Semarak Pawai Ogoh-Ogoh di Semarang, Angkat Nilai Toleransi Beragama

Penampilan Warak Ngendog dalam Pawai Ogoh-ogoh Semarang di depan Balai Kota Semarang pada Minggu (26/4). (Sumber: Manunggal)

Semarangan – Pemerintah Kota Semarang menggelar Pawai Ogoh-Ogoh pada Minggu (26/4) sebagai bagian dari rangkaian acara Seni Budaya Lintas Agama Kota Semarang. Pawai tersebut dimulai dari Balai Kota Semarang, melintasi Jalan Pandanaran, dan berakhir di Lapangan Pancasila, Simpang Lima, menampilkan ogoh-ogoh, tarian, serta berbagai pertunjukan budaya yang disaksikan antusias oleh masyarakat yang telah memadati rute sejak sore hari. 

Kegiatan ini tidak hanya menjadi parade seni, tetapi juga sarana untuk memperkuat toleransi antarumat beragama. Pawai tersebut juga merupakan bagian dari perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1984 yang melibatkan beragam elemen masyarakat lintas agama dan budaya. 

 

Simbol Toleransi dan Kebersamaan

Wali Kota Semarang, Dr. Agustina Wilujeng Pramestuti S.S., M.M., menyebut pawai ini sekaligus menjadi bentuk apresiasi atas capaian Kota Semarang yang meraih peringkat tiga nasional dalam ajang Indeks Kota Toleran (IKT) 2025 versi SETARA Institute.

Ia menilai pawai tahun ini terasa berbeda karena setiap peserta menampilkan pertunjukan di depan panggung utama Lapangan Simpang Lima dengan melibatkan banyak sanggar seni. Menurutnya, pawai ini bukan hanya milik umat Hindu dan Buddha, tetapi menjadi tontonan yang mencerminkan kekayaan budaya bersama.

“Masing-masing peserta karnaval tampil di depan panggung, dan sepertinya ada banyak sanggar yang terlibat. Bagus-bagus banget tadi, aku senang banget rasanya. Ini menjadi bagian bukan hanya umat Buddha dan Hindu, ini menjadi tontonan yang luar biasa. Ini kekayaan budaya kita,” ujar Agustina saat wawancara dengan awak media pada Minggu (26/4).

Melansir Kompas.com, tahun ini pawai Ogoh Ogoh Kota Semarang mengusung tema “Sesanti Memayu Hayuning Bhawana” yang bermakna menciptakan Semarang yang aman, “Memayu Hayuning Sesami” sebagai upaya membangun toleransi  antarsesama, dan “Memayu Hayuning Diri” yang mencerminkan komitmen Semarang dalam menjaga kerukunan. 

 

Partisipasi Lintas Agama dan Budaya

Pawai ini diikuti oleh berbagai kelompok dari latar belakang agama dan budaya, mulai dari komunitas Hindu, Islam, Kristen, Katolik, Buddha, hingga Konghucu, serta pelbagai sanggar seni dan komunitas budaya. 

Berikut peserta yang turut hadir dalam pawai ogoh-ogoh:

  1. Kelompok Pagar Ayu (Wanita Hindu Dharma Indonesia Kota Semarang)
  2. Kelompok Pemimpin Agama
  3. Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Semarang
  4. Gong Baleganjur dari Yogyakarta
  5. Ogoh-ogoh Cilik
  6. Kelompok Warak Ngendog dan Penghayat Kepercayaan dari Majelis Luhur Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa Indonesia (MLKI)
  7. Kelompok Muslimat Tembalang
  8. Kelompok Rebana Gerakan Pemuda (GP) Ansor
  9. Sanggar Saraswati (Penari Semarangan dan Tari Nusantara)
  10. Pasraman Brahma Widya (Penari Sendratari)
  11. PHDI Kendal
  12. Gong Baleganjur Kendal
  13. Gunungan Mijen
  14. Kelompok Tari Kuda Lumping dari Kendal
  15. Kelompok Perbawa (Perempuan Berkebaya Jawa)
  16. Kelompok Umat Kong Hu Cu (Naga)
  17. Kelompok Kesenian Universitas 17 Agustus 1945 (Untag)
  18. Kelompok Umat Buddha (Topeng Ireng)
  19. Kelompok Kesenian Pokdarwis Gisikdrono
  20. Padepokan Brajamusti
  21. Baleganjur Taruna Akademi Kepolisian (Akpol)
  22. Kelompok Umat Kong Hu Cu (Barong Sae)
  23. Kelompok Kesenian Universitas Katolik (Unika)
  24. Kelompok Sanggar Seni Perwira Budaya
  25. Kelompok Umat Katolik
  26. Kelompok Umat Kristen dari Persekutuan Gereja-Gereja Kristen Kota Semarang (PGKS) dan Badan Musyawarah Antar Gereja Nasional (Bamagnas)
  27. Tari Sufi dari Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo
  28. PHDI Jepara
  29. Kelompok Baleganjur dari Kabupaten Jepara
  30. Kelompok Umat Hindu

