Wacana Student Loan sebagai Alternatif Terhadap Lonjakan Biaya UKT di Perguruan Tinggi

Dilema student loan dalam merespons lonjakan biaya kuliah (Sumber: Detik.com)

 

Peristiwa – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengusulkan agar bank menyediakan pinjaman khusus bagi mahasiswa dengan suku bunga rendah, sebagai tanggapan atas keluhan mahalnya Uang Kuliah Tunggal (UKT) oleh mahasiswa pada Selasa, (20/5).

Seperti yang kita ketahui, lonjakan biaya UKT yang signifikan sedang menjadi topik hangat dan memicu protes dari kalangan mahasiswa. Para mahasiswa mendesak agar rektorat dan pemerintah meninjau ulang kebijakan kenaikan UKT sehingga dapat menemukan solusi yang lebih berpihak pada kepentingan rakyat.

Mahalnya biaya kuliah ini menimbulkan kekhawatiran bahwa akses terhadap pendidikan akan semakin terbatas bagi kalangan masyarakat kurang mampu. Oleh karena itu, OJK mengusulkan agar bank menyediakan pinjaman khusus bagi mahasiswa dengan suku bunga rendah sebagai alternatif pembiayaan.

OJK kini sedang berunding dengan para Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK) untuk mendorong mekanisme pinjaman dana pendidikan bagi mahasiswa yang serupa dengan di Amerika Serikat. Menanggapi inisiatif ini, sejumlah bank besar dalam negeri juga memberikan tanggapan dan pandangan mereka.

“Dengan skema yang lebih student friendly. Misalnya nanti bayarnya pas anaknya kerja,” ujar Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku PUJK, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen OJK Friderica Widyasari Dewi, pada acara Training of Trainers OJK bagi guru. 

Ia menjelaskan bahwa pembayaran yang dimulai setelah mahasiswa lulus dan bekerja dapat menjadi salah satu solusi efektif untuk meringankan beban finansial selama masa studi.

Selain itu, Friderica atau yang akrab disapa Kiki tersebut juga menegaskan bahwa skema ini harus dirancang dengan matang agar tidak menambah beban keuangan di kemudian hari.

“Selama skemanya bagus dan tidak memberatkan, itu bisa jadi pilihan, dari perbankan juga ada,” lanjutnya.

Menurutnya, dari diskusi dengan beberapa PUJK, ada dorongan untuk menciptakan pinjaman mahasiswa dengan harga dan mekanisme yang ramah bagi mahasiswa.

Direktur Utama Bank Syariah Indonesia (BSI) Hery Gunardi, menyatakan bahwa perbankan umumnya mendukung inisiatif positif seperti pinjaman mahasiswa. Namun, ia menekankan pentingnya mengevaluasi situasinya terlebih dahulu.

Sementara itu, Direktur Bank Central Asia (BCA) Jahja Setiaatmadja, menjelaskan bahwa asal universitas mahasiswa akan menjadi salah satu kriteria penting yang diperhatikan dalam pemberian pinjaman.

“Ya, yang penting itu dari universitas yang mana, terutama misalnya dekat-dekat (tahun, red) akhir, kalau dari awal (terima pinjaman, red) tahu-tahu dia putus sekolah, kan habis sudah. Jadi harus lihat, yang penting list-nya apa saja yang diberikan,” ujarnya.

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim, mengungkapkan pandangannya terkait perkembangan rencana pelaksanaan pinjaman khusus bagi pelajar atau student loan. Dia menjelaskan bahwa pembahasan terkait student loan saat ini masih berlangsung secara internal.

Di Amerika Serikat, pinjaman mahasiswa menimbulkan masalah jangka panjang karena lulusan harus melunasi utang setelah memasuki dunia kerja. Mengingat hal ini, pihak terkait mengadakan diskusi dengan bank dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk merancang skema pinjaman pendidikan yang lebih terjangkau bagi mahasiswa.

Dengan kerja sama dan komitmen yang kuat dari semua pihak terkait, diharapkan skema pinjaman pendidikan ini dapat menjadi salah satu solusi yang efektif dalam meningkatkan akses pendidikan tinggi bagi masyarakat Indonesia.

 

Penulis: Verheina Jasmine Shakatax

Editor: Hesti Dwi Arini, Ayu Nisa’Usholihah 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top