Perayaan 100 Tahun Pram: Bersama Soe Tjen Marching Diskusi Lawan Militerisme

Diskusi ‘Melawan Militerisme’ bersama Soe Tjen Marching (sebelah kiri) dan Pujo Nugroho (sebelah kanan) sebagai moderator di Art Center pada Rabu (23/4). (Sumber: Manunggal)

Warta Utama – Diskusi Publik  yang diselenggarakan oleh Pulau Buku sebagai Perayaan 100 tahun Pramoedya Ananta Toer berhasil digelar dan mengundang masyarakat serta mahasiswa pada Rabu (23/4) di Gedung Art Center, Universitas Diponegoro (Undip). Menghadirkan Soe Tjen Marching, seorang dosen, penulis, sekaligus feminis yang melahirkan beberapa mahakarya besar, di antaranya Dari dalam Kubur dan Yang Tak Pernah Padam. Kegiatan tersebut dipandu oleh Pujo Nugroho sebagai moderator yang dipantik dengan bahasan rupa sastra yang dianggap bahaya bagi sebuah rezim.

Pembuka pada diskusi ini membahas tentang situasi atau ekspresi kesenian pada rezim terdahulu yang menjadikan seolah sastra berbahaya. Soe Tjen membuka dengan sebuah karya terkenal yakni Max Havelaar. Kisah menyebutkan sistem Belanda yang culas dan merugikan petani rempah pada zaman itu. Kala diangkat menjadi sebuah novel, penulisnya dikejar habis dan dianggap berbahaya. Maka di sinilah letak kekuatan sastra itu sendiri.

“Dari situlah kita lihatlah kekuatan sastra dan penulisnya ini sampai dikejar-kejar pemerintahan belanda,” tutur Soe Tjen.

Kemudian, ia menyandingkan dengan eksistensi orde baru yang alergi dengan sastra, padahal substansi dari sastra itu adalah sejarah. Sama sekali bukan membicarakan rezim yang sedang memerintah, tetapi kata Soe Tjen, orde baru anti dengan sastra yang radikal kala itu, terlebih membingkai kolonial dengan realitas yang sebenarnya, sebab antara kolonial dan orde baru memiliki sistem yang serupa.

“Yang kita lihat masanya Soeharto tuh betul-betul takut akan penulis, dan represinya terhadap penulis itu sangat luar biasa,” kata Soe Tjen.

Dengan menggurita ke masa orde baru bahkan zaman kolonialisme, Soe Tjen Marching juga menyinggung tentang era kediktatoran yang lahir kembali. Sebab revisi Undang-undang Tentara Nasional Indonesia (TNI) menjadi persoalan di tengah negara berdemokrasi. Tak mungkin kekuatan militer setara dengan kekuatan rakyat, sebab harus ada yang tunduk lebih dulu. Dengan revisi tersebut, TNI bukan kian tunduk melainkan semakin memperluas wewenangnya.

“Dari situ kita lihat, kalau masih ada represi-represi seperti itu, dan penjajahnya itu masih ada di sini. Sekarang dibuat lebih parah dengan UU TNI, yang di mana UU ini akan mengembalikan dwi fungsi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI),” jelas Soe Tjen.

Selain itu, Soe Tjen juga berkisah tentang pengalamannya saat hendak menerbitkan buku. Sempat terkendala oleh ketakutan penerbit akan beberapa babak yang mengkritik orde baru, sehingga memutuskan untuk menghilangkan bagian tertentu. Namun, Soe Tjen menolak, karena novel yang akan diterbitkan ketika orde baru sudah runtuh dan tak lagi memerintah. Hingga akhirnya, novel tersebut diterbitkan oleh Marjin Kiri.

Sastra yang Berani

Sastra yang berhasil membawa dampak adalah sastra yang membuat banyak pihak gemetar dan ketakutan. Apapun alasan mereka melarang, tetapi selama sastra diganggu dengan cara-cara klise, mulai dari teror, ancaman verbal dan penindasan, berarti sastra itu telah berguna.

