OPINI – Starbucks, siapa yang tidak kenal dengan merk minuman kopi yang banyak digemari oleh masyarakat Indonesia, terutama dikota-kota besar. Saat ini, setidaknya terdapat lebih dari 326 gerai yang tersebar di seluruh Indonesia. Tak heran gerai minuman express yang berasal dari negara Amerika Serikat ini menjadi salah satu kedai kopi terbesar di dunia.
Tapi tahukah kamu, mengapa Starbucks tetap banyak digandrungi oleh konsumen meskipun menawarkan harga yang relatif mahal? Apakah kehadiran Starbucks menguntungkan perekonomian Indonesia, atau justru mematikan UMKM lokal, dan berdampak buruk pada perekonomian Indonesia?
Tiga Alasan Konsumen Fanatik Starbucks
Ada beberapa alasan mengapa penikmat kopi menjadi fanatik terhadap Starbucks. Pertama, memberikan pengalaman tempat yang nyaman bagi para pelanggan untuk bisa menghabiskan waktu dalam berbagai kegiatan seperti berkumpul dengan teman-teman, atau mengerjakan pekerjaan atau tugas sendirian. Pelanggan bahkan dipersilahkan untuk duduk lama untuk mengobrol atau menyelesaikan tugasnya dengan fasilitas tambahan seperti WiFi gratis, agar pelanggan betah dan ingin kembali merasakan pengalaman tempat yang nyaman tersebut.
Kedua, kualitas tinggi dari minuman kopi yang hampir sama di tiap gerai, serta jenis produk Starbucks yang sangat beragam. Hal ini karena Starbucks sangat memperhatikan bahan baku yang digunakan, bahkan sampai mengekspor bahan dari luar negri untuk kualitas yang tidak berbeda dengan gerai lainnya. Meskipun memiliki jenis produk yang berbeda dan tempat produksi yang berbeda, konsistensi dari kualitas rasa yang premium menjadi prioritas utama. Oleh karena itu, di gerai atau jenis minuman kopi manapun, pelanggan tetap akan puas membayar dengan harga yang lebih tinggi karena mendapat kesan premium. Inilah yang menjadikannya memiliki brand awareness bagus di kalangan masyarakat yang berkembang dari mulut ke mulut.
Ketiga, ini juga sejalan dengan point kedua terkait standar dan kualitas brand premium, untuk memastikan standar premium yang terjaga dan sama di tiap wilayah ekspansi. Alih-alih mengeluarkan beban biaya pada iklan, Starbucks lebih fokus pada investasi kualitas dari tenaga kerjanya, yaitu dengan pelatihan staff atau pemberian insentif lebih kepada karyawan berupa kebijakan untuk staff mendapatkan kesehatan penuh bagi mereka yang bahkan berstatus kerja paruh waktu. Inilah yang menjadi alasan mengapa kepuasan karywan bekerja di Starbucks tidak berbeda disetiap daerah lainnya.
Strategi marketing dari Starbucks yang sudah sangat kuat serta permintaan produk yang tinggi di setiap gerai di Indonesia, tentunya memiliki keterkaitan kuat terhadap dampak perekonomian Indonesia. Jika dikaji secara pragmatis, dominasi dari produk Starbucks membuat masyarakat lokal cenderung konsumtif dan lebih memilih produk asing dengan branding minuman premium internasional dibandingkan produk lokal, sehingga hal ini juga berimplikasi pada penurunan permintaan kopi lokal menurun yang akan semakin menyusahkan para petani lokal dan penjual kopi lokal.
