Warta Utama – Bidang Hukum, Sosial, dan Politik (HSP) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum (FH) Universitas Diponegoro (Undip) menggelar kegiatan September Hitam bertajuk “Ingatan adalah Senjata, Merawatnya adalah Ancaman bagi Penguasa” pada Kamis (25/9) di Pelataran Gedung Prof. Satjipto Rahardjo, S.H., M.H. dan Beranda Kreativitas FH Undip. Kegiatan ini merupakan pengingat bagi para penguasa bahwa banyak yang harus dibenahi perihal keadilan dan pelanggaran yang diterima oleh rakyat hingga kini. Rangkaian kegiatan dibuka dengan digelarnya lapak baca, petisi, panggung bebas, sesi lampion dan doa bersama, serta ditutup oleh penampilan gigs.
Kegiatan September Hitam dihadiri oleh para mahasiswa Undip terutama mereka yang tergabung dalam Bidang Sosial Politik (Sospol). Selain itu, kegiatan ini juga mengundang perwakilan dari Universitas Negeri Semarang (Unnes), Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), Universitas Dian Nuswantoro (Udinus), Universitas Katolik Soegijapranata (Unika), dan Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus).
Lapak baca menghadirkan berbagai macam buku, termasuk buku-buku sosialis yang dapat dengan bebas diakses oleh peserta. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan petisi. Emilio Wiwanda, Ketua Pelaksana September Hitam FH 2025, mengungkapkan bahwa petisi berfungsi untuk memelihara ingatan kita semua akan keadilan yang masih belum ditegakkan di Indonesia.
“Di bagian kanan bawah itu ada soal merawat ingatan sama menolak lupa. Jadi petisi itu sudah kami sepakati bahwasannya semua yang bertanda tangan di situ menolak lupa dan kita akan merawat ingatan kita sampai mencapai keadilan tersebut,” ujarnya saat diwawancarai pada Kamis (25/9).
Zahra, salah seorang peserta yang hadir mengatakan bahwa alasannya turut menandatangani petisi tersebut adalah lantaran dirinya mendukung bahwa pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia harus segera diselesaikan dan diadili baik secara hukum maupun keadilan.
Penerbangan lampion menjadi perhatian utama kegiatan ini. Kamis malam, sebelum penampilan gigs dimulai, peserta yang hadir menerbangkan lampion di depan gedung Prof. Satjipto Rahardjo, S.H., M.H. FH Undip. Mengadopsi budaya Cina, Emilio mengungkapkan bahwa penerbangan lampion ditujukan untuk mengenang arwah-arwah yang telah meninggal tanpa sempat mendapatkan keadilan.
“September Hitam ini kan memorandum bahwa kejadian 98 itu banyak yang meninggal, diracun, dihilangkan sama polisi tentara ketika dipimpin Soeharto. Sampai saat ini kita belum menemukan keadilan bagi mereka, maka dari itu kita mengenang,” ungkapnya.
Kegiatan September Hitam ditutup dengan penampilan gigs di atas Beranda Kreativitas, FH. Dalam pertunjukan ini berbagai band dari kalangan mahasiswa tampil memeriahkan malam tersebut. Tidak hanya dari FH, peserta dari fakultas lain seperti Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) juga turut menyumbangkan beberapa lagu. Gigs digelar sebagai salah satu strategi untuk mengundang lebih banyak peserta untuk turut datang. Hal ini terbukti dari kesaksian Anin, salah seorang peserta yang hadir malam itu.
“Awalnya kayak ada undangan gitu kan dari fakultas. Tapi, juga ini karena tertarik ada gigs-nya, jadi aku dateng sih,” ujarnya pada Kamis (25/9).
Emilio mengungkapkan bahwa pihak penyelenggara juga menyepakati untuk menyelipkan lagu-lagu perjuangan yang menggelitik pemerintah seperti lagu “Pesawat Tempur” milik Iwan Fals. Tujuannya, supaya mereka (red, mahasiswa) yang gemar berkumpul dan ngeband tahu akan eksistensi dan esensi lagu tersebut.
Meski begitu, untuk memeriahkan acara, beragam lagu seperti “Cincin” oleh Hindia dan “Dont Look Back in Anger” milik Oasis juga turut mengguncang panggung September Hitam malam itu. Zahra juga mengungkapkan bahwa baginya September Hitam membalut ingatan akan keadilan akibat pelanggaran HAM dengan apik, tidak hanya menitikberatkan pada rasa kelabu dan duka tetapi menutup rangkaian acara tersebut dengan kegiatan yang menyenangkan.
Zahra berharap kegiatan semacam ini nantinya mampu menjadi pengingat bagi semua orang akan para korban pelanggaran HAM, tidak melupakan mereka, dan tetap memperjuangkan keadilan bagi korban-korban tersebut. Selain Zahra, Anin juga berharap dengan adanya kegiatan September Hitam, mahasiswa menjadi lebih melek akan pelanggaran tersebut.
“Mungkin biar mahasiswa jadi lebih aware karena menyangkut tentang HAM yang udah terjadi puluhan tahun lalu, apalagi yang khusus di bulan September. Jadi dengan adanya kegiatan ini, sejarah itu nggak terlupakan, terus dikenang, terus diingat,” ujarnya.
Sebagai penutup, Emilio berharap generasi selanjutnya bakal selalu haus akan keadilan dan tidak tutup mata bahwa kita belum adil, kita masih dicurangi oleh pemerintah, dan kita harus melawan bersama.
Reporter: Mitchell Naftaly, Salwa Hunafa, Raisya Nurul
Penulis: Raisya Nurul Khairani
Editor: Nuzulul Magfiroh, Nurjannah