Opini – Tepat hari ini, 3 tahun lalu menjadi hari yang mencekam sekaligus luka yang mendalam bagi kelompok suporter Arek Malang (Arema) bahkan bisa dikatakan menjadi duka untuk seluruh masyarakat Indonesia. Puluhan gas air mata ditembakkan dengan ganas di dalam stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Lantas, apakah para polisi yang bertugas tidak mengetahui peraturan penggunaan gas air mata? Apakah para polisi tidak mengetahui cara pengamanan di dalam stadion?
Tepat pada 1 Oktober 2022 tragedi Kanjuruhan dimulai ketika peluit terakhir dibunyikan yang menandakan pertandingan telah usai, yang mana tim tuan rumah (red, Arema) kalah dengan skor 3-2 oleh tim tamu (red, Persebaya). Kedua tim tersebut memang rival atau biasa disebut dengan derby super Jawa Timur. Arek Malang mulai memasuki lapangan karena merasa kecewa timnya kalah, lalu aparat menanggapinya dengan menembakkan gas air mata agar mencegah semakin banyaknya suporter memasuki lapangan. Tetapi hal itu membuat para suporter panik dan berusaha meninggalkan lapangan dan yang seharusnya pintu stadion sudah dibuka 5 menit sebelum pertandingan usai, di kejadian hari itu pintu masih tertutup sehingga para suporter terjebak di dalam dan berakhir dengan merenggut 135 nyawa.
Ratusan orang menjadi korban, ratusan keluarga mencari keadilan, tetapi adakah tindakan dari para pejabat yang berwenang di dalam kejadian itu? Mereka terus menyuarakan, mereka terus mencari keadilan, tetapi apakah ada tindakan dan perkembangan selama 3 tahun ini?
Bagaimana ada tindakan dan transparansi dari kejadian ini kalau pelakunya saja dari kepolisian dan yang melakukan investigasi sekaligus penindakan juga dari kepolisian. Jika diibaratkan komplotan maling, komplotan pembunuh pasti akan menutupi teman-teman komplotan lainnya. Karena itu terus suarakan suara keadilan karena negara ini terlalu bajingan untuk didiamkan, polisi ini terlalu bejat untuk didiamkan.
Duka itu akan hilang, namanya mungkin akan terlupakan, pertandingan akan kembali ramai dan suporter pun akan kembali bersorak, tetapi keluarganya? Mungkin akan membenci sepak bola selamanya. Jangan ada lagi orang tua yang menangisi kepergian anaknya karena sepak bola.
Penulis: Billy Mahesa
Editor: Nurjannah, Nuzulul Magfiroh