Wadah Musik Sastra (WMS) dengan dresscode berwarna ala musim panas saat mempersiapkan pertunjukan musik. (Sumber: dok. Pribadi Emka)
Peristiwa – Kondisi kampus selama dua tahun ke belakang ini mungkin menjadi memori yang selalu diingat oleh mahasiswa. Akan tetapi, kenangan, keseruan, hiruk-pikuk mahasiswa, dan mobilisasi civitas academica tampaknya justru mulai memudar akibat pembatasan berbagai kegiatan. Apalagi di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Undip sempat membuat kebijakan lockdown mandiri sehingga peraturan memasuki kawasan kampus lebih diperketat. Padahal, sebelum adanya Corona, FIB cukup ramai dengan kegiatan mahasiswa, seperti diskusi buku atau novel, pertunjukan teater, pertunjukan musik, dan masih banyak lagi.
Kabar baiknya, Teater Emper Kampus (Emka) yang merupakan salah satu UKM di FIB mulai berani merayakan “kebebasan” dengan menginisiasi pertunjukan berkonsep summer vibes pada tahun ini. Alasannya, musim panas identik dengan libur sekolah, begitu pun Undip yang saat ini tengah menjalani libur semester sehingga dirasa tepat untuk mengadakan kegiatan. Filosofi dan tujuan konsep summer vibes tidak lain agar Emka dan pihak-pihak yang terlibat dapat menciptakan suasana bahagia, hangat dan menyenangkan bagi para tamu yang telah hadir.
Kegiatan yang diadakan Minggu (17/7) ini merupakan bagian dari proker tahunan Emka, yakni Malam Gairah Bulan Purnama (MGBP). Sempat absen melaksanakan proker tersebut selama dua tahun, akhirnya Emka kembali membawa pertunjukan bertajuk “Dolan Bareng Emka”.
“Tahun ini, kami mencoba melaksanakan MGBP walaupun agak sedikit berbeda dari tahun sebelumnya,” tutur Sierra Salsabiela, Pimpinan Produksi dari MGBP 2022, saat dihubungi Awak Manunggal Selasa (19/7).
Emka berhasil menggandeng banyak pihak untuk turut meramaikan pertunjukan yang berlangsung pukul 16.00-21.00 WIB dan bertempat di Crop Circle atau pelataran FIB ini, di antaranya Teater Dipo, Teater Genesa, Unit-D, Pak Yono dan Wayang Gaga, serta Wadah Musik Sastra (WMS).
Sabiel, sapaan akrab Sierra Salsabiela mengatakan pertunjukan ini memang diizinkan oleh kampus tetapi dengan batas maksimal kegiatan pukul 21.00 WIB. Hal ini tentu berbeda dengan FIB yang dahulu tampaknya masih aktif hingga tengah malam.
Emka sendiri sebagai panitia dan tuan rumah mengeluarkan dua performing art yang dinilai ciamik.
“Pertama mengangkat isu mengenai tekanan yang didapat oleh orang yang sedang menempuh pendidikan, kedua mengenai tekanan yang dirasakan korban pelecehan seksual yang urung melakukan perlawanan atau speak up karena respons lingkungan sekitar yang memojokkan dan tidak ramah,” jelasnya.

Berkaitan dengan isu pelecehan seksual yang dibawanya, Ainaya selaku sutradara turut menyayangkan langkah Undip yang dinilai tak kunjung menerapkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi (Permen PPKS). Padahal, peraturan tersebut telah disahkan sejak November 2021 lalu.
“Aku berharapnya itu (Permen PPKS, red) emang bener-bener diterapkan di Undip, karena misal kalo aku sendiri yang ngalamin pasti bakal kena trauma,” ujar Ainaya, dikutip dari tulisan lpmhayamwuruk.org yang diunggah pada Selasa (19/7) lalu.
Berbeda dengan Ainaya yang fokus pada pertunjukan bertema pelecehan seksual, Sabiel memiliki harapan agar acara ini dapat dijadikan sebagai sarana hiburan dan juga menjalin hubungan baik dengan para kelompok seni, apalagi komunitas seni cukup terdampak dari adanya pandemi.
“Dengan adanya acara ini diharapkan dapat menjadi sarana untuk hiburan, menyalurkan seni, mempererat dan menciptakan hubungan baik dengan kelompok seni maupun penikmatnya. Serta dapat memantik teman teman UKM-F seni (khususnya FIB Undip) untuk kembali bangkit dan melaksanakan agenda agenda yg tertunda karena adanya pandemi,” tutup Sabiel.
Reporter: Aslamatur R
Penulis: Aslamatur R
Editor: Christian Noven




