Rektor Undip Tanggapi Kasus Kekerasan Seksual di Upacara Dies Natalis ke-68

Peristiwa – Universitas Diponegoro (Undip) mengadakan Sidang Terbuka Senat Akademik dalam Upacara Dies Natalis ke-68 Undip dengan tema “Inovasi untuk Bangsa: When Innovation Meets Impact”. Acara tersebut dilaksanakan pada Jumat (17/10) pukul 08.30 Waktu Indonesia Barat (WIB) di Gedung Muladi Dome, Undip. Selaras dengan temanya, acara tersebut mendeklarasikan Undip sebagai kampus Zero Waste, serta mengadakan pameran yang menampilkan berbagai karya dan inovasi dari para mahasiswa Undip.

Sidang terbuka dimulai dengan menyanyikan  lagu kebangsaan Indonesia Raya dan mengheningkan cipta. Kemudian, pembukaan sidang terbuka dilakukan dengan ucapan kata pengantar dari Prof. Ir. Edy Rianto, M.Sc., Ph.D., IPU selaku Ketua Senat Akademik. Setelah kata pengantar, Rektor Undip, Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si memberikan kata  sambutan  sembari membacakan prestasi para mahasiswa Undip di tingkat nasional dan internasional. Kegiatan dilanjutkan dengan orasi ilmiah oleh guru besar Program Studi (Prodi) Teknik Mesin Fakultas Teknik (FT) yang kini menjabat sebagai Direktur Utama Perseroan Terbatas (PT) Lembaga Elektronika Nasional (LEN) Industri, Prof. Joga Dharma Setiawan, PhD. 

Selain berorasi, Prof. Joga juga menawarkan beberapa tempat magang di perusahaan-perusahaan strategis untuk mahasiswa. Ia mengatakan bahwa banyak dosen Undip yang berperan sebagai peneliti di perusahaan-perusahaan yang ditawarkan. Prof Suharnomo pun turut memberikan tanggapannya saat ditanya mengenai orasi Prof. Joga tersebut ketila hendak keluar dari ballroom usai acara..

“Beliau tadi menawarkan banyak tempat untuk magang industri strategis dan tadi dipaparkan beliau juga, banyak dosen-dosen kita yang sudah berperan di sana sebagai researcher,” ujar Prof. Suharnomo saat diwawancarai Awak Manunggal pada Jumat (17/10).

Sebagai informasi, sebanyak 7 orang dosen Undip yang masuk dalam daftar World’s Top 2% Scientists versi Stanford University pada tahun 2024 dan bertambah menjadi 8 orang di tahun 2025.

“Jadi sekali lagi, kami ingin di usia ke-68 ini mengukuhkan martabat kami dalam bidang keilmuan, tadi juga ditampilkan 2% intelektual global, yaitu ada dari Undip,” terang Prof. Suharnomo

Prof. Suharnomo berharap kontribusi para alumni dan dosen Undip dapat mendukung pemerintahan Presiden Republik Indonesia (RI) Prabowo Subianto melalui kontribusi para peneliti dan dosen Undip untuk Indonesia, terutama dalam bidang industri.

“Mudah-mudahan kita bisa support pemerintahan Pak Prabowo dari kampus, juga bisa melalui researcher-nya, lewat dosen-dosennya bermanfaat untuk penelitian industri,” lanjut Prof. Suharnomo.

Selain itu, Prof. Suharnomo mengatakan bahwa pihak universitas berencana untuk mensosialisasikan magang di industri-industri strategis tersebut kepada mahasiswa nantinya.

“Kami rasa, kami akan announce ini dan kami akan sosialisasikan segera ke teman-teman mahasiswa,” tambah Prof. Suharnomo.

Undip Zero Waste dan Pameran Inovasi Mahasiswa

Prof. Suharnomo mendeklarasikan Undip sebagai kampus Zero Waste berupaya untuk mengelola sampah organik maupun anorganik yang berkoordinasi dengan pakar daur ulang sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Unit Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan Lingkungan (K3L). Beberapa pengelolaan sampah yang dilakukan adalah dengan mengelola sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM) dan memanfaatkan sampah basah menjadi pakan magot yang selanjutnya menjadi pakan ayam dan pupuk organik. Pengelolaan sampah ini juga diharapkan dapat bermanfaat tidak hanya di Undip, melainkan juga masyarakat di sekitar Undip.

