Sebat Bersahabat: Upaya Revolusioner Hadapi Tantangan Sosial

Wadah Puntung Rokok di Kawasan Terbatas Merokok FISIP (Sumber: Unggahan Akun Instagram @sebatbersahabat)

 

Peristiwa – Kampanye Sebat Bersahabat di parkiran Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro (Undip) telah menjadi topik hangat di kalangan beberapa mahasiswa dan warga net.

Dilaksanakan sebagai bagian dari mata kuliah Manajemen Pemasaran Sosial Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi, kampanye ini memiliki tujuan untuk mendorong perubahan perilaku perokok di kampus. Namun, di balik ambisi tersebut, terdapat berbagai tantangan.

Kampanye ini didasarkan pada survei lapangan yang menunjukkan dua sisi masalah utama: keluhan dari perokok pasif dan ketidakpuasan perokok aktif terhadap fasilitas yang ada. Hasil survei menunjukkan bahwa sebagian dari perokok pasif mengeluh dan merasa terganggu karena asap rokok. Sedangkan, bagi para perokok, mereka merasa  bahwa fasilitas yang telah tersedia belum cukup memadai untuk menunjang kenyamanan mereka.

Oleh karena itu, tim Sebat Bersahabat menginisiasikan campaign Asbak Vote, sebuah wadah puntung rokok dengan desain interaktif. Kampanye ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran hingga memikat perhatian mahasiswa agar mau mengubah perilaku dengan membiasakan merokok hanya di Kawasan Terbatas Merokok.

Inovasi ini memungkinkan perokok untuk memilih jawaban dari pertanyaan yang tertera dengan cara membuang sampah puntung rokok ke kolom yang sesuai. 

“Kami mengganti pertanyaan setiap 2 minggu agar audiens tidak bosan dan mahasiswa tertarik mengisi jawaban dengan puntung rokoknya,” tutur tim Sebat Bersahabat ketika diwawancarai oleh awak Manunggal pada Jumat, (31/5).

Respons mahasiswa FISIP terhadap campaign ini cenderung positif. Mereka mengapresiasi serta mendukung ide dan konsep Asbak Vote

“Sejauh kami melakukan monitoring, lumayan cukup ada peningkatan kesadaran. Partisipasi di Kawasan Terbatas Merokok sudah terlihat ada peningkatan dan sampah puntung rokoknya (di Asbak Vote, red) juga semakin hari semakin bertambah,” ungkap tim Sebat Bersahabat 

Tim Sebat Bersahabat juga mempunyai  media sosial untuk menyebarluaskan campaign mereka. Selain itu, mereka juga sering membuat konten menarik tentang campaign ini. 

Namun, apakah pendekatan ini benar-benar efektif? Walaupun konsep ini menarik dan inovatif, beberapa pihak meragukan apakah inisiatif ini cukup untuk mengubah kebiasaan perokok yang sudah mengakar. Kemudian, apakah benar solusi ini cukup untuk mengatasi ketidakpuasan perokok terhadap fasilitas yang ada?

Tak dapat dipungkiri bahwa perubahan perilaku adalah proses yang tidak mudah dan cukup memakan waktu. Setengah semester berjalan belum cukup untuk melihat dampak signifikan dari kampanye ini. 

Di sisi lain, muncul insiden viral di media sosial terkait penyalahgunaan Asbak Vote yang malah dijadikan tempat sampah umum.

“Idealnya, kami mengharapkan respons sesuai tujuan, tapi (kami, red) tidak bisa membatasi respons netizen. Kami siap menyelesaikan krisis dengan cepat dan tepat, berkoordinasi dengan pihak kampus untuk menjaga nama baik,” respons tim Sebat Bersahabat terhadap insiden tersebut.

Kasus ini menyoroti kelemahan dari implementasi kampanye tersebut. Bagaimana mungkin sebuah inisiatif yang bertujuan meningkatkan kesadaran lingkungan justru memicu perilaku yang tidak sesuai harapan?

Penyalahgunaan Asbak Vote menjadi bukti nyata bahwa perubahan perilaku tidak bisa dipaksakan hanya dengan menyediakan fasilitas baru. Tim kampanye harus siap menghadapi krisis semacam ini dengan tanggap untuk menjaga nama baik institusi. 

Tantangan ini menunjukkan bahwa kampanye sosial tidak hanya membutuhkan ide yang inovatif, tetapi juga strategi yang matang dalam pelaksanaannya.

Tim kampanye berharap bahwa antusiasme mahasiswa terhadap kampanye ini akan terus berlanjut, bahkan setelah program ini berakhir. 

“Jika setelah kampanye ini selesai masih ada antusiasme mahasiswa, kami akan meyakinkan pihak kampus agar Asbak Vote bisa menjadi aset tetap kampus,” ungkap tim Sebat Bersahabat.

Tim Sebat Bersahabat juga terus mengupayakan penegakan Kawasan Terbatas Merokok melalui sosialisasi dan implementasi program “fitur add yours” pada Asbak Vote.

Namun, harapan ini harus dibarengi dengan evaluasi kritis terhadap apa yang sudah dicapai dan apa yang perlu diperbaiki. Kampanye ini memberikan pelajaran berharga bahwa mengubah perilaku individu membutuhkan pendekatan yang komprehensif, konsistensi, dan waktu yang cukup untuk melihat dampak yang nyata.

Kampanye Sebat Bersahabat di FISIP adalah contoh menarik dari bagaimana teori pemasaran sosial diterapkan di lapangan. Meskipun ada banyak apresiasi, tidak sedikit pula tantangan yang harus dihadapi.

Penyalahgunaan fasilitas dan kesulitan dalam mengubah perilaku adalah realita yang harus dihadapi dengan strategi yang lebih matang dan waktu yang cukup. Dengan belajar dari pengalaman ini, diharapkan kampanye-kampanye serupa di masa depan dapat lebih efektif dan berdampak positif bagi lingkungan kampus.

 

Penulis: Nuzulul Magfiroh 

Editor: Ayu Nisa’Usholihah, Hesti Dwi Arini

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top