SEHATI 14th KSEI FEB X Ekonomi Islam Undip: Membaca Arah Baru Ekonomi Syariah Indonesia

K.H. Ma’ruf Amin memberikan keynote speech di Aula Utama Gedung Kewirausahaan FEB Undip pada Seminar Nasional Sehati 14th, Rabu (11/9). (Sumber: Ekonomi Islam Undip Official)

 

Warta Utama – Bertepatan dengan hari jadi yang ke-10, Program Studi (Prodi) Ekonomi Islam bersama Kelompok Studi Ekonomi Islam (KSEI) Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro (Undip) menggelar seminar nasional Sharia Economic Activity (SEHATI) ke-14. 

Seminar tersebut mengusung tema “Membaca Ekonomi dan Keuangan Syariah pada Pemerintahan Baru Indonesia” dan dilaksanakan pada Rabu (11/9), di Gedung Kewirausahaan dan Hall C FEB, Undip.

Acara ini dihadiri oleh beberapa pejabat kunci dan berpengaruh besar dalam perekonomian syariah di Indonesia, di antaranya Wakil Presiden (Wapres) sekaligus Ketua Harian Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) Prof. Dr. (H.C.) K.H. Ma’ruf Amin, Komisaris Utama Bank Syariah Indonesia (BSI) Ir. Adiwarman Karim, serta Direktur KNEKS Prof. Sutan Emir Hidayat. 

Dekan FEB Prof. Faisal, S.E., M.Si., Ph.D., dalam sambutannya menyampaikan harapan agar acara tersebut tidak hanya berhenti begitu saja, tetapi terus berkesinambungan. 

“Ini menjadi Pekerjaan Rumah (PR) kami di FEB untuk menjadi salah satu motor penggerak pendidikan ekonomi Islam dan memastikan lulusannya memiliki kompetensi yang mampu bersaing, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga global,” terang Prof. Faisal. 

Ia juga mengucapkan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh jajaran civitas academica Prodi Ekonomi Islam dan KSEI atas kerja keras mereka dalam menyelenggarakan acara ini.

Sebelum seminar dimulai, dilakukan awarding untuk lomba tingkat nasional yang diselenggarakan oleh KSEI, yaitu Islamic Economics Olympiad dan Sharia Essay Competition. Sejumlah mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia hadir secara langsung untuk menerima penghargaan tersebut.

Dalam acara seminar, ada beberapa aspek penting yang setidaknya menjadi poin utama dari pembahasan ketiga pembicara.

Ir. Adiwarman menjelaskan rencana pemerintah baru untuk mengembangkan KNEKS yang saat ini masih menjadi lembaga non-struktural dan bersifat independen dalam pelaksanaan tugas serta fungsinya. Rencana tersebut akan mengubah KNEKS menjadi badan pengembangan yang berada di bawah naungan pemerintah dan memiliki payung hukum resmi. Hal ini diperlukan untuk mencapai inklusi keuangan syariah yang lebih luas ke depannya. 

Dilanjutkan dengan Prof. Sutan Emir, ia menyampaikan bahwa ekonomi Islam saat ini sudah menjadi angin segar bagi perekonomian Indonesia dan akan terus dikembangkan. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi Islam pada beberapa indikator di Indonesia terhitung sangat pesat.  

Pada tahun 2023, Indonesia naik menjadi peringkat ketiga kumulatif State Global of Islamic Economy (SGIE) Report, yang menjadi laporan utama  perekonomian syariah global. Selain itu, kontribusi perekonomian syariah dalam pembangunan di Indonesia juga sangat masif, salah satunya adalah menjamurnya pembiayaan gedung pendidikan oleh sukuk atau Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). 

Pada akhir kegiatan, K.H. Ma’ruf Amin secara terbuka memberikan arahan untuk menerapkan pembangunan ekonomi syariah yang menyeluruh dan terintegrasi. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan penelitian lebih lanjut, menguasai kemampuan dan mengembangkan sistem digitalisasi pendukung ekonomi keuangan syariah, serta penguatan ekonomi sumber daya yang berkompeten dan andal. 

Kemudian, ia juga memberikan apresiasi kepada Prodi Ekonomi Islam atas acara yang telah diselenggarakan. Wapres Indonesia tersebut juga menuturkan harapan agar seminar ini bisa melahirkan inovasi serta solusi yang implementatif untuk perkembangan ekonomi dan keuangan syariah di masa mendatang.

Selaras dengan apa yang disampaikan K.H. Ma’ruf Amin, Mohammad Rofiul Azka Nahdi selaku penanggung jawab kegiatan menguraikan bahwa tujuan dari kegiatan ini adalah mengenalkan pemahaman mengenai ekonomi Islam secara luas.

“Potensi ekonomi Islam sudah menjanjikan dan consent pemerintah terhadap ekonomi syariah sudah baik. Namun, aktualisasi yang terjadi di lapangan terutama dalam segi inklusi dan literasi masih sangat jauh,” ujar Azka.

Ia juga menekankan pentingnya komitmen dan visi bersama untuk mewujudkan ekonomi syariah yang lebih baik di masa depan.

“Harapannya, agar kita semua menjadi lebih berkomitmen dan menyatukan visi guna sosialisasi juga realisasi ekonomi syariah yang lebih baik,” imbuh Azka.

Ashabul Manggala atau yang kerap disapa Angga, mahasiswa Prodi Ekonomi Islam sekaligus salah satu staf panitia mengungkapkan perasaannya saat kegiatan tersebut berlangsung. Ia menilai bahwa animo mahasiswa mengenai acara ini cukup tinggi, terlihat dari antusiasme para peserta yang menyimak dengan saksama apa yang disampaikan oleh pembicara. 

“Antusiasme peserta yang begitu tinggi mendengarkan materi yang disampaikan membuat kami senang,” ungkap Angga. 

Sebagai mahasiswa ekonomi Islam, Angga memandang apa yang direncanakan pemerintah sudah strategis, terutama guna mewujudkan ekonomi Islam yang terintegrasi demi pemerataan kesejahteraan masyarakat. 

“Harapannya, bahwa ekonomi syariah akan terus menjadi pilar penting dalam pembangunan nasional, kemudian mampu memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat nantinya,” pungkas Angga. 

 

Reporter : Aisyah Tsabita, M. Irham Maolana

Penulis : Aisyah Tsabita, M. Irham Maolana

Editor : Ayu Nisa’Usholihah, Hesti Dwi Arini

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top