Warta Utama – Universitas Diponegoro (Undip) sukses menjadi tuan rumah sekaligus peraih dua gelar Juara 1 dalam ajang Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Tingkat Nasional 2025. Ajang yang digelar pada Sabtu (25/10) hingga Selasa (28/10) di Undip ini, diikuti oleh 31 mahasiswa terbaik dari seluruh Indonesia yang terdiri atas 15 peserta program Sarjana dan 16 peserta program Diploma.
Dalam ajang bergengsi yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) tersebut, dua mahasiswa Undip berhasil menorehkan prestasi gemilang. Felicia Hestiawan, mahasiswa Program Studi (Prodi) Teknik Kimia Fakultas Teknik (FT), dinobatkan sebagai Juara 1 Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) Nasional Program Sarjana, sementara Callysta Najmi Raissa dari Prodi Teknologi Rekayasa Kimia Industri Sekolah Vokasi (SV) juga berhasil meraih Juara 1 Program Diploma.
Perjalanan Dua Pejuang Mawapres
Kemenangan di ajang Pilmapres menjadi momen tak terlupakan bagi Felicia. Mahasiswi Teknik Kimia ini mengaku sama sekali tidak menyangka bisa menempati posisi tertinggi di tingkat nasional.
“Nomor satu nggak pernah ada di pikiranku sama sekali. But, I always want to put my best in everything. Kemenangan ini aku persembahkan ke Tuhan, almarhum papaku, mama dan kakakku, serta seluruh rekan yang membuat aku hingga saat ini,” tutur Felicia.
Ia bercerita, awalnya ia hanya mencoba ikut seleksi dari tingkat departemen tanpa banyak ekspektasi. Namun, langkah kecil itu justru mengantarkannya hingga ke ajang nasional.
“Awalnya aku cuma coba-coba ikut seleksi dari tingkat departemen, kemudian lanjut terus sampai universitas,” ujarnya.
Felicia menuturkan bahwa pengalaman mengikuti Pilmapres benar-benar melampaui ekspektasinya. Baginya, berada di antara mahasiswa-mahasiswa terbaik dari Undip adalah sebuah kehormatan tersendiri. Ia bahkan sempat meragukan dirinya, mempertanyakan mengapa ia yang terpilih di antara banyak kandidat hebat. Namun, saat memasuki tahap nasional, ia menyadari bahwa perjuangan ini bukan hanya miliknya semata, melainkan juga bagian dari kehendak Tuhan.
Felicia pun menyampaikan bahwa penghargaan yang ia dapat saat ini bukan hanya miliknya, melainkan milik semua orang yang telah menjadi bagian dari prosesnya.
“Penghargaan ini untuk semua yang telah membantu aku menjadi seseorang yang sekarang. Dan pastinya, untuk Felicia kecil yang selalu ragu tentang masa depannya–finally, you made it!” ungkapnya.
Sementara itu, Callysta mengaku hampir tidak mengikuti seleksi Pilmapres tingkat fakultas karena keterbatasan waktu. Saat itu, ia baru saja tiba di Jakarta dan sempat berpikir dua kali untuk kembali ke Semarang hanya demi seleksi. Namun, dorongan hati kecil membuatnya memutuskan untuk mencoba.
“Sempat terlintas pikiran, ‘Is it worth it to come back ke Semarang hanya untuk seleksi ini?’ Tapi entah kenapa, hati kecil saya bilang untuk tetap mencoba,” ujarnya.
Keputusan sederhana itu menjadi titik balik. Ia lolos di tingkat fakultas, lanjut ke pra-seleksi universitas, dan akhirnya masuk tiga besar mahasiswa vokasi yang dikarantina di Jepara. Saat diumumkan sebagai juara pertama tingkat universitas, Callysta menyadari bahwa mungkin inilah kesempatan yang selama ini ia cari. Dari sana, langkahnya terus berlanjut hingga ke tingkat nasional.
“Setiap tahap selalu melampaui ekspektasi saya sendiri, dan saya belajar satu hal penting–ketika kita menjalani sesuatu dengan hati yang senang dan tulus, hasilnya akan selalu melampaui yang kita bayangkan,” tutur Callysta.
Setelah melewati seluruh rangkaian seleksi Pilmapres Tingkat Nasional 2025, Callysta menceritakan momen yang berkesan baginya, yaitu saat menghadapi tahap presentasi produk inovatif. Meski berasal dari bidang kimia, ia harus mempelajari aspek elektrikal dan otomasi agar alat buatannya berfungsi dengan baik.
“Rasanya seperti menantang diri untuk keluar jauh dari zona nyaman,” ucapnya.
Setelah seluruh seleksi berakhir, ia merasa bangga bukan karena menang, tapi karena mampu melalui semuanya dengan ikhlas. Ia menilai bahwa kemenangan ini adalah tentang perjalanan, bukan sekadar hasil.
“Yang langsung terlintas di benak saya bukan rasa bangga, tapi seluruh perjuangan panjang bersama partner saya, Felicia. Kami mencoba, gagal, memperbaiki, dan tumbuh bersama,” katanya.
