Pengolahan Air Sungai menjadi Air Bersih Layak Pakai dengan Teknologi Biofence di Desa Bedono, Kecamatan Sayung

Tim PKM-PM Undip pembuat alat penjernih air teknologi biofence bersama dengan ketua RT desa Bedono, Kecamatan Sayung. (Sumber: Dok. Pribadi)

 

Citizen Journalism – Desa Bedono adalah salah satu daerah di Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah yang pantainya kerap mengalami rob cukup parah. Setiap tahunnya wilayah Desa Bedono mengalami penurunan daratan hingga 10 cm yang kemudian membuat potensi rob di desa ini menjadi semakin tinggi. Hal itu disebabkan oleh banyaknya sumur galian yang mengeksploitasi air tanah di Desa Bedono sebagai penyediaan air bersih bagi masyarakat Desa Bedono. Menurut Asdak (1995) penurunan muka air tanah ini dapat menyebabkan amblesnya permukaan tanah dan intrusi air laut. Karena banjir rob yang meresahkan ini, masyarakat terpaksa membeli air bersih untuk memenuhi kebutuhan pokoknnya.

 

Oleh sebab itu, Hessy Rahma Wati, Uus Uswatun Hasanah, M. Sulthon Auliya, Aulia Rachdiani Pertiwi, dan Fathania Puspita Prameswari mengambil Program Kreativitas Mahasiwa Bidang Pengabdian Masyarakat (PKM-PM). Dengan dosen pembimbing Mochamad Arief Budihardjo, dan berkolaborasi dengan masyarakat desa Bedono, tim tersebut berinisiatif untuk membuat sebuah alat penyaring dengan teknologi biofence.

 

Teknologi ini disebut teknologi biofence karena memanfaaatkan mikroorganisme dalam suatu media untuk membunuh bakteri, alga, dan polutan berbahaya di dalam air sungai. Selain itu, pemasangan dibuat dengan menerapkan sistem pagar untuk mengatur flowrate/laju aliran air dalam biofence sehingga proses pemurnian berjalan secara optimal. Komponen filter air yang digunakan diutamakan arang dan bioball yang merupakan penghasil mikroorganisme.

 

Tahapan dalam penyaringan air ini ada tiga, yaitu air masuk kedalam breakwater/pemecah ombak untuk menghindari flowrate yang terlalu cepat. Selain itu, breakwater berguna untuk menyaring beberapa partikel-partikel makro dalam air seperti dedaunan, ranting, pasir, bahkan makhluk hidup di dalam air. Tahapan yang kedua adalah air dialirkan masuk ke dalam penyaring biofence. Pada tahap ini, sekitar 8-12 jam air akan disaring oleh mekanisme kerja bakteri di dalam media arang dan bioball. Untuk memaksimalkan penyaringan, bahan penyaring tidak hanya menggunakan media filtrasi biologi, tetapi juga menggunakan ijuk, krikil, dan zeolite. Tahapan yang terakhir air akan masuk ke dalam storage tank/bak penampungan.

 

Proses pembuatan alat penjernih air teknologi biofence oleh tim PKM-PM Undip. (Sumber: Dok. Pribadi)

 

Tim PKM-PM dalam pembuatan alat penjernih air teknologi biofence bekerja sama dengan karang taruna. Harapannya, nantinya karang taruna dapat ikut mendampingi dan memberikan penjelasan kepada masyarakat terkait dengan alat penjernih air teknoologi biofence. Selain itu, masyarakat dapat memanfaatkan air yang dihasilkan.

 

“Harapannya dari program ini masyarakat dapat paham akan penjernihan air dan alat ini dapat bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Hessy

 

Dalam pelaksanaannya, tim PKM-PM dan karang taruna menerapkan metode selang seling sehingga tidak menimbulkan kerumunan dan juga menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Tim PKM-PM menyediakan masker, handsoap dan handsanitizer untuk digunakan oleh masyarakat.

 

Penulis: Muhammad Sulthon Auliya, mahasiswa Teknik Komputer 2020

Editor: Aslamatur Rizqiyah, Dyah Satiti

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top