
Penyerahan Stiker Barcode QRIS kepada Pemilik UMKM Desa Paluhombo, Rabu (14/8) (Sumber: Dok. Pribadi)
Citizen Journalism – Pada zaman sekarang, metode pembayaran cashless atau tanpa tunai menggunakan barcode QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) menjadi metode pembayaran yang sangat populer. Metode pembayaran QRIS yaitu berbentuk barcode yang harus dipindai oleh pembeli saat ingin melakukan transaksi.
Pembeli hanya perlu memindai barcode QRIS menggunakan aplikasi dompet elektronik tanpa harus mengeluarkan uang tunai. Selain itu, penggunaan teknologi pembayaran cashless juga menjadi faktor utama untuk mencapai status Smart Village.
Melihat segudang keunggulan cashless sekaligus untuk mendapatkan status Smart Village, Takhtiar Ghanimarasyad Iskandar, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim II Universitas Diponegoro (Undip), mengusung program kerja monodisiplin bertajuk “Pembuatan QRIS pada Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Desa Paluhombo” pada Senin, (29/7).
Program kerja (proker) ini dilakukan secara door-to-door yaitu dengan mengunjungi para pelaku UMKM yang ada di Desa Paluhombo. UMKM yang didampingi yakni Mie Ayam dan Bakso “Pak Rejo”, usaha yang bergerak di bidang makanan dan minuman. Kemudian, Takhtiar melakukan pendampingan ke Toko Kelontong “Nanik” dan Warung “Putune Mbah Kampung”, kedua usaha ini bergerak di bidang perdagangan sembako.
Sebelum melakukan pembuatan QRIS, Takhtiar memberikan materi secara singkat tentang QRIS, mulai dari pengertian, sistem pembayaran, sistem penarikan dana, cara mendaftar, hingga manfaat yang diperoleh. Selain itu, dipastikan juga bahwa pedagang tersebut memiliki rekening bank untuk mempermudah pemasukan dan penarikan dana.
Pembuatan QRIS ini mendapatkan apresiasi yang sangat tinggi dari ketiga pelaku UMKM tersebut.
“Saya sangat setuju dengan QRIS ini, program ini dapat memudahkan saya sebagai pedagang supaya tidak ribet mencari uang kembalian dan juga memudahkan bagi pembeli untuk membayar,” ujar Rejo, pemilik UMKM Mie Ayam dan Bakso Pak Rejo.
Selain mempermudah pedagang, Rejo menambahkan, “kalo yang beli disuruh membawa utang kembalian kan kadang suka kelupaan dan gak balik lagi, jadi hutang kembaliannya lupa dibayar.”
Metode ini dinilai dapat mengurangi jumlah hutang kembalian yang harus ditanggung oleh pembeli, sehingga pembeli tidak memiliki tanggungan hutang kepada pedagang.
Dengan terlaksananya proker ini, diharapkan dapat memajukan UMKM di Desa Paluhombo, terutama dalam bidang pemanfaatan teknologi agar Desa Paluhombo bisa mendapatkan status Smart Village.
“Harapan saya, mudah-mudahan dengan adanya QRIS, usaha semakin maju, banyak yang cocok dengan metode pembayaran ini,” ujar Rejo
Selain itu, Takhtiar juga berharap agar para pelaku UMKM lainnya semakin termotivasi untuk menggunakan metode pembayaran QRIS supaya dapat menarik banyak pelanggan sehingga dapat memajukan usaha mereka.
Penulis: Takhtiar Ghanimarasyad Iskandar (Mahasiswa Prodi Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis)
Editor: Ayu Nisa’Usholihah, Hesti Dwi Arini, Nuzulul Magfiroh



