ac.id)

Peristiwa – Prestasi membanggakan kembali diraih oleh Universitas Diponegoro (Undip) pada perlombaan tingkat nasional, yakni Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) tahun 2026. Bidang Riset Eksakta (RE) kembali menunjukkan dominasinya sebagai bidang dengan proposal lolos pendanaan terbesar di lingkup Undip. Hal tersebut dibuktikan dengan keberhasilan 15 dari total 30 proposal Undip yang memperoleh pendanaan dari Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) berasal dari PKM-RE.

Dominasi ini bukan hal baru yang terjadi dalam kurun waktu singkat. PKM-RE sendiri telah menunjukkan rekam jejak yang positif pada prestasi Undip setiap tahunnya. Prof. Dr. Ngadiwiyana, S.Si., M.Si. selaku Wakil Dekan Akademik dan Kemahasiswaan (Wadek I) Fakultas Sains dan Matematika (FSM) Undip sekaligus dosen pembimbing PKM-RE yang kerap membawa tim PKM lolos hingga ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) menyatakan bahwa:

“Prestasi terbaik kita di PIMNAS itu kan tahun berturut-turut ranking 3 nasional, juara 3 nasional, dan penyumbang medali kebanyakan dari RE. Di kelas PIMNAS itu RE juga lebih banyak karena memang minat dari hampir semua Perguruan Tinggi Negeri (PTN),” ujarnya saat diwawancarai oleh Awak Manunggal, pada Selasa (30/6/2026).

 

PKM-RE Unggul di Lingkup Undip, Apa Formulanya? 

Nyatanya keberhasilan bidang RE tidak terlepas dari karakteristiknya yang dinilai mudah diukur, dengan tetap memiliki keterbaruan dan berdampak nyata bagi masyarakat. Prof. Ngadiwiyana menjelaskan bahwa hal tersebut dipengaruhi oleh budaya riset di kalangan mahasiswa bidang eksakta yang terbiasa menggunakan pendekatan kuantitatif dan menghasilkan luaran yang lebih terukur dibandingkan penelitian di bidang sosial. Versi yang lebih efektif dan mengalir: Baik riset eksakta maupun sosial pada dasarnya melalui tahapan yang sama, mulai dari identifikasi masalah, perumusan pertanyaan penelitian, penentuan metodologi, pengumpulan data, hingga pengolahan dan analisis data. Namun, hasil riset eksakta lebih sering dikaitkan dengan kemajuan teknologi karena umumnya menghasilkan inovasi yang dapat diterapkan untuk memudahkan kehidupan masyarakat.

“Gini, RE itu dianggap risetnya sangat mudah diukur dan memberi dampak yang signifikan. Misalnya, orang meneliti nanomaterial, orang langsung bisa melihat, oh ini nanomaterial,” ungkap Prof. Ngadiwiyana.

Senada dengan Prof. Ngadiwiyana, Hassya Marella Istanto, alumni Program Studi (Prodi) Teknik Kimia Fakultas Teknik (FT) Undip angkatan 2022 sekaligus peraih medali PIMNAS 2025, menjelaskan bahwa perbedaan PKM-RE dengan bidang lain terletak pada luarannya yang berorientasi pada penyelesaian masalah melalui pengujian instrumen untuk menghasilkan data yang akurat. Proses tersebut membuat PKM-RE membutuhkan waktu pengerjaan yang relatif lebih lama. 

“PKM lain itu juga susah, tapi kita tuh PKM-nya (RE) kayak yang menentukan berhasil atau tidaknya, kita harus melekatkan jurnal-jurnal, gitu loh. Makanya itu yang agak susah, juga sama gak bisa main data, jadi kayak based on kita riset,” ujar Hassya saat diwawancarai oleh Awak Manunggal, pada Senin (29/6/2026).

 

Kilas Balik Perjalanan Tim PKM-RE Undip Menuju PIMNAS 2025

Keberhasilan menuju PIMNAS tentunya tidak diperoleh dalam waktu yang singkat karena setiap proposal yang berhasil tentunya memiliki perjalanan hebat di dalamnya. Salah satunya dialami Nur Hadina atau kerap disapa Dina, alumni Prodi Fisika Fakultas Sains dan Matematika (FSM) Undip angkatan 2022 sekaligus peraih medali emas PIMNAS 2025. Ia menceritakan bahwa timnya mengangkat inovasi di bidang kesehatan. Gagasan awal penelitian berasal dari arahan dosen pembimbing untuk mengembangkan agen nano-teranostik bagi kanker. Gagasan tersebut kemudian diwujudkan dalam karya berjudul “Pengembangan Agen Nano-Teranostik Berbasis Tridax procumbens untuk Terapi dan Diagnosis Kanker Serviks.”  