Akan tetapi, kita tidak dapat menutup mata dalam dunia perekonomian yang memasuki pasar bebas dan cenderung kapitalis ini, tidak ada kebijakan pemerintah yang akan menguntungkan perekonomian sebuah negara sepenuhnya, akan ada trade off yang diterima negara dalam memberikan izin berdirinya perusahaan luar negeri seperti Starbucks di Indonesia. Beberapa pertimbangan negara dalam hal ini adalah kontribusi Starbucks melalui pembayaran pajak, corporate social responsibility dengan membuka lapangan pekerjaan, transfer of knowledge dan sebagainya yang juga turut akan membantu perekonomian Indonesia. Manifestasinya dapat terlihat dari insentif Starbucks yang mengambil sebagian biji kopi dari wilayah Indonesia dengan mencampur dari negara asalnya, seperti contoh kopi Robusta dan Arabika yang diambil kurang lebih sebanyak 50 ton dari daerah Sumatera Utara
Selain itu, ada pula program pemberdayaan petani lokal melalui program Farmer Support Center yang diinisiasi oleh Starbucks dengan tujuan melatih petani lokal di daerah Berastagi Sumatera Utara dengan pelatihan seperti upaya penurunan biaya produksi, pencegahan hama serta meningkatkan standar dari kopi untuk melahirkan produksi kopi yang jauh lebih premium.
Lalu, Bagaimana Eksistensi dari Kedai Kopi Lokal?
Untuk menjawab persaingan, perusahaan lokal sudah seharusnya adaptif dengan permintaan pasar dari masyarakat yang kian beragam, ini menjadi pertanda bahwa segmentasi dari bisnis kopi masih terbuka lebar. Hal ini terbukti dari contoh seperti Kopi Kenangan, yakni kopi asal Indonesia yang memanfaatkan segmentasi dan konsep marketing berbeda dengan Starbucks, dimana fokus dari kopi kenangan yang kian masif dengan ratusan gerai dan status usaha sebagai unicorn dengan valuasi 1 sekitar satu miliar US Dollar, atau setara dengan 14,40 triliun rupiah.
Hal tersebut karena Kopi Kenangan mengambil segmentasi pasar pelanggan mid-entry dengan harga yang jauh lebih terjangkau dibanding Starbucks. Bentuk pelayanan yang fokus pada take away, berbeda dengan konsep Starbucks yang menyasar pada harga lebih mahal dan menjual pengalaman tempat untuk beraktivitas dengan nyaman. Meskipun sama-sama bergerak pada minuman kopi, dalam hal ini Starbucks maupun produk lokal seperti kopi kenangan memiliki permintaan tinggi, dengan segmentasi yang berbeda.
Oleh karena itu, perusahaan lokal serta pemerintah seharusnya dapat lebih peka dengan apa yang diinginkan pasar saat ini, dan harus mencari tahu unique selling point agar dapat mengoptimalkan potensi serta tantangan yang dihadapi dalam perekonomian terkhusus dalam menghadapi gempuran masifnya perkembangan perusahaan luar di Indonesia.
Penulis : Sukriwan Ramadhan
Editor: Rafika Immanuela, Christian Noven
Sumber Referensi :
- Starbucks In Indonesia | Starbucks Coffee Company | Starbucks Coffee Company [Internet]. [cited 2022 Aug 12]. Available from: https://www.starbucks.co.id/about-us/our-heritage/starbucks-in-indonesia
- Fransisca Andreani. Kiat-Kiat Ekspansi Global Starbucks. J Manaj Pemasar [Internet]. 2008;3(1):19–25. Available from: http://puslit2.petra.ac.id/ejournal/index.php/mar/article/view/18077
- Deny S. Starbucks Serap 50 Ribu Ton Biji Kopi Asal RI – Bisnis Liputan6.com [Internet]. liputan6. 2018 [cited 2022 Jun 11]. Available from: https://www.liputan6.com/bisnis/read/3241130/starbucks-serap-50-ribu-ton-biji-kopi-asal-ri
- Tashandra N. Starbucks Farmer Support Center, Satu-Satunya di Indonesia Halaman all – Kompas.com [Internet]. kompas.com. 2018 [cited 2022 Jun 12]. Available from: https://lifestyle.kompas.com/read/2018/06/10/191900920/starbucks-farmer-support-center-satu-satunya-di-indonesia?page=all
- Melani A. Valuasi Kopi Kenangan Sentuh Rp 14,40 Triliun, Balap Starbucks di Indonesia – Saham Liputan6.com [Internet]. Liputan 6. 2022 [cited 2022 Aug 12]. Available from: https://www.liputan6.com/saham/read/4853085/valuasi-kopi-kenangan-sentuh-rp-1440-triliun-balap-starbucks-di-indonesia
