Sambangi Semarang, Chasing The Shadow Greenpeace Ajak Masyarakat Sadari Banjir Tak Patut Dinormalisasi

Greenpeace Indonesia, organisasi yang berfokus pada lingkungan, tahun ini mengadakan kampanye “Chasing The Shadow”. Kampanye tersebut merupakan perjalanan bersepeda dari Jakarta hingga Denpasar yang memberi kesaksian mengenai dampak krisis iklim yang melanda sejumlah wilayah Indonesia. Hadir di Semarang pada Sabtu-Minggu lalu (29-30/10), rombongan pesepeda (the chasers) ini menggelar acara  bertajuk “Peradaban yang Tenggelam” di Teater Oudetrap Kota Lama Semarang. 

“Semarang kaline banjir” seperti tertulis pada website Greenpeace Indonesia, nampaknya cukup mewakili tujuan digelarnya Chasing The Shadow di Semarang. Berawal dari krisis iklim yang dinilai semakin menjadi, kampanye ini digelar untuk pertama kali. Bukan sekadar bualan belaka, tenggelamnya daerah-daerah akibat krisis iklim sudah menghantui pesisir pantai utara  Indonesia. 

Hal ini disampaikan oleh Uca, Public Engagement Event Chasing The Shadow Greenpeace Indonesia saat diwawancarai oleh Awak Manunggal, Minggu (28/10). 

“Kita ingin mulai dari sekarang harus bergerak bersama menyuarakan krisis iklim ini karena ini udah bukan lagi ancaman tapi benar-benar terjadi di semua daerah di pesisir utara,” ungkapnya. 

Tak hanya kampanye bersepeda, digelar juga talkshow bertema serupa mengundang Mila Karmilah, dosen Perencanaan Wilayah Kota (PWK) Unissula sekaligus aktivis iklim, Fitrianto Wibowo, aktivis pesepeda, dan salah satu pesepeda, Iman Sulaeman, sebagai pembicara.  Selain itu, diselenggarakan pula pameran foto, pemutaran film “Angin dari Timur”, workshop, dan music performance. Senada dengan tajuk, pameran foto yang digelar turut menampilkan gambaran sejumlah daerah yang  terdampak krisis iklim.

“Ini kita selain estetik juga kita menampilkan fakta bahwa kalau daerah yang akan tenggelam itu bukan hanya wacana tapi itu udah benar-benar terjadi dan realita,” ungkap Uca. 

Lebih spesifik, tujuan dilaksanakannya Chasing The Shadows adalah meningkatkan kesadaran masyarakat akan adanya krisis iklim. Uca menuturkan masyarakat paling tidak harus tahu dan sadar akan buruknya krisis iklim. Dari pengetahuan dan kesadaran itulah kemudian akan tumbuh menjadi kepedulian.  

“Harapan kita bersama agar orang-orang Semarang yang mungkin sering terdampak mungkin mikirnya ‘alah banjir, biasa’, ini bukan biasa lagi, ini bukan hal yang harus kita lumrahkan,” 

Telah dilaksanakan sejak tanggal 17 Oktober 2022 dari Jakarta, Chasing The Shadow bergerak  menuju Semarang, Surabaya, dan berakhir di Denpasar. Berdurasi satu minggu dari satu tujuan ke tujuan selanjutnya, kampanye sepeda ini juga menyusuri  tempat-tempat  yang terdampak oleh krisis iklim seperti Muara Baru dan Muara Gembong. 

“Kita tidak (hanya) bersepeda terus, tapi bersepeda itu kita untuk mencari cerita dari setiap daerah yang kita kunjungi,” terangnya. 

Terhitung sejak Chasing The Shadow di Semarang, the chasers telah bergerak hingga diperkirakan  tiba di Surabaya pada 4 November. Tak langsung menuju Surabaya, the chasers akan menyambangi tempat-tempat yang terdampak krisis iklim. Adapun daerah-daerah tersebut seperti Desa Sayung di Demak yang sudah tenggelam, Pati dan Lasem yang ramai industri tambak yang tenggelam perlahan, lalu dilanjutkan ke Tuban, Gresik, dan langsung menuju Surabaya. 

 

Reporter: Christian Noven 

Penulis: Zainab Azzakiyyah 

Editor: Malahayati Damayanti Firdaus

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top