“Jadi, jangan khawatir kalau kalian itu sempat didatangi, sempat ada yang ancam, berarti apa yang kalian lakukan itu  apalagi dengan pemerintah yang seperti ini, itu sudah di jalan yang benar. Berarti membawa dampak, nggak sia-sia,” pungkasnya.

Sastra Tidak Subversif, Tapi Kata-katalah yang Tak Pernah Netral

Soe Tjen menjelaskan bahwa kata-kata tidak pernah memihak pada satu hal, sebab ia tidak netral. Satu kata bagi siapapun bisa berarti bermacam-macam. Bahkan untuk menjelaskan makna satu kata, setiap orang memiliki interpretasi yang berbeda-beda. Sama halnya dengan sastra. Kenapa dalam beberapa zaman atau rezim, sastra dianggap sebagai ancaman? Karena interpretasi mereka terhadap sastra tersebut tidak sama dengan apa yang kita pikirkan.

Hal inilah yang kemudian menjadikan sastra seperti berbahaya di rezim tertentu yang menganggap kekuasaan mereka seperti dalam keadaan darurat kalau sastra-sastra tersebut dibaca oleh banyak orang.

Apa yang Lebih Berbahaya: Penulis atau Tulisan?

Menurut Soe Tjen, hubungan antara penulis dan tulisannya bersifat kompleks. Apa yang kerap dituliskan oleh seorang penulis tidak sepenuhnya mencerminkan bagaimana keadaan hidupnya. Ia mengambil contoh, Pramoedya Ananta Toer melahirkan banyak karya sastra. Salah satu bukunya yakni kolektif cerita pendek di Jakarta, tentang kehidupan sosial, justru sangat berbanding terbalik dengan Tetralogi Pulau Buru yang berbau romansa berlatar belakang kolonial.

“Bahkan dari satu penulis itu itu bisa menghasilkan tulisan  yang berbeda. Tapi kadang-kadang ada memang tulisan dari penulis itu bersifat revolusioner. Sehingga membahayakan penulisnya.” Kata Soe Tjen.

Jadi, antara tulisan dan penulis keduanya memiliki hubungan yang kadang tak bisa diinterpretasikan secara sepihak atau dari satu sudut pandang saja. Siapapun bisa melahirkan tulisan apapun, dan keberbahayaan sebuah tulisan ada pada interpretasi yang membaca sastra itu sendiri.

Diskusi ini berkisah tentang bagaimana keadaan yang kian represif. Beberapa kali terjadi peristiwa pelarangan pembukaan lapak buku, Januari lalu seni milik seorang pelukis dibredel, tulisan seorang yang mengkritik presiden rumahnya didatangi tentara, dan masih banyak lagi. Semua persoalan itu bertumpu pada ketakutan rezim akan sastra. 

Kata Soe Tjen, sastra bukan hal yang biasa. Barangsiapa yang menganggap sastra sepele, justru dia sudah dipengaruhi sastra itu sendiri dan bahkan sama halnya dengan politik. Hari-hari ini sastra diperlukan, untuk tetap melanjutkan perlawanan. Sebagai pemantik diskusi yang membuat pergerakan berumur panjang.

Dengan diskusi ini, Soe Tjen juga mengajak serta mengingatkan seluruh elemen sipil untuk tetap bersatu. Di tengah rezim yang membangkitkan hantu orde baru.

“Tolonglah berkoalisi. Tolonglah saling mendukung. Jalinlah kekuatan ini. Kalau tidak mulai dari sekarang, kalau tidak bergerak, nanti 65 dan 98 akan berpotensi terjadi lagi. Atau bahkan rasanya seperti sudah kembali lagi.” Seru Soe Tjen.

Diskusi ini sebagai epilog dari Perayaan 100 tahun Pramoedya Ananta Toer yang juga bekerja sama dengan Project Bumi Manusia. Sebagai pengingat dan obat tentang sastra di tengah rezim yang makin mencekik rakyat.

Reporter: Christini Letania, Mitchell Naftaly

Penulis: Mitchell Naftaly

Editor: Nurjannah, Nuzulul Magfiroh 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top