
Serangan Umum 1 Maret 1949 adalah serangan yang dilakukan oleh jajaran militer Divisi III/GM III untuk merebut kembali kota Yogyakarta, sekaligus sebagai bukti kepada dunia internasional bahwa bangsa Indonesia cukup kuat dan mampu memberikan perlawanan kepada penjajah. Tujuan utama serangan tersebut ialah untuk meruntuhkan moral pasukan Belanda dan juga membuktikan kepada Internasional bahwa TNI memiliki kekuatan yang cukup besar untuk melakukan perlawanan.
Pada 19 Desember 1948, Belanda melancarkan serangan ke Ibu Kota Yogyakarta dalam Agresi Militer yang kedua. Serangan tersebut dilancarkan ke beberapa objek vital, seperti istana kepresidenan, markas TNI, dan bandara Maguwo dengan sasaran utamanya adalah para pejabat tinggi Republik Indonesia. Presiden Soekarno, Wakil Presiden Muhammad Hatta, dan beberapa menteri kabinet ditangkap saat sidang kabinet berlangsung yang kemudian diasingkan ke luar Jawa (Subekty: 2010).
Kondisi negara yang kacau ini dimanfaatkan oleh pihak Belanda untuk memperluas hegemoninya pada dunia Internasional. Belanda menganggap pemerintahan RI telah hilang semenjak Soekarno-Hatta diasingkan. Seiring berjalannya waktu, TNI melemah dan tidak dapat menjaga stabilitas keamanan sehingga kemiskinan yang cukup parah mengakibatkan pemerintah dianggap gagal mengelola negara (Sumiyati 2001: 2). Belanda menginginkan agar pihak luar negeri tidak menghiraukan Republik Indonesia. Selanjutnya, apakah serangan Belanda mengakibatkan Indonesia semakin kacau?
Kronologi Serangan Umum 1 Maret 1949
Setelah Soekarna-Hatta diasingkan, Indonesia kian kacau. Sebagai satu-satunya pemimpin di Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwono IX menyadari bahwa semangat prajurit dan rakyat kian merosot. Sultan Hamengku Buwono IX berinisiatif untuk melakukan serangan besar-besaran kepada Belanda. Serangan ini ditujukan untuk membangkitkan moral tentara dan rakyat yang dilancarkan sebelum dilaksanakannya sidang Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Hal tersebut sekaligus menjadi momentum untuk menopang perjuangan diplomasi (Sumiyati 2001: 4).
Serangan umum tersebut kemudian dimulai pukul 06.00 WIB. Pada masuk waktu tersebut sirine berbunyi untuk menandakan bahwa jam malam sudah selesai. Semua TNI menyerang dari segala arah sehingga pasukan Belanda kabur dari Yogyakarta. Setelah Belanda kabur dari Yogyakarta, TNI dapat menguasai Yogyakarta selama kurang lebih enam jam. Kejadian tersebut dapat menggagalkan niat Belanda yang ingin menghapus Republik Indonesia.
Dampak Serangan Umum 1 Maret 1949
Serangan Umum 1 Maret 1949 memberi dampak besar bagi Republik Indonesia. Penyerangan yang mendadak dan serentak dilakukan dari segala penjuru kota, secara tidak langsung mempermalukan pasukan Belanda karena pasukan Belanda hanya dapat bertahan di markas-markas (Yenny, 2018:297). Hal tersebut sekaligus membantah pernyataan Belanda bahwa Republik Indonesia dqn TNI telah hancur.
Hal yang tak kalah penting dari Serangan Umum 1 Maret 1949 adalah dampak psikologis dan politis yang ditimbulkan. Serangan tersebut mampu menaikkan semangat rakyat dan prajurit yang telah merosot semenjak agresi militer Belanda kedua (Kemendikbud: 2018).
Secara politis, banyak negara yang bersimpati terhadap kasus Indonesia di PBB sehingga hal tersebut dapat membantu proses diplomasi. Maka dari itu, semangat Serangan Umum 1 Maret 1949 sudah selayaknya harus bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk tidak kenal menyerah dan mempunyai daya juang tinggi dalam menghadapi segala rintangan.
Referensi
Kemendikbud. 2018. “Jogja Mendunia. Pameran Peringatan Serangan Umum 1 Maret 1949 Resmi Dibuka”. (online). https://vredeburg.id/id/post/jogja-mendunia-pameran-peringatan-serangan-umum-1-maret-1949-resmi-dibuka Diakses pada 23 Februari 2021.
Sumiyati, Sri Endang. 2001. Pelurusan Sejarah Serangan Oemoem 1 Maret 1949. Yogyakarta: Media Pressindo
Subekty, 2010. “Serangan Umum 1 Maret 1949”. (online). https://subektyw. wordpress.com/2010/12/14/21/ Diakses pada 23 Februari 2021.
Yenny, Setiawan. 2018. “Serangan Umum 1 Maret 1949”. (online). https://docplayer.info/69879906-Bab-xi-serangan-umum-1-maret-1949.html Diakses pada 23 Februari 2021.
Penulis : Nirmala Dian P, Mahasiswa Sastra Indonesia 2019.
Editor : Aslamatur Rizqiyah, Dyah Satiti



