Teror Spam Call Menyasar Mahasiswa Undip: Dugaan Kebocoran Data Mahasiswa

Beberapa nomor tidak dikenal melakukan spam call terhadap mahasiswa Undip (Sumber: Manunggal)

Warta Utama — Universitas Diponegoro (Undip) dihebohkan dengan telepon beruntun atau spam call yang menyasar mahasiswa-mahasiswa Undip. Kejadian tersebut mulai ramai sejak munculnya sebuah postingan di akun X dengan nama pengguna @undipmfs2 atau yang dikenal sebagai Undip Menfess pada Selasa (10/2) pukul 13.58 Waktu Indonesia Barat (WIB). Postingan milik awanama alias anonim tersebut menjelaskan bahwa dirinya diteror dengan spam call dari orang tak dikenal (OTK).

Postingan di akun X Undip Menfess membagikan pengalaman pemilik postingan yang diteror spam call (Sumber: X/@undipmfs2)

Kejadian spam call tidak hanya dialami oleh satu mahasiswa Undip, tetapi lebih dari itu. Bahkan, komentar-komentar dalam postingan tersebut menampilkan berbagai pengakuan bahwa mereka mengalami hal serupa dengan pola yang sama, yakni penelepon:

  1. mengaku sebagai bagian dari Polres atau Kepolisian Daerah (Polda);
  2. menyebutkan dengan tepat nama lengkap, asal atau tempat tinggal, dan prodi mahasiswa;
  3. mengutarakan ancaman kepada mahasiswa;
  4. beberapa nomor memiliki 11 atau 10 angka depan yang sama, sementara hanya satu atau dua angka terakhir yang berbeda, seperti 081776363336, 081776363339, 081776363340, dan lainnya.

Beberapa nomor telepon tidak dikenal yang menghubungi mahasiswa (Sumber: Manunggal)

Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Angkatan 2024, Muhammad Ezza Aqilathaya atau kerap disapa Ezza merupakan salah satu mahasiswa yang mengalami kejadian spam call. Ia mengatakan bahwa dirinya menjawab telepon dari OTK yang menghubungi salah satu temannya saat di kampus. Awalnya, ia pernah dihubungi oleh nomor tidak dikenal dan mengira itu hanya layanan penawaran pulsa seperti biasanya. Namun ternyata, sang penelepon mengaku berasal dari Polda Jawa Tengah (Jateng). Menurut Ezza, nada bicara OTK tersebut terdengar seperti penipu lewat telepon pada umumnya. 

“Ada nomor telepon nggak dikenal, aku kira itu layanan pulsa, terus aku angkat. Pas aku angkat, dia tanya. Cuma dari nadanya tuh aku sudah tahu pasti kalau ini penipu dan dia mengaku kalau dia dari Polda Jateng,” ujar Ezza saat diwawancarai Awak Manunggal pada Kamis (12/2).

Keesokan harinya, salah seorang teman dari Ezza mengalami hal serupa. Ia kemudian menjawab telepon dari ponsel temannya tersebut. Ezza mengatakan bahwa sang penelepon telah mengetahui nama, prodi, dan asal atau tempat tinggal temannya yang menjadi korban spam call tersebut. 

“Sebelumnya tuh dia sudah menyebutkan data-data temanku dulu, kayak misalnya data dari Demak, dari mahasiswa Ilmu Komunikasi, kayak gini,” ungkap Ezza.

Dalam percakapan telepon tersebut, penelepon menyampaikan kepada Ezza bahwa temannya berada dalam masalah dan harus mendatangi Polres saat itu. Ezza  saat itu berpura-pura sebagai temannya bertanya mengenai apa permasalahan tersebut, tetapi penelepon tidak menjelaskan secara jelas terkait permasalahan yang dimaksud. Penelepon juga mengarahkan Ezza untuk ke tempat yang lebih sepi agar percakapan telepon lebih kondusif. Akan tetapi, Ezza tidak menghiraukan dan justru meledek cara berbicara penelepon tersebut. 

“Pak, kalau misalnya mau menipu, dibenerin dulu cara ngomongnya,” ucap Ezza menirukan dirinya saat menjawab telepon dari penelepon yang dimaksud.

Tidak hanya itu, Ezza juga menerima ancaman dari penelepon sebelum dirinya mengakhiri percakapan dengan penelepon tersebut.

“Dia mengancam kayak, kakek kamu masih kuat jalan? Masih kuat jalan? Gini, gini, gini, dan lain-lain, gitu. Ya, dia ngancam-ngancam kayak gitu, kan,” ungkap Ezza.

Tidak hanya Ezza, mahasiswa lainnya juga menjadi korban spam call, seperti Ria (nama disamarkan) yang ditelepon 19 kali oleh nomor yang tidak dikenal. Saat dihubungi oleh Awak Manunggal pada Rabu (11/2), Ria menyatakan bahwa dirinya mengalami spam call sebanyak

enam kali pada 11 Desember 2025, satu kali pada 14 Desember 2025, lima kali pada 15 Desember 2025, dua kali pada Selasa (10/2), dan lima kali pada Rabu (11/2). Meskipun demikian, Ria lebih memilih untuk tidak menjawab telepon tersebut. Ia kemudian mengatur setelan dalam ponselnya agar tidak menerima telepon dari nomor yang tidak disimpan dalam kontak.