“Jadi kami memutuskan untuk mengambil bahan, yaitu dari Tridax Procumbens atau lebih dikenal gletang yang digunakan sebagai prekursornya, prekursor alami. Setelah itu kami mendiskusikan dengan tim,” jelas Dina saat diwawancarai oleh Awak Manunggal, pada Minggu (28/6/2026).

Dina juga menjelaskan bahwa salah satu indikator keberhasilan timnya lolos menuju PIMNAS 2025 adalah kekompakan. Menurut Dina, kekompakan lahir melalui komunikasi yang baik dan tanggung jawab setiap anggota terhadap tugas yang telah diamanahkan. Mengingat bahwa rentang waktu pelaksanaan PKM berlangsung cukup lama, tentu membuat tim harus senantiasa menjaga semangat dan motivasi seluruh anggota selama masa-masa tersebut. 

“Kita sama-sama punya niat yang sama, punya tekad yang sama untuk bisa sampai ke PIMNAS, atau bisa mendapatkan medali, kita harus sama-sama jangan menyerah dan tanggung jawab kepada diri kita masing-masing,” ungkapnya. 

Berbeda dengan Dina, awal mula riset Hassya dan tim justru berangkat dari ketidaksengajaan. Penelitian yang mereka ajukan semula merupakan bagian dari riset yang dikerjakan bersama rekan seangkatannya untuk memenuhi tugas akademik. Melihat potensinya, dosen pembimbing kemudian mendorong penelitian tersebut dikembangkan menjadi proposal PKM hingga akhirnya berhasil meraih medali perunggu di ajang PIMNAS 2025. 

“PKM kan butuh tim ya, makanya kita merekrut satu anak angkatan 2023. Soalnya dosenku maunya satu tim itu 3 orang doang, ya sudah aku sama partner sama adik angkatan 2023, habis itu proposal kita buat, terus submit, kita nunggu pengumuman ternyata lolos pendanaan,” terang Hassya. 

Tim Hassya mengangkat pengembangan pupuk dengan mekanisme pelepasan unsur hara secara bertahap sebagai fokus penelitiannya. Inovasi tersebut lahir sebagai solusi atas rendahnya efisiensi pupuk yang umum digunakan di sektor pertanian. Menurut Hassya, pupuk konvensional cenderung melepaskan unsur hara penting dalam waktu singkat sehingga tidak seluruhnya dapat diserap tanaman. Sebagian unsur hara justru larut bersama aliran air, sehingga efektivitas pupuk menjadi berkurang. 

“Nah, kalau di aku, ternyata setelah diuji coba petani tuh rilisnya bahan kimia di produk aku tuh bisa pelan-pelan, ya mana itu bisa memaksimalkan penyerapan (kandungan unsur hara) oleh tumbuhan,” lanjut Hassya. 

Meski demikian, proses penelitian yang dijalani Dina maupun Hassya tidak terlepas dari berbagai kendala. Hassya mengaku sempat menghadapi hambatan eksternal, seperti kerusakan alat penelitian dan kesulitan berkomunikasi dengan dosen pembimbing. Sementara itu, Dina menghadapi keterbatasan pendanaan serta sempat lalai dalam pelaporan kemajuan PKM. Meski begitu, keduanya berhasil mengatasi berbagai kendala tersebut melalui diskusi tim dan arahan dari dosen pembimbing. 

“Untuk menanggulangi kalau bahan habis ya kita sedisiplin mungkinlah, kayak tiga hari sekali atau empat hari sekali, kita tuh ngecek bahan-bahan mana yang kemungkinan tuh mau habis,” tutur Hassya. 

Selain itu, dalam penanganan masalah yang ada, peran dosen pendamping juga sangat dibutuhkan. 

“Kita konsultasi apapun yang kita hadapi. Masalah dalam riset, misal kita udah buntu nih, udah nggak bisa menyelesaikan permasalahan ini, jadi kita butuh konsultasi kepada dosen pendamping,” tutur Dina.