“Kita bisa 100% penanganan sampah organik maupun anorganik, bisa menjadi energi, bisa menjadi paving, bisa untuk close loop circular economy,” terang Prof. Suharnomo.

Tidak hanya upacara dan orasi ilmiah, pada acara kali ini juga terdapat pameran berbagai inovasi mahasiswa yang berada di area masuk ke ballroom lantai 2 Gedung Muladi Dome. Inovasi-inovasi yang ditampilkan merupakan karya para mahasiswa Undip berupa teknologi mesin, tanaman, makanan, minuman, perhiasan, dan lainnya. Beberapa di antaranya, yaitu D’Ozone, sebuah mesin penghasil ozon berteknologi plasma yang berfungsi untuk memperpanjang masa simpan tanaman hortikultura. 

Nah, jadi dengan penggunaan mesin ini, nanti masa simpan hortikultura akan menjadi lebih lama dan juga bakteri dan jamur yang menempel di hortikultura tersebut akan mati dan pestisida pun juga bisa rontok,” papar Irma Novita, salah satu bagian dari tim inovasi D’Ozone.

Sejak tahun 2018, tim D’Ozone Undip telah bekerjasama dengan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Awalnya, D’Ozone didistribusikan ke 8 provinsi di Indonesia yang di antaranya berada di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Kini, D’Ozone sudah didistribusikan hampir ke seluruh Indonesia, salah satunya untuk membantu para petani mengekspor hasil panen hortikultura mereka ke luar negeri. 

“Sudah ada yang mengekspor beberapa hasil pertaniannya itu ke luar negeri, seperti ada petani yang di Magelang yang menggunakan D’Ozone ini, mereka bisa ekspor brokoli ke Singapura,” jelas Irma.

Selain D’Ozone, terdapat inovasi berupa tanaman, salah satunya adalah buah melon hasil riset dari tim kewirausahaan mahasiswa Undip, Dipo Me. Berbeda dengan buah melon lainnya, Dipo Me memproduksi melon premium dengan nutrisi yang diracik sendiri. Penanaman hingga ke masa panen melon dari Dipo Me sendiri bisa mencapai selama 2,5 sampai 3 bulan. Muhammad Ridha Affan, salah satu mahasiswa Prodi Agroekoteknologi Undip sekaligus personil Dipo Me mengungkapkan bahwa mereka juga mendistribusikan melon-melon tersebut mulai dari lingkungan Undip hingga ke berbagai kota di luar Semarang, seperti Yogyakarta, Solo, dan Jakarta. Ridha mengaku melon-melon yang didistribusikan membuahkan kesan positif dari para konsumen.

“Respons dari mereka alhamdulillah, melonnya itu teksturnya lebih crunchy dan juga rasanya lebih manis dari yang biasanya mereka beli di pasaran,” ucap Ridha.

Menanggapi Kasus Kekerasan Seksual oleh Mahasiswa Fakultas Hukum (FH) Undip

Usai berlangsungnya acara, Prof. Suharnomo ditanya mengenai persoalan kasus kekerasan seksual oleh mahasiswa FH Undip, Chiko Radityatama Agung Putra. Chiko diduga menyebarkan konten pornografi berupa foto-foto siswi dan guru di sekolahnya dulu yang disunting dengan Artificial Intelligence (AI) melalui akunnya di X (red, dulu Twitter).

Prof. Suharnomo menjelaskan bahwa dari pihak kampus sendiri sudah melakukan gelar perkara dan akan kembali melakukan pemanggilan terhadap pelaku atas kasus tersebut. Pihak Undip sendiri sedang berupaya untuk menangani kasus tersebut, serta bekerja sama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), pakar digital, dan psikologi yang ahli dalam menangani kasus kekerasan seksual. Hal tersebut dilakukan agar korban mendapatkan keadilan dan pelaku diberikan sanksi yang seadil-adilnya. 

“Kita nggak mungkin membiarkan hal itu terjadi. Mudah-mudahan sistem mekanisme yang kita punya bisa memberikan keadilan yang terbaik bagi semuanya,” tutur Prof. Suharnomo.

Prof. Suharnomo juga menegaskan bahwa siapa pun tidak perlu khawatir akan permasalahan tersebut. Tentunya, kasus kekerasan seksual yang terjadi akan ditangani dengan melibatkan mahasiswa dalam memperoleh solusi yang terbaik.

Reporter: Naftaly Mitchell, Salwa Hunafa

Penulis: Salwa Hunafa

Editor: Nuzulul Magfiroh

Scroll to Top