Yusuf Marendeng, perwakilan dari Gereja Toraja Jemaat Surabaya Cabang Kebaktian Semarang, hadir sebagai peserta pawai dengan menampilkan tarian Pa’gellu khas Tanah Toraja, Sulawesi Selatan. 

“Kami akan membawakan tarian Pa’gellu. Tarian Pa’gellu ini biasa diadakan untuk menyambut tamu-tamu. Tamu-tamu kehormatan di acara-acara Rambu Tuka’. Kalau di Toraja ya, untuk acara syukuran, atau juga untuk acara pernikahan,” terang Yusuf saat diwawancarai Awak Manunggal pada Minggu (26/4).

Yusuf menyampaikan bahwa keikutsertaan mereka menjadi kesempatan untuk memperkenalkan budaya Toraja kepada masyarakat luas. Ia juga mengapresiasi dukungan dari pihak penyelenggara yang telah memberikan ruang bagi berbagai kelompok untuk menampilkan budayanya. 

“Bagi saya acara ini sangat menarik karena lintas budaya, sehingga toleransi di antara masyarakat Kota Semarang bisa terjadi dengan baik. Jadi sangat bergabung ya, berkolaborasi dengan budaya-budaya lain di sini. Sangat ditampilkan,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan oleh Sumpanget, peserta pawai ogoh-ogoh dari Kampung Seni Budaya Gisikdrono, Semarang, yang berpendapat bahwa pawai ini merupakan bentuk nyata toleransi karena melibatkan berbagai agama.

Ya kita kan toleransi terhadap umat beragama, jadi kita ya sangat bagus untuk ke depannya. Ini kan yang ketujuh kali, jadi ini dari rekan-rekan dari Kampung Seni Budaya selalu ikut berpartisipasi untuk meramaikan dalam melestarikan budaya,” ujar Sumpanget.

Sumpanget juga menambahkan bahwa pawai ogoh-ogoh tersebut diadakan oleh kelompok agama Hindu. Sementara itu, Rohmat yang juga hadir sebagai peserta mengungkapkan bahwa kegiatan ini terselenggara melalui kerja sama kelompok seni agama Hindu dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang. Kerja sama tersebut bertujuan untuk merangkul berbagai elemen masyarakat yang beragama Islam, Kristen, Katolik, dan Buddha untuk turut berpartisipasi.

Kemudian bekerja sama dengan Dinas Pariwisata untuk merangkul semua elemen yang ada termasuk agama Islam, agama Kristen, Katolik, Buddha yang terlibat,” tambah Rohmat.

Ogoh-Ogoh Memedi 

Ogoh-ogoh Memedi dari PHDI Jepara dalam Pawai Ogoh-ogoh Semarang di Lapangan Simpang Lima pada Minggu (26/4). (Sumber: Manunggal)

Setiap ogoh-ogoh yang ditampilkan dalam pawai tidak hanya menjadi simbol kehidupan sosial masyarakat, tetapi juga mencerminkan sifat dan sikap dalam diri manusia. 

Hal tersebut tercermin dalam Ogoh-Ogoh Memedi besutan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Jepara, yang melambangkan sifat negatif, hawa nafsu, dan energi buruk dalam diri manusia. Ogoh-ogoh tersebut diakhiri dengan pembakaran sebagai simbol pemusnahan segala sifat buruk agar manusia dapat kembali pada kesucian diri. 

“Biasanya habis acara nanti ogoh-ogoh ini kita bakar, lambang dari sifat-sifat negatif itu tadi kita musnahkan dan kita buang dan nanti akan hilang seperti sifat manusia itu sendiri. Harapannya seperti itu,” ujar Rudi Doso, selaku penyuluh agama Hindu dari Kabupaten Jepara saat diwawancarai oleh Awak Manunggal pada Minggu (26/04).

Dalam tradisi Nyepi, ogoh-ogoh dimaknai sebagai perwujudan Bhuta Kala, yakni energi negatif yang identik dengan hawa nafsu berlebih, atau dikenal sebagai Memedi. Dalam budaya Jawa, Memedi juga kerap digunakan sebagai simbol untuk menertibkan anak-anak yang masih bermain saat menjelang waktu magrib. Ketika anak-anak sulit diajak pulang, keberadaan Memedi biasanya digambarkan sebagai ancaman agar mereka segera kembali ke rumah. 

