Prabowo Klaim 99,99% Keberhasilan MBG, Abaikan Korban Keracunan. Serius, Pak?

Presiden Prabowo Subianto pada Sidang Kabinet Paripurna untuk mengevaluasi program pemerintah di Kantor Kepresidenan pada Senin (5/5) (Sumber: cnbcindonesia.com)

Opini – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga saat ini masih menjadi bulan-bulanan masyarakat Indonesia. Bagaimana tidak? Program tersebut dilaksanakan tanpa melalui pertimbangan matang dan terkesan terburu-buru. Mulai dari pengelolaan anggaran yang masih kacau, kualitas gizi yang masih dipertanyakan, persebaran manfaat yang belum kunjung merata, hingga isu keracunan yang dirasakan oleh pelajar  sebagai penerima manfaat program. 

Belum lama ini, banyak media yang melaporkan peristiwa keracunan dari beberapa sekolah penerima manfaat program MBG. Berdasarkan informasi dari cnnindonesia.com, sekiranya terdapat 210 orang yang terdampak keracunan dari delapan sekolah di Bogor, Jawa Barat per Jumat (9/5). Selain itu, regional.kompas.com juga melaporkan terdapat 64 siswa dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Talang Ubi, Pali, Sumatera Selatan usai santap MBG pada Senin (5/5). 

Lantas, bagaimana Prabowo Subianto merespons hal ini?

Sangat disayangkan, Prabowo seakan berfokus hanya pada persentase keberhasilan program MBG. Menurut Prabowo, dibandingkan total penerima manfaat MBG yang berkisar 3,4 juta orang, hanya kurang dari 200 orang yang keracunan. 

“Jadi bisa dikatakan yang keracunan atau yang perutnya nggak enak berjumlah 200 orang. Itu 200 dari 3 koma sekian juta kalau tidak salah 0,005 persen,” jelasnya dalam sidang paripurna di Kantor Presiden pada Senin (5/5).

Menurutnya, 0,005 persen bukanlah angka yang besar untuk diperdebatkan, sehingga nilai kesuksesan program MBG masih tetap mendominasi.

“Berarti keberhasilannya 99,99 persen, di mana ada usaha, usaha manusia di mana bidang pekerjaan apapun kalau 99,99 persen keberhasilannya oke dong?” lanjutnya

.Miris. Ketika seorang presiden menganggap nyawa sebagai patokan statistik yang digunakan untuk validasi keberhasilannya. Suatu program seharusnya direncanakan dan dijalankan dengan target nol resiko, apalagi menyangkut nyawa seseorang. Kejadian tersebut  tampaknya membuktikan bahwa fokus Prabowo hanyalah pada jumlah penerima manfaat dan validasi dari media dan pejabat publik asing. Padahal, hingga kini patokan keberhasilan program MBG masih dipertanyakan publik menilik banyaknya yang menyatakan sikap oposisi terhadap program MBG. 

Sikap menyepelekan oleh Prabowo ketika dihadapkan terhadap fakta kasus keracunan, ia malah lebih banyak menunjukan pembelaan diri dengan menceritakan inspeksi dadakan yang dilakukan kepada pekerja dapur, menunjukan sterilisasi dapur sudah cukup aman bagi kebersihan makanan. Selain itu, ia juga menyatakan bahwa keracunan bukan hanya disebabkan oleh kualitas makanan, tetapi juga kesalahan kebiasaan anak-anak yang tidak cuci tangan dan tidak menggunakan sendok. Kemudian, prasangka lactose intolerant pada anak-anak yang tidak pernah meminum susu sebelumnya. Kendati mengevaluasi kasus keracunan, ia malah lanjut membanggakan program garapannya yang diapresiasi oleh pendiri Microsoft, Bill Gates, dan telah berkunjung ke Indonesia untuk menemui Prabowo pada Rabu (7/5). 

Peristiwa keracunan karena program MBG seharusnya menjadi catatan evaluasi besar bagi Prabowo. MBG yang dijanjikan akan memberikan makanan sehat bergizi dan memastikan kesehatan calon generasi bangsa, malah mengkhianati tujuannya sendiri. Peristiwa ini bukan hanya akan menambah kesan buruk masyarakat pada pengelolaan program pemerintah, tetapi juga melahirkan ketidakpercayaan dan trauma bagi pelajar penerima manfaat. 

Patokan kesuksesan suatu program seharusnya bukan menitikberatkan pada apresiasi dan jumlah penerima, bukan pula hanya dilihat dari kacamata pejabat publik dan pemerintahan.  Program MBG ditujukan kepada masyarakat, sudah seharusnya masyarakat pula lah yang berhak mengevaluasi, menilai, dan menuntut perbaikan. Bukan kemudian dibungkam dengan menyerukan data statistik keberhasilan distribusi dan apresiasi dengan mengacuhkan fakta yang mengkritik. 

Jika kemudian program MBG kembali meninggalkan korban keracunan, lalu Prabowo kembali menepis dengan tetap membanggakan persentase keberhasilan ala-ala, berarti program pemerintah bukan lagi ditujukan untuk mensejahterakan rakyat, tetapi semata hanya sebagai catatan prestasi bagi nama baiknya di mata dunia.   

Bilamana Prabowo memang memprioritaskan keadaan rakyatnya, seharusnya tidak perlu menunggu media asing menyoroti kasus keracunan MBG untuk memaksanya melakukan evaluasi besar-besaran terhadap programnya. 

 

Penulis: Hanifah Khairunnisa 

Editor: Nuzulul Magfiroh, Nurjannah

 

Referensi: 

Emir Yanwardhana. (2025, May 5). Prabowo Ungkap Keberhasilan MBG Capai 99,99%, Kasus Keracunan 0,005%. CNBC Indonesia; cnbcindonesia.com. https://www.cnbcindonesia.com/news/20250505203136-4-631166/prabowo-ungkap-keberhasilan-mbg-capai-9999-kasus-keracunan-0005

Tempo.co. “Prabowo Soal Keracunan MBG, Dari Siswa Tak Cuci Tangan Hingga Tak Pakai Sendok.” Tempo.co, 7 May 2025, www.tempo.co/ekonomi/prabowo-soal-keracunan-mbg-dari-siswa-tak-cuci-tangan-hingga-tak-pakai-sendok-1364281.

Danu Damarjati. “Prabowo Sebut Keracunan MBG Hanya Sedikit, Celios: Nyawa Bukan Statistik.” KOMPAS.com, Kompas.com, 6 May 2025, nasional.kompas.com/read/2025/05/06/10350061/prabowo-sebut-keracunan-mbg-hanya-sedikit-celios-nyawa-bukan-statistik.

“Siswa Diduga Keracunan MBG Di Bogor Melonjak Jadi 210 Orang.” Nasional, cnnindonesia.com, 11 May 2025, www.cnnindonesia.com/nasional/20250511182435-20-1228338/siswa-diduga-keracunan-mbg-di-bogor-melonjak-jadi-210-orang.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top