Sebagai peraih medali di ajang PIMNAS tahun lalu, Dina dan Hassya juga memberikan kiat dan strategi bagi pejuang PIMNAS tahun ini. 

“Dijaga semangatnya dari awal sampai akhir, jangan menyerah, dan harus teliti, dalam PKM ini ketelitian itu nomor satu,” ungkap Dina.

Di sisi lain, Hassya juga menyebutkan bahwa pengetahuan tim terhadap luaran riset juga merupakan hal yang penting. Tim riset harus memahami permasalahan yang terdapat dalam objek penelitiannya. Setelah permasalahan dipahami dengan baik, tim kemudian memikirkan terkait cara atau strategi yang dapat digunakan agar permasalahan tidak melebar dan segera teratasi. Selain itu, dalam pembuatan poster hendaknya menggali ide dengan melihat contoh PKM tahun-tahun sebelumnya. Akan tetapi, kesempatan tersebut tidak boleh digunakan sebagai plagiasi, melainkan sebagai referensi desain dan cakupan isi. 

 

Lolos Pendanaan PKM 2026, Salah Satu Tim PKM-RE Undip Kembangkan Inovasi Penghantar Obat Kanker

Bidang PKM-RE Undip kembali menunjukkan potensinya pada tahun ini. Salah satu tim PKM berhasil memperoleh pendanaan dengan mengusung PKM-RE sebagai bidang kompetisinya. Salah satu anggota tim tersebut, Elin Bestari, mahasiswa Program Studi Kimia FSM Undip angkatan 2023 yang akrab disapa Elin, mengungkapkan bahwa timnya tengah mengembangkan penelitian terkait agen antikanker. Inovasi tersebut dirancang sebagai sistem penghantar obat yang dapat mengantarkan obat kanker secara langsung ke sel target. Sistem penghantaran ini berbasis nanoteknologi, sehingga hanya dapat diamati menggunakan mikroskop. 

Elin menjelaskan bahwa obat kanker sebenarnya telah banyak tersedia di Indonesia. Namun, sebagian obat dapat mengalami degradasi selama proses pencernaan sebelum mencapai target pengobatan secara optimal. Oleh karena itu, sistem penghantaran berbasis nano diharapkan mampu meningkatkan efektivitas terapi dengan mengantarkan obat secara lebih tepat ke lokasi kanker.  

“Jadi, si obat ini belum sampai ke sel kanker, dia (read obat kanker) sudah rusak duluan,” jelas Elin.

Melalui penelitian tersebut, Elin dan timnya hanya berfokus menguji efektivitas mekanisme penghantaran obat kanker berbasis nanocarrier. Menurut Elin, ruang lingkup penelitian yang masih terbatas pada tahap pengujian menjadi salah satu faktor yang menyebabkan timnya memperoleh pendanaan dalam jumlah yang relatif minim. 

“Sebenarnya, kalau dananya tidak terbatas mungkin kita bisa riset sampai ke tubuh manusia. Nah, tapi karena dananya terbatas, jadi kita cuma mengecek, cuma mastiin, oh ini bisa terbawa atau nggak,” lanjut Elin. 

 

Undip Diharapkan Mendapatkan Kenaikan Peringkat PIMNAS Tahun Ini

Melihat peluang yang cukup besar pada bidang PKM-RE, tentunya terdapat harapan agar perwakilan Undip kembali menorehkan prestasi terbaik di ajang PIMNAS  2026 .

“Aku berharap banget Undip bisa meningkatkan performanya di PIMNAS, dan aku berharap banget Undip bisa masuk di tiga besar, dan karena tahun lalu empat besar, semoga tahun ini bisa naik ke tiga besar,” ungkap Dina.

Harapan serupa juga disampaikan Prof. Ngadiwiyana selaku dosen pembimbing PKM-RE. Ia berharap Undip tidak hanya sukses sebagai tuan rumah Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional tahun ini, tetapi juga mampu mengantarkan kontingennya meraih prestasi. 

“Makanya kita juga tadi bagi peran. Jangan sampai kita fokus jadi tuan rumah lupa persiapan tim kita kan gitu,” ungkap Prof. Ngadiwiyana.

 

Reporter: Najwa Amar, Anindya Malka , Tialova R.A.

Penulis: Anindya Malka, Tialova R.A.

Editor: Salsa Puspita, Andaru Surya

Scroll to Top