Mewakili suara angkatan, Tania Callista tampil menyampaikan pesan perpisahan di akhir masa SMA pada Sabtu (1/6/24) (Sumber: Dok. Pribadi)
Gaya Hidup – Terdapat sebuah kalimat tanya yang sering diucapkan ketika seseorang memulai menapak perjalanan di dunia public speaking. Ia berkata, “Bukankah betul langkah awalnya adalah dengan meniru orang lain yang kita anggap bagus? Supaya kita juga bisa menjadi bagus?”
Sejatinya, ini masuk akal. Indahnya seorang manusia, ia memiliki kebiasaan dalam belajarnya. Diawali dengan mengamati orang lain, lalu mencobanya. Sayangnya, kebanyakan dari mereka tak sadar bahwa meniru bukanlah langkah yang bijak. Namun, jangan salah, saya pun pernah melakukan hal demikian! Mengamati pembicara-pembicara hebat dengan perasaan terkagum-kagum, diiringi kata hati, “Luar biasa, sungguh mereka luar biasa. Namun… bagaimana mereka bisa melakukannya?” Sehingga dari kata hati itu mengantarkan saya untuk mencoba menirunya, dari cara mereka berdiri, berbicara, tersenyum, bahkan mengambil napas ketika jeda dalam berbicara. Karena dalam pikiran saya waktu itu, jika ingin sehebat mereka dalam berbicara, ya tinggal tiru saja gayanya, kan?
Ah, sungguh, ini tidak bijak.
Seiring waktu, kesadaran menghampiri saya, mengatakan bahwa sesuatu yang jauh lebih penting, yang bahkan tidak diajarkan dalam pelatihan-pelatihan yang saya ikuti. Bahwa meniru atau menduplikat seseorang tanpa kesadaran perlahan akan menjauhkan kita dari esensi public speaking itu sendiri.
Hari ini, jika kita mau bicara sekadar tentang bagaimana membangunkan rasa percaya diri, saya rasa ini sudah bukan zamannya lagi. Kali ini bukan lagi pasal bagaimana menghafalkan teks untuk berbicara di depan umum, bukan lagi pasal bagaimana menghilangkan rasa gugup, melainkan lebih dari itu. Kini, public speaking telah menjadi ruang di mana kita bisa menemukan sosok siapa diri kita yang sebenarnya, apa yang sebetulnya kita tunjukkan kepada orang-orang, apakah hanya sekadar mengomunikasikan gagasannya saja, atau juga tentang ciri khas dan jati diri kita? Membuat pertanyaan pada diri kita “Siapa sebenarnya saya dalam berbicara?”
Sayang, sungguh menjadi suatu hal yang dapat disayangkan. Bahwa faktanya, banyak diantara kita yang terlalu cepat puas dengan kemampuan meniru! Merasa sudah cukup ketika bicaranya sudah mirip nan kembar seperti tokoh panutannya. Merasa berhasil ketika seseorang mengatakan, “Kamu mirip sekali dengan pembicara A”. Padahal, inilah titik bahaya besar bagi seseorang yang menjalani dunia public speaking, ketika terlena seakan itu adalah pencapaian hasil dari jerih payahnya, sampai-sampai tidak sadar keberhasilan itu hanyalah sekadar menjadi bayangan orang lain.
Mari sadarkan diri kita bahwa gaya berbicara sejatinya tidak bisa ditiru. Ia hanya bisa ditemukan. Setiap gaya akan terlahir dengan kuat jika bisa mendalami apa yang sebetulnya ada dalam diri kita, karena sejatinya “gaya” adalah seni untuk mengenal diri kita sendiri, bukan orang lain. Seni yang dibaluti kesadaran dan kejujuran akan apa yang sesungguhnya telah kita alami dan pahami sebagai fondasi dalam membangun diri. Karena gaya bicara yang otentik bukanlah sekadar hasil menyalin, tetapi ia adalah buah proses panjang pengenalan jiwa diri sendiri.
Ada masanya ketika saya kebingungan kala itu, bingung menentukan “mana yang sebenarnya saya?” Ketika dilanda banyaknya inspirator yang lewat layaknya angin dari berbagai arah. Banyak dari rupa gaya bicara mereka yang tampak menggiurkan untuk ditiru berharap orang-orang akan merasa “Wah” ketika melihat saya meniru itu. Sehingga kebingungan itu semakin melanda, bingung akan haruskah saya serius dan tenang? Tegas dan penuh wibawa? Atau justru ringan, santai, lucu? Sebagai seseorang yang ingin terus belajar, saya mencoba semuanya. Mencoba untuk menggaet semua validasi yang saya inginkan. Saya pernah berusaha menjadi formal dan dingin, tapi pernah juga memaksakan gaya lucu dan riang versi diri saya. Tapi pada akhirnya saya harus realistis dan jujur pada diri sendiri bahwa itu melelahkan. Lelah bukan karena tidak mampu mencoba semua gaya, tapi karena itu semua terasa asing dan bukan jiwa saya.
Tepat saat itu, saya mulai menyadari bahwa gaya bicara yang bukan lahir dari dalam diri akan selalu terasa canggung. Kita bisa meniru cara orang lain berbicara, tapi kita tak bisa meniru keberanian mereka menjadi diri sendiri.
Saya harap dengan kisah itu bisa menyamakan persepsi kita bahwa ciri khas, khususnya dalam berbicara itu lahir dari kesadaran dan pengenalan diri, bukan dari seberapa lihai kita dalam meniru. Yakinlah! bahwa itu semua bisa tampak asal kita peka dengan diri kita. Cepat lambatnya irama bicara, pilihan-pilihan diksi, cara menyusun kalimat, lihai dan diamnya gestur tubuh, atau bahkan jeda yang kita ciptakan di antara kalimat yang kita keluarkan. Semua itu pasti akan hadir, meskipun tidak instan. Percayalah pada dirimu, bahwa hal itu akan tumbuh bersama pengalaman, kesadaran, dan keberanian kita untuk mengakui siapa diri kita sebenarnya.
