Tren Akun TikTok Serba Undip Berseliweran: dari Lucu-lucuan sampai Cuan-cuanan

Opini – Belakangan ini, For Your Page (FYP) TikTok ramai banget sama berbagai akun yang pakai embel-embel nama Universitas Diponegoro (Undip). Dari hari ke hari, jumlahnya makin banyak aja. Ada @undip.cantik, @undip.ganteng, @musang.undip, @undip_cagur, @undip.fineshyt dan entah berapa lagi akun lain yang tiba-tiba muncul di FYP mahasiswa Undip. Awalnya, kehadiran akun-akun ini cuma dianggap sebagai hiburan ringan atau lucu-lucuan semata oleh mahasiswa Undip. Tapi makin ke sini, beberapa akun justru memanfaatkan tren ini buat keperluan komersial.

Kalau ditarik ke belakang, fenomena akun-akun Undip ini sebenarnya bukan hal baru. Sekitar tahun 2015, sempat viral akun Instagram @undip.cantik yang sering mengunggah visual mahasiswa Undip.  Namun, kehadiran akun tersebut menuai pro dan kontra. Sebagian mahasiswa menikmatinya karena dianggap hiburan ringan sekaligus ajang memperkenalkan mahasiswi Undip. Tapi sebagian lain menilai akun semacam ini terlalu subjektif karena hanya menampilkan kecantikan fisik—padahal definisi cantik itu relatif. Bahkan, kehadiran akun tersebut tidak hanya menimbulkan rasa tidak percaya diri bagi pemilik foto yang takut tidak sesuai dengan ekspektasi “standar cantik” versi audiens, tetapi juga bagi perempuan lain yang merasa dirinya tidak termasuk dalam kategori yang ditampilkan.

Seiring berjalannya waktu, platform media sosial pun ikut berubah. Bergeser dari Instagram, TikTok hadir sebagai ruang baru yang lebih cepat dan interaktif di kalangan mahasiswa. Sekitar Agustus 2025, muncul kembali akun @undip.cantik dan @undip.ganteng versi TikTok dengan konsep serupa—menampilkan mahasiswa Undip dalam balutan Jedag Jedug (JJ).

Tak lama kemudian, fenomena ini berkembang semakin luas. Awalnya, muncul akun @musang.undip yang disebut-sebut sebagai “counter” dari @undip.ganteng. Kehadiran akun tersebut justru semakin menghidupkan suasana, karena dianggap lucu-lucuan bagi mahasiswa Undip. Banyak yang berseloroh kalau Undip sekarang kampus paling sibuk di TikTok karena hampir tiap hari ada saja akun baru yang membawa-bawa nama Undip.

Setelah itu, satu per satu akun lain mulai bermunculan. Fenomena ini sempat disambut positif oleh sebagian mahasiswa karena dianggap menghibur. Namun, seiring waktu, mulai muncul suara-suara kontra. Beberapa mahasiswa menilai penggunaan nama Undip secara bebas di media sosial terasa kurang etis, terlebih jika tidak jelas siapa yang menjadi adminnya—apakah benar mahasiswa Undip atau justru orang luar yang hanya ingin ikut viral. Ada juga yang menganggap tren ini sekadar bentuk haus validasi di dunia maya.

Menariknya, tren ini tidak berhenti di situ saja. Dari yang awalnya sekadar lucu-lucuan, kini mulai bergeser arah jadi ladang cuan dengan memanfaatkan popularitasnya untuk mencari keuntungan. Ada yang membuka jasa unggah foto berbayar—siapa pun bisa tampil di postingan akun tersebut asal mau transfer dulu sesuai tarif yang ditentukan admin. Fenomena ini membuat sebagian mahasiswa bertanya-tanya: kok jadi begini, ya? Dari hiburan, malah jadi ajang komersial?

