
Konser grup musik pop Jawa dan dangdut koplo, Aftershine, di Bekasi (25/10/2023). (Sumber: bekasi.pojoksatu.id)
Musik – Musik Jawa telah mengalami banyak perubahan besar yang secara tidak langsung menjembatani antar generasi. Ia telah berhasil mengubah label “kampung” dan “marjinal” menjadi lebih modern dengan audiens baru yakni Generasi Z atau Gen Z. Perubahan tersebut diprakarsai oleh sosok legenda campursari, mendiang Didi Kempot, yang dijuluki sebagai “Godfather of Brokenheart”. Lagu-lagunya yang sangat emosional, mudah dimengerti, dan dibungkus menggunakan bahasa Jawa telah berhasil menggaet banyak audiens lintas generasi.
Dilansir dari RRI (Radio Republik Indonesia) Cirebon (2023), musik-musik Jawa, termasuk karya Didi Kempot, diciptakan untuk mewakili perasaan orang biasa yang sederhana, jujur, dan sangat emosional. Hal-hal tersebut menjembatani generasi tua dengan Gen Z yang kemudian menemukan gelombang musisi baru dengan lagu berbahasa Jawa seperti Lavora dan Aftershine yang memadukan unsur tradisional lewat lirik dan unsur modern melalui saluran distribusi yang dipilih seperti TikTok.
Musisi Gen Z dan Rebranding Musik Dangdut Jawa
Menurut RRI Purwokerto (2024), Gen Z berperan penting sebagai kekuatan pendorong kebangkitan industri musik dangdut Jawa di mana mereka mengambil dua peran penting, yakni sebagai produsen (musisi) dan konsumen (audiens). Musisi-musisi baru yang muncul setelah tahun 2010 seperti NDX AKA, Lavora, Aftershine, maupun solois seperti Denny Caknan berhasil melestarikan bahasa Jawa dalam bentuk musik tetapi tetap bereksperimen dengan berbagai genre musik lain seperti pop dan hip-hop.
Mengapa Lagu Jawa Sekarang ‘Menempel’ di Kalangan Gen Z?
Lirik emosional yang sering bertema patah hati, kerinduan, dan perjuangan sehari-hari membuat musik Jawa lebih mudah beresonansi dengan Gen Z (RRI Cirebon, 2023). Hal tersebut sejalan dengan sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa lirik lagu dapat memengaruhi ekspresi emosional dan kebiasaan berbahasa sehingga memperkuat hubungan pribadi pendengar dengan musik (Jadmiko & Damariswara, 2021). Pola pengulangan tema lagu ini menjadikan musik Jawa mudah diingat dan digemari. Selain itu, penggunaan diksi yang mudah dipahami turut membuat musik Jawa lebih mudah dinikmati, bahkan oleh kalangan non-Jawa.
Peran TikTok dalam Populernya Musik Jawa
Maraknya penggunaan TikTok oleh masyarakat lintas generasi turut mendukung penjenamaan ulang musik Jawa. Platform tersebut memungkinkan lagu-lagu menjadi viral lewat video pendek yang kemudian membuat pengguna dapat mengaitkannya dengan konten relevan atau emosional. Pola ini juga kerap dibungkus dengan tren-tren seperti dance TikTok sederhana, ataupun hanya sekadar unggahan musik dengan kalimat-kalimat motivasi.
Dikutip dari Detik.com (2026), TikTok berperan penting dalam membentuk tren musik, termasuk meningkatnya popularitas musik dangdut dan variasinya lewat budaya partisipatif. Budaya partisipatif ini berarti pengguna bebas membuat kover dan remix menyesuaikan dengan selera pasar, tetapi tetap tidak menghilangkan unsur utama musik Jawa, yakni liriknya.
Evolusi musik Jawa dari masa ke masa menunjukkan bahwa karya seni dapat beradaptasi dan berkembang sesuai dengan perubahan zaman tanpa kehilangan esensinya. Gen Z yang diyakini sebagai nakhoda penggerak penjenamaan ulang musik Jawa, berperan tidak hanya sebagai audiens, tetapi juga selaku produser musik sehingga kesan musik Jawa sebagai lagu orang tua justru berubah menjadi lagu Gen Z. Ditambah dengan maraknya penggunaan media sosial khususnya TikTok, musik Jawa tidak hanya menjadi viral, tetapi kembali menunjukkan taringnya di era globalisasi.
Penulis: Elsa Erlani Wulandari
Editor: Andaru Surya, Salsa Puspita
Referensi:
Detik.com. (2026). Tren musik 2026: Dangdut makin gaul, TikTok masih kunci. https://www.detik.com/pop/music/d-8303668/tren-musik-2026-dangdut-makin-gaul-tiktok-masih-kunci
Jadmiko, R. S., & Damariswara, R. (2021). Perkembangan Bahasa Anak Penggemar Musik Dangdut Koplo Berbahasa Jawa. Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra, 14(2), 145–154. https://doi.org/10.30651/st.v14i2.7930
RRI Cirebon. (2023). Mengapa lagu Jawa nempel di hati Gen Z. https://gayahidup.rri.co.id/cirebon/hiburan/1525430
RRI Purwokerto. (2024). Gen Z jadi roda bergerak kebangkitan industri musik Jawa. https://gayahidup.rri.co.id/purwokerto/hiburan/2261110