Kini, sudah sepantasnya memunculkan pertanyaan lanjutan, “Bagaimana cara menemukan suara khas kita dalam berbicara?”
- Jangan Hanya Fokus pada Materi.
Coba ingatlah pada saat Anda mencoba untuk mempersiapkan diri ketika akan presentasi, apa saja hal-hal yang Anda persiapkan? Sebagian besar dari Anda adalah orang-orang yang sibuk memahami materi atau gagasan yang akan disampaikan saja. Banyak orang yang lupa, bahwa sebelum memikirkan materi atau gagasan yang akan disampaikan terdapat hal yang lebih utama untuk dipikirkan. Bisakah Anda menebak? Merupakan jawaban yang tepat jika Anda menjawab “instrumen penyampaian”. Tentu saja hal ini penting! Mulai dari bagaimana ritme bicara yang senang Anda gunakan? Apakah Anda lebih nyaman bicara dengan tempo cepat atau lambat? Apakah suara Anda termasuk tenang, lembut, mengalun atau justru penuh tekanan dan hentakan? Apakah Anda cenderung berdiri tegak di satu tempat atau cenderung bergerak mendekati audiens? Jawablah semua itu dan yakinlah bahwa ini adalah petunjuk. Dari situlah instrumen penyampaian otentik Anda akan terbentuk.
- Jangan Coba-Coba untuk Meniru!
Coba bayangkan Anda berada pada posisi ditiru oleh seseorang, mungkin pada awalnya akan merasa bangga karena menjadi “inspirator”, kan? Namun, semakin lama, Anda akan semakin menyadari bahwa ditiru itu sama sekali perbuatan yang tidak menyenangkan! Gaya Anda yang khas, gaya yang Anda cari dalam diri Anda dalam kurun waktu yang tidak sebentar, dijiplak oleh seseorang dalam waktu singkat dan mendapatkan pujian. Itulah sebabnya mengapa meniru gaya orang lain secara mentah-mentah bukanlah suatu cara yang bijak karena meniru tanpa izin juga bisa melukai. Pahamilah bahwa tak semua pembicara nyaman gaya khasnya ditiru oleh orang lain. Lebih daripada itu, jika Anda meniru, Anda akan terjebak pada lingkaran yang seolah tak membebaskan Anda keluar dan membatasi potensi Anda untuk tumbuh sebagai pembicara yang unik dan otentik. Maka, pelajarilah bagaimana seorang pembicara hebat bisa menemukan gayanya, bukan menyalin gayanya. Lihatlah berbagai variasi instrumen penyampaiannya kemudian tanyakan pada diri Anda, “Di mana posisi saya diantara semua itu?”
- Kunci Keberhasilan Dimulai dengan Berlatih.
Ingatkah Anda, kapan terakhir kali Anda presentasi di depan banyak orang? Apa yang Anda pikirkan pada saat presentasi Anda berlangsung? Saya yakin, di antara Anda, terdapat orang-orang yang hanya fokus memikirkan bagaimana audiens menanggapi presentasinya, namun sulit untuknya memikirkan diri sendiri dan mencoba berefleksi secara langsung, “Oh, sepertinya saya harus memunculkan instrumen penyampaian yang begini/begitu”. Karena memang dasarnya, kita tidak bisa melihat diri kita sendiri pada saat diri kita tampil secara langsung. Sehingga, cobalah latih diri Anda untuk berlatih bukan hanya soal materi, tapi juga mengamati diri. Rekamlah pada saat Anda berlatih dan dengarkanlah! Tonton kembali, kemudian tanyakan pada diri Anda, bagian mana yang sekiranya “Saya banget”, catat itu, dan pertahankan.
- Jangan takut ketika ada seseorang yang mengatakan “Kamu berbeda”. Tak bisa dipungkiri, dalam ragam dunia public speaking, berbeda kerap dianggap aneh. Tapi teguhkanlah hati Anda, justru dari keanehan itulah yang bisa menjadi kekuatan Anda. Jika suara Anda tergolong tenang, lepaskan saja, tak perlu dipaksa menjadi lantang. Jika gaya bicara Anda lugas, tak perlu dibuat puitis. Jika Anda lebih nyaman berbicara sambil berjalan, tak perlu dipaksa berdiri kaku di atas panggung. Pada awalnya orang-orang tidak terbiasa dengan gayamu, tapi semakin lama mereka akan memahami, itulah Anda! Menjadi khas yang dikenang.
Tak perlu ragu pada diri Anda, berbahagialah ketika suatu hari nanti ada seseorang yang menghampiri Anda dan berkata, “Tadi itu kamu banget. Gaya bicaramu khas! Ngga ada duanya.” Karena saat itu, Anda tak hanya sekadar berbicara. Anda sedang menciptakan jejak.
Di penghujung ini, saya ingin mengajak Anda untuk menemukan suara Anda sendiri. Ah, tidak, bukan untuk agar disenangi orang lain, sama sekali tidak. Tapi agar Anda bisa menciptakan suara yang setia untuk menggambarkan dan mewakili siapa Anda sebenarnya. Sebab, dari setiap kata yang Anda ucapkan dari mulut Anda, itu tidak hanya sekadar dirasakan oleh telinga audiens, tetapi itu adalah sesuatu yang dikenang mereka sebagai citra untuk diri Anda.
Penulis: Tania Callista
Editor: Nurjannah, Nuzulul Magfiroh