Awak Manunggal kemudian mencoba menelusuri beberapa akun yang membawa embel-embel nama Undip di TikTok. Dari hasil penelusuran, ditemukan bahwa beberapa akun ternyata memang mematok biaya untuk setiap unggahan atau request konten. Misalnya, akun @circleundip dan @jawakan_undip menetapkan fee sebesar Rp10.000 untuk satu kali unggah, sementara akun @undip.cosplay memasang tarif Rp15.000 per video. Admin biasanya meminta data seperti nama, fakultas, hingga angkatan, lalu mengarahkan pembayaran ke rekening pribadi atau dompet digital.

Baru-baru ini, muncul story Instagram yang datang dari unggahan Bidang Kesejahteraan Mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Undip. Dalam story tersebut, mereka menyoroti maraknya akun anomali Undip di TikTok yang dianggap berpotensi menimbulkan objektifikasi, pelecehan di ruang digital, hingga eksploitasi demi keuntungan pribadi. Selain itu, penggunaan nama Undip secara sembarangan juga dianggap berpotensi mencoreng nama baik universitas di ruang publik.

Pergeseran dari konten hiburan menjadi ajang komersialisasi adalah hal yang paling disayangkan. Akun-akun yang awalnya bertujuan untuk lucu-lucuan, kini justru memanfaatkan popularitasnya untuk mencari keuntungan pribadi. Dengan mematok tarif tertentu untuk setiap unggahan, mereka seolah memperjualbelikan nama Undip dan mahasiswa di dalamnya.

Tentu saja, tidak ada yang salah dengan mencari uang. Namun, cara yang mereka lakukan terasa kurang etis. Menggunakan nama universitas untuk kepentingan komersial tanpa izin yang jelas adalah tindakan yang patut dipertanyakan. Apalagi, jika keuntungan yang didapatkan hanya dinikmati oleh segelintir orang, tanpa ada kontribusi positif bagi komunitas Undip secara keseluruhan.

Selain masalah komersialisasi, fenomena ini juga berpotensi menimbulkan objektifikasi dan eksploitasi. Akun-akun seperti @undip.cantik atau @undip.ganteng, misalnya, secara tidak langsung menciptakan standar kecantikan tertentu yang harus dipenuhi oleh mahasiswa. Hal ini bisa menimbulkan rasa tidak percaya diri bagi mereka yang merasa tidak sesuai dengan standar tersebut.

Lebih jauh lagi, ada risiko terjadinya pelecehan di ruang digital. Dengan mudahnya foto atau video mahasiswa diunggah ke akun-akun tersebut, privasi mereka bisa terancam. Apalagi, jika tidak ada mekanisme kontrol yang jelas terhadap konten yang diunggah.

Penggunaan nama Undip secara bebas di media sosial juga menjadi perhatian tersendiri. Sebagai sebuah institusi pendidikan tinggi, Undip memiliki reputasi yang harus dijaga. Penggunaan nama Undip secara sembarangan, apalagi untuk tujuan yang tidak jelas, berpotensi mencoreng nama baik universitas di mata publik.

Oleh karena itu, perlu ada kesadaran dari seluruh mahasiswa Undip untuk lebih bijak dalam menggunakan nama kampus di media sosial. Jangan sampai, kebebasan berekspresi yang kita nikmati justru merugikan diri sendiri dan nama baik almamater.

Fenomena akun TikTok serba Undip adalah cerminan dari perkembangan media sosial yang pesat. Di satu sisi, tren ini bisa menjadi ajang hiburan dan kreativitas bagi mahasiswa. Namun, di sisi lain, ada potensi eksploitasi, objektifikasi, dan pencemaran nama baik universitas.

Oleh karena itu, kita sebagai mahasiswa Undip harus lebih bijak dalam menyikapi fenomena ini. Mari kita manfaatkan media sosial untuk hal-hal yang positif dan bermanfaat, serta selalu menjaga nama baik almamater kita.

Penulis: Nuzulul Magfiroh

Editor: Nurjannah

Scroll to Top