Tantangan di Balik Gelar Mawapres
Meski keduanya berhasil menorehkan prestasi di tingkat nasional, perjalanan menuju puncak tentu tidak mudah. Menurut Felicia, tantangannya justru ada pada dirinya sendiri–bagaimana cara dia untuk terus menjaga konsistensi dalam memberikan kinerja yang optimal.
“Pilmapres punya banyak tahap dari awal sampai nasional. Tantangannya adalah bagaimana tetap konsisten, selalu memberikan kinerja yang optimal, bahkan harus terus membaik di tiap seleksi,” tutur Felicia.
Sementara Callysta mengakui bahwa tantangan terbesar justru datang dari dalam diri sendiri–melawan rasa ragu dan mempertahankan keyakinan di tengah tekanan. Ia mengatakan bahwa, “kemenangan tidak akan berarti tanpa kemampuan untuk menenangkan diri dan percaya bahwa diri sendiri mampu.”
Selain itu, bagi mahasiswa vokasi, tantangan bertambah karena mereka dituntut menghasilkan produk inovatif yang tidak hanya kreatif secara ide, tapi juga kuat secara teknis dan realistis.
“Dalam prosesnya, kami harus menghadapi berbagai kendala, dari alat yang tidak sesuai hingga bahan yang perlu diganti. Semua harus melalui evaluasi berulang agar hasilnya benar-benar terbaik,” jelas Callysta.
Felicia mengenang perjuangannya dalam mempersiapkan diri, dari latihan hingga revisi berkali-kali di berbagai aspek.
“Aku inget banget dulu nilai Capaian Unggulan (CU) aku rendah banget, tapi akhirnya mencoba pelan-pelan ikut kegiatan di luar dan bisa sampai saat ini. Pastinya ini nggak lepas dari bantuan kampus juga,” katanya.
Dukungan Kampus yang Menguatkan Langkah
Di tengah tekanan dan perjuangan itu, keduanya mengakui bahwa dukungan lingkungan kampus memegang peran penting. Menurutnya Undip selalu memberikan ruang dan dukungan penuh, baik dari segi bimbingan maupun fasilitas lomba. Callysta pun merasakan hal yang sama, menegaskan bahwa dukungan kampus, dosen pembimbing, dan tim Task Force Pilmapres Undip sangat berperan dalam prosesnya.
“Tanpa dukungan dari orang-orang sekitar, saya mungkin tidak akan pernah tahu sejauh apa kemampuan dan potensi terbaik dalam diri saya,” ujarnya.
Lebih dari Sekadar Gelar
Keduanya sepakat bahwa menjadi Mawapres bukan berarti menjadi yang paling unggul, melainkan sosok yang bisa memberi inspirasi dan dampak positif.
“Menang bukan berarti kamu segalanya. Ketika mendapat gelar ini, artinya kamu punya tanggung jawab besar untuk menjadi role model dan membawa dampak bagi banyak orang,” ujar Felicia.
Callysta menambahkan bahwa kemenangan ini justru membuka tanggung jawab baru untuk terus berkembang dan membantu orang lain, terutama mahasiswa vokasi. Ia ingin menjadi jembatan bagi generasi berikutnya agar berani melangkah dan percaya diri menunjukkan potensinya.
“Saya ingin menunjukkan bahwa mahasiswa vokasi punya potensi besar untuk bersaing dan berprestasi, asalkan mau berusaha dan saling mendukung,” tegasnya.
Pesan untuk Mahasiswa Lain
Dalam penutup wawancara bersama Awak Manunggal, kedua Mawapres ini menyampaikan pesan kepada mahasiswa di luar sana yang saat ini sedang dalam prosesnya masing-masing.
“Selalu semangat, keep doing your best and seize every opportunity. Tapi aku juga percaya bahwa ‘kuda diperlengkapi di hari peperangan, tapi kemenangan ada di tangan Tuhan’. Do your best and let God do the rest,” pesan Felicia.
Sementara Callysta berpesan agar setiap mahasiswa menjalani proses dengan ketulusan, karena hasil terbaik datang bukan dari kesempurnaan, tetapi dari niat yang tulus.
“Jangan ikut kompetisi karena ingin terlihat hebat, tapi karena ingin memberi makna. Kadang hasil terbaik datang bukan karena kita sempurna, tapi karena kita tulus,” tuturnya.
Perjalanan Felicia dan Callysta dalam ajang Pilmapres Nasional 2025 menjadi bukti bahwa prestasi bukan hanya soal siapa yang paling unggul, melainkan tentang bagaimana seseorang berani berproses, melampaui batas diri, dan memberi makna melalui setiap langkah. Keduanya membuktikan bahwa semangat, konsistensi, ketulusan, dan keberanian untuk terus mencoba adalah kunci sejati menuju keberhasilan.
Reporter: Nuzulul Magfiroh
Penulis: Nuzulul Magfiroh
Editor: Nurjannah