“Mengatur agar tidak mendapatkan panggilan dari nomor yang tidak disimpan,” terang Ria saat dihubungi Awak Manunggal.

Meskipun tidak menjawab panggilan telepon tersebut, Ria membagikan pengalaman dari kakak tingkat di fakultasnya yang mengalami hal serupa, bahkan penelepon mengancam kakak tingkatnya tersebut dengan data pribadi.

“Tapi kata kakak tingkatku ada yang jawab, terus si penipu mengancam kalau (penelepon) punya data pribadinya,” terang Ria.

Selain Ria, mahasiswa lainnya bernama Wiwi (bukan nama sebenarnya) juga mengaku sudah mengalami spam call sejak tahun 2025, tepatnya pada bulan Desember lalu. Dalam sehari, Wiwi bisa menerima spam call sebanyak sekitar tiga hingga lima kali. Meskipun penelepon tidak menyebutkan data pribadi, Wiwi cukup kewalahan dengan banyaknya nomor tidak dikenal yang terus-menerus melakukan spam call.

“Sebenarnya saya sempat memblokir beberapa nomor, tapi akhirnya bermunculan nomor-nomor baru yang membuat saya kewalahan,” tulis Wiwi saat dihubungi Awak Manunggal pada Kamis (12/2). 

Menanggapi isu spam call yang marak terjadi, Ezza berpendapat bahwa terdapat dugaan kebocoran data milik mahasiswa Undip, seperti melalui sistem Single Sign On (SSO) dan dugaan kebocoran data mahasiswa Undip bukan hanya terjadi sekali. Selain itu, Ezza mengaku khawatir jika kebocoran data juga menyasar data-data pribadi milik keluarga, seperti orang tua. Ia juga khawatir jika terdapat seseorang yang terjebak dengan modus penipuan serupa.

“Mungkin kalau misalnya mereka yang sudah berpengalaman ya mereka pasti sudah tahu kan gimana. ‘Oh, ini penipu atau nggak’. Nah, takutnya mereka yang belum benar-benar tahu gitu loh, takutnya malah jadi parah ke depannya,” tutur Ezza.

Menanggapi keresahan yang muncul di kalangan mahasiswa, pihak Undip mengeluarkan edaran berupa pengumuman resmi kepada seluruh sivitas akademika melalui unggahan di Instagram dengan nama akun @undip.official pada Kamis (12/2).

Dalam pengumuman tersebut, Undip mengimbau mahasiswa agar meningkatkan kewaspadaan terhadap maraknya upaya penipuan melalui telepon yang mengatasnamakan institusi resmi seperti kepolisian, Direktorat Jenderal Pajak (DJP), perbankan, maupun lembaga pemerintahan lainnya. Pihak kampus menjelaskan bahwa modus yang umum digunakan antara lain menginformasikan adanya perkara hukum, pelanggaran, atau tunggakan pajak, kemudian diikuti dengan ancaman konsekuensi hukum atau pemblokiran rekening. 

Pengumuman dari Undip sebagai tanggapan mengenai kejadian spam call yang marak di kalangan mahasiswa Undip (Sumber: Instagram/@undip.official)

Penelepon biasanya meminta data pribadi seperti Nomor Induk Keluarga (NIK), nomor rekening, kode One-Time Password (OTP), hingga kata sandi, bahkan mengarahkan korban untuk melakukan transfer sejumlah uang. Undip sendiri menegaskan bahwa data pada server universitas dalam kondisi aman dan terlindungi. Pihak Undip juga menyatakan tidak pernah memberikan data pribadi sivitas akademika kepada pihak yang tidak berwenang.

Catatan: Awak Manunggal telah mencoba menghubungi dan mendatangi pihak Information Technology (IT) Undip pada Kamis (12/2) untuk meminta keterangan lebih lanjut terkait maraknya laporan spam call yang mengatasnamakan institusi resmi. Ketika dimintai keterangan di Gedung Information and Communication Technology (ICT) Centre Undip pada sekitar pukul 14.30 WIB, pihak Direktorat Sistem dan Teknologi Informasi (DSTI) Undip menolak untuk memberikan tanggapan mengenai isu spam call dengan rasionalisasi bahwa segala bentuk klarifikasi telah disampaikan melalui pengumuman yang sudah diedarkan dari Undip. Selain itu, pihak DSTI Undip juga menjelaskan bahwa penolakan ini terjadi lantaran kekhawatiran akan dampak dari diangkatnya isu ini. Pihak DSTI Undip menegaskan bahwa segala bentuk keterangan mengenai data digital merupakan informasi rahasia yang tidak dapat diumumkan.

Reporter: Tialova Rafita, Anindya Malka, Najwa Hanindya, Salwa Hunafa

Penulis: Najwa Hanindya, Salwa Hunafa, Alya Nabilah

Editor: Salsa Puspita, Andaru Surya

Scroll to Top