
Edukasi Manfaat Maggot Bersama Narasumber, Rudi Hanama pada Rabu, (7/8) (Sumber: Dok. Pribadi)
Citizen Journalism – Setiap hari, setiap rumah pasti menghasilkan sampah rumah tangga yang apabila tidak dimusnahkan akan menumpuk dan menjadi sarang nyamuk. Di Desa Karangjompo, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim II Universitas Diponegoro (Undip) mengadakan edukasi tentang “Maggot: Solusi Alami untuk Pengelolaan Sampah Organik di Rumah” yang merupakan salah satu upaya menanggulangi sampah organik ramah lingkungan pada Rabu, (7/8).
Tim KKN menggandeng Rudi Hanama, Kepala Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) Reuse, Reduce, Recycle (3R) Kelurahan Banyuurip sebagai narasumber. Dalam pemaparannya, Rudi menjelaskan bahwa 1 kilogram (kg) maggot dapat menguraikan 2 hingga 3 kg sampah organik dalam kurun waktu sehari. Dengan kapasitas penguraian yang tinggi, maggot menjadi solusi efektif dalam mengurangi volume sampah organik.
Lebih dari itu, setelah maggot menyelesaikan siklus hidupnya dan mati, sisa-sisa maggot, atau disebut dengan kasgot, masih memiliki nilai ekonomis. Kasgot dapat digunakan sebagai pupuk organik berkualitas tinggi, sementara maggot mati bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak, seperti lele dan burung.
Proses penguraian ini tidak hanya mengurangi jumlah sampah organik secara signifikan, tetapi juga memberikan manfaat ganda bagi masyarakat. Dengan memahami statistik sederhana, masyarakat dapat melihat seberapa besar peran maggot dalam mengurangi umur hidup sampah organik.
Dengan adanya program ini, diharapkan perangkat desa dan muda-mudi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) dapat lebih memahami pentingnya pengelolaan sampah yang efisien sehingga bisa mewujudkan desa yang bersih dan sehat. Program ini juga diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Kota Pekalongan untuk mengadopsi teknik serupa dalam pengelolaan sampah organik.
Penulis: Chaterine Ariane Angelina (Mahasiswa Statistika, Fakultas Sains dan Matematika)
Editor: Ayu Nisa’Usholihah, Hesti Dwi Arini, Nuzulul Magfiroh