“Dari Jepara beri nama Memedi. Kalo di Jawa biasanya setiap sore anak-anak yang main menjelang magrib susah disuruh pulang, buat anak-anak pulang kita peragakan bahwasanya nanti ketika anak-anak tidak pulang dia akan ditangkap dan dipengaruhi oleh Memedi ini,” jelas Rudi. 

Proses pembuatan Ogoh-Ogoh Memedi sendiri diawali dari gagasan yang menggambarkan kehidupan sosial masyarakat di Jepara, kemudian dituangkan dalam konsep dan sketsa. Selanjutnya, ogoh-ogoh diwujudkan melalui kerja sama berbagai pihak dengan pembagian tugas yang terstruktur, mulai dari pembuatan kerangka besi hingga penyelesaian detail akhir.

 “Pastinya butuh satu orang sebagai pemikirnya, sebagai penggerak, dia yang menggambarkan membuat sketsa. Yang lainnya membantu, nanti dibagi bikin kerangkanya dari besi,” terang Rudi. 

Rudi mengungkapkan bahwa pembuatan ogoh-ogoh tahun ini merupakan pengalaman pertama bagi PHDI Jepara. Hal tersebut didorong oleh kepengurusan baru PHDI yang ingin menghadirkan kreativitas lebih besar, khususnya dari kalangan anak muda. 

“Tahun kemarin biasanya hanya membuat bebungaan, jadi karena ini PHDI yang baru kita mencoba membentuk salah satu kreativitas anak-anak dituangkan dalam ogoh-ogoh,” ujarnya.

Meski demikian, proses pembuatan ogoh-ogoh tidak hanya melibatkan PHDI saja, tetapi juga mendapat dukungan dari pemerintah, terutama pada aspek pendanaan. Mengingat dana pembuatan yang berkisar Rp5 juta hingga Rp10 juta, tergantung ukuran dan tingkat kerumitan dari ogoh-ogoh yang dibuat.

“Kesulitan utama membentuk karakter di muka dan tangan. Kita mikirnya karakter Memedi itu gimana, mukanya harus sesuai dengan karakter Memedi itu sendiri. Kemudian untuk tangan dan juga badan posisi seperti apa, kita juga pikirkan. Tetapi yang paling sulit itu di mukanya,” jelas Rudi.

Selain itu, keterlibatan berbagai unsur umat Hindu di Jepara, seperti PHDI, Perhimpunan Pemuda Hindu (Peradah), Jagabaya, Pesantian, dan komunitas pemuda, membuat koordinasi dilakukan melalui masing-masing ketua organisasi sehingga pengorganisasian peserta menjadi lebih efektif.

 

Ogoh-Ogoh Rojosingo

Penampilan Ogoh-ogoh Rojo Singo dalam Pawai Ogoh-Ogoh Semarang di depan Balai Kota Semarang pada Minggu (26/4). (Sumber: Manunggal)

Berbeda dengan Ogoh-Ogoh Memedi, Ogoh-Ogoh Rojo Singo mengangkat kisah sejarah lokal dari Dusun Kalipuru, Desa Kalirejo, Kecamatan Singorojo, Kabupaten Kendal. Tema tersebut terinspirasi dari cerita seorang prajurit Mataram bernama Rompak Boyo yang datang ke Singorojo untuk membuka permukiman di wilayah hutan lebat yang diyakini dijaga oleh seekor singa. Pertarungan antara keduanya pun terjadi hingga singa tersebut akhirnya tewas, yang kemudian menjadi asal-usul penamaan Singorojo. 

“Rompak Boyo dan singanya itu berkelahi sampai titik daerah penghabisan. Nah, di akhir cerita itu singanya meninggal. Untuk mengenang singanya makanya di desa itu disebut Singorojo, Kecamatan Singorojo,” ujar Angki Tusmawanto, perancang desain Ogoh-Ogoh Rojo Singo saat diwawancarai oleh Awak Manunggal pada Minggu (26/4).

Angki menjelaskan bahwa proses pembuatan ogoh-ogoh ini memakan waktu lebih dari satu bulan dengan tinggi mencapai sekitar empat meter. Tahap awal dimulai dari penyusunan kerangka menggunakan besi, kayu, baja ringan, dan bambu. 

