Patriarkisme dalam Program Keluarga Berencana

Ragam alat pencegah kehamilan (kontrasepsi) yang umum digunakan di Indonesia (Sumber: detik.com)

 

Opini – Keluarga Berencana (KB) merupakan salah satu program unggulan pemerintah yang bertujuan menekan angka pertumbuhan penduduk. Program ini digembar-gemborkan dengan slogan, “Dua Anak, Cukup!”. Eksistensi program ini mengharapkan masyarakat Indonesia cukup memiliki dua anak dalam satu rumah. Maka dari itu, pemerintah juga menawarkan solusi pendukung berupa alat-alat kontrasepsi.

Alat kontrasepsi dapat didefinisikan sebagai alat bantu untuk mencegah seorang wanita mengalami kehamilan, meskipun penggunaannya juga bisa diterapkan kepada laki-laki. Berdasarkan sifatnya, alat kontrasepsi dibagi menjadi dua: permanen dan nonpermanen. Alat kontrasepsi nonpermanen antara lain adalah kondom, Intrauterine Device (IUD), pil KB, KB suntik, dll, yang bersifat sementara dan persentase kegagalannya masih ada. Sementara itu, dikutip dari vasectomy.australia, alat kontrasepsi permanen umumnya berhasil 99,9%, seperti vasektomi dan tubektomi.

Vasektomi adalah metode kontrasepsi pada pria dengan memutus saluran yang menghubungkan testis (produsen sperma, red) dengan penis (jalan keluarnya sperma, red). Sementara itu, tubektomi adalah proses pemotongan atau pengangkatan tuba falopi wanita sehingga pembuahan tidak terjadi.

Di Indonesia, edukasi mengenai alat kontrasepsi masih sangat tabu. Hal ini terbukti dengan maraknya kehamilan di luar nikah dan kehamilan tidak diinginkan. Selain itu, meskipun mengenal alat kontrasepsi, para pasangan suami istri (pasutri) umumnya lebih memilih KB berupa suntik dan pil KB yang harus dilakukan oleh wanita.

KB suntik dan pil juga berpengaruh secara hormonal serta memiliki efek samping, seperti siklus menstruasi yang berantakan, perubahan mood, hingga pengeroposan tulang. Padahal, ada pilihan kontrasepsi lain berupa putus senggama (mengeluarkan penis dari vagina sebelum ejakulasi, red) dan kondom yang tidak memiliki efek samping sama sekali.

Kecenderungan membebankan alat kontrasepsi kepada wanita, yang notabenenya juga harus mengandung, melahirkan, dan menyusui, merupakan contoh nyata patriarkisme mayoritas laki-laki di Indonesia. Pemakaian kondom atau metode putus senggama yang dinilai “kurang memuaskan” saat berhubungan menjadi faktor besar mereka membebankan urusan ini kepada wanita. Meskipun kondom dan putus senggama dinilai kurang efektif mencegah kehamilan, pil dan suntik KB pun tidak memiliki persentase keberhasilan setinggi alat kontrasepsi permanen.

Meskipun vasektomi memiliki tingkat keberhasilan tinggi, laki-laki tetap enggan menjadi pihak yang berkontrasepsi. Alasan utama mereka adalah rasa takut, seperti takut terhadap rasa sakit pascaoperasi dan takut berkurangnya kenikmatan saat berhubungan. Namun, kebanyakan mendukung tubektomi sebagai alat kontrasepsi permanen dengan alasan keberhasilannya lebih tinggi. Padahal, tubektomi memiliki risiko tinggi seperti kehamilan ektopik dan nyeri abdomen.

Ringkasnya, rasa superior dan patriarki laki-laki yang menganggap tugas perempuan adalah melayani dan menerima rasa sakit jauh lebih dalam daripada yang terlihat di permukaan. Dengan demikian, patriarkisme dalam bentuk apapun seyogianya tidak dilestarikan dengan alasan apa pun.

 

Penulis: Elsa Erlani Wulandari

Editor: Hesti Dwi Arini, Ayu Nisa’Usholihah 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top