Solidaritas Umat Islam Indonesia Sedang Diuji Prancis

Sumber: gdb.voanews.com

Peristiwa–– Setelah beramai-ramai memboikot produk Unilever —meskipun akhirnya kini masyarakat kembali mengonsumsinya— karena menyatakan pro LGBT, umat Islam (di dunia, khususnya Indonesia) kembali menunjukkan solidaritasnya ketika menanggapi konfrontasi di Prancis.

Permasalahan sekulerisme di Prancis berbuntut panjang. Masing-masing pihak —umat Islam di Prancis dan pemerintah Prancis— secara spontan mendapatkan dukungan dari negara yang seideologi. Umat Islam sontak mendapatkan dukungan dari negara Arab Saudi, Turki, Irak Suriah, dan sebagainya. Selain itu, mereka juga tidak akan bisa lepas dari perlawanan negara-negara Eropa. Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Indonesia dengan warganya yang terkenal sebagai “rakyat grusa-grusu” dalam menanggapi peristiwa terkini, sudah pasti akan mendukung penuh berdasarkan pandangan dari kacamata yang diyakini benar. Apalagi kefanatikan Islam di negara tersebut dapat dikatakan sangat tinggi. Jadi, tidak perlu ditanya lagi bagaimana respon mereka terhadap isu ini.

Bahkan salah satu tokoh agama terkemuka di Indonesia, Habib Rizieq Shihab telah mendesak seluruh muslim Indonesia untuk melawan orang yang menghina nabi. Lewat pernyataannya, “Saya serukan juga kepada umat yang ada di tanah air, abaikan saja kicauan kaum zindik, yang pura-pura arif dan pura-pura bijak menyerukan kepada umat Islam agar tidak marah walaupun nabinya dihina,” ujarnya. Ia pun berhasil menggerakkan FPI dan ormas Islam lainnya untuk berdemo di depan Kantor Kedutaan Besar Prancis, Jakarta.[1]

Masa aksi itu membakar patung Macron, menginjak gambar Macron dan bendera Prancis. Entah apa maksud dari tindakan tersebut, yang saya tangkap adalah adanya prinsip penghinaan harus dibalas dengan penghinaan —meskipun hal tersebut tidak akan mengmebalikan harga diri yang telah terinjak. Lalu mengapa ada kasus penghinaan dibalas dengan pembunuhan? Fakta ini seolah sengaja “di-skip” oleh para muslim di dunia sehingga sorotan utama diletakkan pada karikatur Nabi, pidato Macron tentang melawan separatisme Islam dan Islam yang mengalami krisis.

Tidak adanya perhatian terhadap tragedi pembunuhan, justru bisa dinterpretasikan bahwa membunuh demi mempertahankan harga diri adalah sebuah kewajaran. Syafiq Hasyim, Direktur Perpustakaan dan Pusat Budaya Universitas Islam Internasional Indonesia mengatakan, “membunuh di luar keadaan perang itu tidak diperbolehkan.”[2] Apalagi jika membunuh dengan membawa nama agama Islam dan mengucap takbir.

Sebenarnya dalam kasus ini tidak ada pihak yang salah maupun pihak yang benar. Jika kita berani lebih terbuka dan menyadari, objek bercanda semacam itu tidak hanya menyasar Islam. Bahkan Yesus pun pernah mengalami kejadian serupa. Saya jelas menentang olok-olokan yang membawa unsur agama  —yang jika saya tidak menentang, bisa saja saya akan dianggap kafir. Namun saya juga sangat gemas dengan oknum yang bertindak keji dan mengatasnamakan Islam. “Harusnya yang dibunuh jangan antar umat beragama. Kan mereka bernasib sama di Prancis,” begitu kiranya tanggapan Syafiq Hasyim saat ditanya pendapatnya terkait pembunuhan.

Maka apa tidak wajar jika masyarakat Prancis menuduh Islam sebagai teroris dan Macron dengan tegas menyatakan akan melawan separatisme Islam, bukan melawan Islam, jika melihat korban dan tempat pembunuhan kejadian beruntun. Lucunya, Presiden kita memberi pernyataan bahwa terorisme tidak dapat dikaitkan dengan agama —ya, mungkin dalam bayangan beliau, terorisme adalah praktik kejahatan politik.[3]

Kali ini, Syafiq Hisyam memaklumi Macron. Menurutnya pernyataan dan sikap Macron sangat wajar karena bertujuan untuk mempertahankan ideologi yang sudah diperjuangkan sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. Bukankah hal semacam ini juga dilakukan oleh pemerintah Indonesia saat muncul ideologi komunis (PKI) dan khilafah (HTI)? Respon berlebihan oleh umat Islam tanpa menelisik akar permasalahan, justru malah semakin menguatkan argument Macron bahwa umat Islam memang sedang krisis —ya, saya tahu tidak semuanya seperti itu. Anggap saja oknum atas nama Islam. Namun sikap umat Islam yang semakin geram dengan pernyataan tersebut justru memperlihatkan bahwa umat Islam anti kritik dan merasa selalu benar.

Saya sangat setuju dengan pernyataan Macron, ”Ini Eropa kita. Musuh kita harus tahu dengan siapa mereka berurusan. Kita tidak akan menyerah pada apapun.”[4] Alangkah lebih baiknya kita melihat lawan jika hendak membuat permusuhan. Semoga saya tidak dianggap kafir setelah ini.

Penulis: Aslamatur Rizqiyah (Mahasiswa Sastra Indonesia – Manunggal)

Editor: Winda N, Alfiansyah

[1] CNN Indonesia. Rizieq Sindir Tokoh yang Ajak Umat Memaafkan Karikatur Nabi.. Senin, (02/11), dikutip dari https://m.cnnindonesia.com/nasional/20201102110518-20-564899/rizieq-sindir-tokoh-yang-ajak-umat-memaafkan-karikatur-nabi

[2] Tagar TV. Tentang Pembunuh dan Pembuat Kartun Nabi Muhammad di Prancis.. 31 Oktober 2020.

[3] Tirto.id. Kronologi Munculnya Aksi Boikot Produk Perancis di Berbagai Negara. Senin (02/11), dikutip dari https://tirto.id/kronologi-munculnya-aksi-boikot-produk-perancis-di-berbagai-negara-f6xH

 

[4] CNN Indonesia . Presiden Prancis Macron Kutuk Penembakan Berdarah di Wina. Selasa( 03/11), dikutip dari https://m.cnnindonesia.com/internasional/20201103150838-134-565371/presiden-prancis-macron-kutuk-penembakan-berdarah-di-wina

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top