“Untuk proses pembuatannya ini membutuhkan satu bulan lebih berapa hari lah. Nah, untuk bahannya sendiri, kerangka kan awal itu dari besi, terus dari kayu, baja ringan, bambu itu kerangkanya,” ujarnya. 

Wiyono, selaku pembuat Ogoh-Ogoh Rojo Singo, menjelaskan bahwa tahap selanjutnya adalah memperhalus permukaan ogoh-ogoh menggunakan lapisan koran yang direkatkan dengan lem, lalu dilapisi tisu agar lebih rapi. Pada tahap akhir, ogoh-ogoh dicat, sementara bagian wajah dan tangan dibentuk lebih detail menggunakan clay. 

“Pertama itu kardus. Yang kedua dilapisi sama solasi lakban. Yang ketiga koran sama lem. Yang keempat terakhir itu tisu. Kemudian di-finishing pakai cat. Kemudian pakai clay juga, yang muka itu pakai clay,” ucap Wiyono.

Keterlibatan masyarakat lintas agama dalam pembuatan Ogoh-Ogoh Rojo Singo turut menjadi simbol nyata kerukunan sosial. Warga dari latar belakang Hindu, Islam, dan Kristen bekerja sama tanpa membedakan identitas. 

“Di situ kita tidak mengenal apa itu agama. Pokoknya yang penting kita bersatu gitu, tidak membeda-bedakan,” tegas Angki. 

 

Adaptasi Tradisi Ogoh-Ogoh di Semarang

Putu D.S., salah seorang penonton pawai ogoh-ogoh asli Bali yang sudah lama tinggal di Semarang, menyebut keikutsertaannya didorong oleh keinginan untuk mendukung kegiatan seni budaya dan agama yang dinilai penting sebagai bentuk kebersamaan.

Menurutnya, tradisi ogoh-ogoh awalnya merupakan bagian dari rangkaian perayaan menjelang Hari Raya Nyepi seperti di Bali. Namun di Semarang, pelaksanaannya dilakukan setelah Nyepi dan kemudian berkembang dengan melibatkan berbagai unsur budaya dan agama, terutama setelah mendapat dukungan dari pemerintah kota.

“Karena ogoh-ogoh itu sebelum Hari Raya Nyepi. Di sini kan kebanyakan Nyepi nggak seperti di Bali, beda. Jadi setelah Nyepi baru diadakan ogoh-ogoh, dan kemudian di-support dari pemerintah kota,” terang Putu.

Ia menilai adanya perbedaan yang cukup signifikan antara pelaksanaan ogoh-ogoh di Bali dan di Semarang. Di Bali, ogoh-ogoh digelar meriah pada malam sebelum Nyepi dan biasanya diakhiri dengan pembakaran. Sementara di Semarang, tradisi tersebut disesuaikan dengan kondisi masyarakat setempat yang lebih beragam.

“Kalau di Bali, ogoh-ogoh itu baru malam mulai jam tujuh sampai delapan, itu baru ada artinya. Jam sepuluh sampai sebelas baru selesai, dan kemudian dibakar. Ogoh-ogohnya setiap desa, setiap bagian, dikeluarin minimal dua sampai tiga. Kita mengeluarkan biaya sendiri-sendiri,” jelas Putu.

Meski begitu, ia mengapresiasi perkembangan ogoh-ogoh di daerah lain seperti Kendal dan Jepara yang mulai membuat ogoh-ogoh secara mandiri. Ia pun berharap ke depan makin banyak generasi muda yang terlibat dan mampu melestarikan budaya daerahnya. 

“Saya mengharapkan anak-anak muda ini bisa menunjukkan kamu dari mana asalnya. Saya mengharapkan makin banyak (dalam konteks ogoh-ogoh atau acara budaya), dan terus perbanyak belajar budaya sendiri daripada budaya luar,” tegas Putu.

 

Harapan Pelestarian Budaya

Pawai Ogoh-Ogoh Semarang tidak hanya menjadi hiburan budaya, melainkan momentum untuk memperkuat solidaritas sosial serta mengembangkan potensi pariwisata daerah.

Masyarakat berharap kegiatan ini dapat terus berlanjut dengan skala yang lebih luas serta dukungan pemerintah yang lebih besar, khususnya dalam aspek pendanaan, agar tradisi ogoh-ogoh semakin dikenal dan mampu menginspirasi daerah lain.

 

Reporter: Salwa Hunafa, Anindya Malka, Nadzira Inas, Alya Nabilah, Ardanezwara, Salsa Puspita

Penulis: Salwa Hunafa, Anindya Malka, Nadzira Inas, Alya Nabilah

Editor: Salsa Puspita, Andaru Surya

Scroll to Top