ODM Undip 2025: Cinta Laura, Maliq & D’Essentials, Hingga Orasi Ketua BEM Riuhkan Stadion

Serah terima jabatan oleh Ketua ODM 2024 kepada Ketua ODM 2025 di Stadion Undip, Tembalang pada Sabtu (23/8). (Sumber: Manunggal)

Warta Utama – Universitas Diponegoro (Undip) sukses menyambut mahasiswa baru (maba) dengan gelaran agenda tahunan, yaitu Orientasi Diponegoro Muda (ODM) 2025. ODM berhasil dilaksanakan di Stadion Undip, Tembalang pada Sabtu (23/8) dengan dihadiri oleh jajaran pihak rektorat, senat akademik, Majelis Wali Amanat (MWA), dan maba angkatan tahun 2025. ODM menjadi acara puncak sekaligus penutup rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB). 

Tentang ODM Undip 2025

ODM tahun ini berhasil menghadirkan Cinta Laura dalam sesi Dipscussion. Ia banyak membagikan pengalaman kuliahnya, manajemen finansial dan pengembangan diri sebagai seorang mahasiswa. Kehadiran Maliq & D’Essentials turut menjadi yang paling ditunggu maba di ODM. Sebanyak kurang lebih 14.000 maba berkumpul di tengah lapangan untuk menikmati penampilan Maliq & D’Essentials sebagai penutup dari rangkaian ODM. 

Tak beda jauh dengan tahun sebelumnya, ODM 2025 menyajikan karya mozaik, mahakarya, parade, keynote speech Menteri Pertanian Republik Indonesia (RI) oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Undip, hingga orasi ketua BEM Fakultas dan Undip. Menariknya, inovasi ODM tahun ini berhasil terealisasi dengan menghadirkan 2 paramotor yang mengibarkan bendera Undip dan ODM. 

“Alhamdulillah dari pelaksanaan ODM kemarin, kita berhasil merealisasikan semua janji-janji kita di Grand Design. Contohnya mungkin beberapa hal yang mungkin agak susah, paramotor. Dan mungkin bentuknya cukup dinikmati oleh para mahasiswa baru juga,” ucap Attallah Febrio Putra, atau biasa disapa Attallah, Ketua ODM Undip 2025. 

Kata Maba Tentang ODM dan Panitia

Tak sedikit maba yang mengapresiasi dan terkesan dengan pelaksanaan ODM. Mereka merasa kehadiran guest star hingga materi yang dibawakan sesuai dengan ekspektasi dan kebutuhan mereka. 

“Yang pasti keren lah. Mengundang banyak banget tokoh inspiratif, salah satunya Menteri Pertanian, Maliq, sama Cinta Laura juga, jadi banyak pengalaman dan pengetahuan lah untuk hari ini,” tutur Rafi Kusumaputra, salah satu maba Antropologi Sosial, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) ketika di wawancarai oleh Awak Manunggal pada Sabtu (23/8).

“Banyak insight-insight baru ya dari Kak Cinta Laura, bahkan tadi ada dari sambutan para BEM  dan Ketua BEM sendiri, dan menurut aku ya seru sih, bermakna sekali,” ujar Rafa Kusumaputra, salah satu maba Ekonomi Islam, Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) turut menimpali. 

Maba lain juga turut merasa puas dengan berbagai pelayanan dari para panitia. Selain karena ramah dan cepat tanggap, panitia juga dinilai peduli dengan kebutuhan para maba. 

“Kalau pelayanan panitianya oke banget, kak. Tadi aku duduk di bawah juga ditanyain, terus disuruh masuk tenda biar nggak kepanasan,” jelas Sheilla Natalia, salah satu maba Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM).

“Momen yang tadi mati listriknya, ada beberapa yang teriak-teriak minta dinyalain yang langsung nyala gitu, langsung direspons dengan baik lah,” tutur Rafi.

Relevansi Tema dengan Kebutuhan Maba 

ODM Undip 2025 kali ini mengusung tema “Smart Spending, Big Thinking” yang diharapkan mampu menjadi pondasi maba dalam lebih bijak mengatur finansial. Ketika ditanya mengenai relevansi tema dengan kebutuhan mereka, tak sedikit dari mereka yang merasa relate dengan tema tersebut. 

“Butuh banget, kak. Paling di jaman sekarang kan untuk menjaga (red, sikap) konsumerisme,” pungkas Rayhan Zaky, salah satu maba Informatika, Fakultas Sains dan Matematika (FSM). 

Hal ini selaras dengan pernyataan Sheilla Natalia,

“Kalau aku yang baru pertama kali dikasih uang secara fully untuk sebulan. Jadi biasanya kan kalau butuh minta. Ini kan sekarang kita nggak bisa kayak gitu karena jauh. Jadi harus di-manage dari diri kita sendiri sih belajar me-manage uang sendiri,” jelas Sheilla. 

Beberapa maba juga merasa suka dengan desain dan warna kaos ODM 2025. Bagi Rayhan Zaky dan Mikael Ega, dua orang maba Informatika, FSM, merch dan kaos ODM ini bagus untuk menyelaraskan mereka semua. 

Sheilla Natalia dan Jeovanni Ladonia Sitohang, maba K3 FKM merasa tidak dibebankan dengan merch ODM, karena memang diberlakukan secara opsional sehingga mereka hanya membeli sesuai dengan kebutuhan mereka saja. 

Beberapa Kendala di Lapangan ODM 

Banyak maba yang menyadari dan mengeluhkan terkait dengan mati lampu, kesulitan sinyal, dan beberapa televisi (TV) yang rusak. Pada kondisi lapangannya memang terjadi mati lampu di beberapa sesi, yakni sesi Nami Oramsi, awal penampilan mahakarya, dan orasi Ketua BEM Fakultas, khususnya BEM Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK). 

“Ada beberapa sekitar 5 menit lah, atau 6 menit gitu, listriknya mati di tempat duduk aku, kipasnya mati, TV-nya mati, jadi ada pembicara yang ngomong kurang kedengaran dan gak tau apa yang disampaikan,” tutur Rafi.

Selaras dengan keluhan yang disampaikan Rafa yang antusias mendengarkan orasi dari para ketua BEM. 

“Terutama pas tadi ya sambutan dari para BEM, ada beberapa yang suaranya tidak terlalu denger, jadi pesannya tidak terlalu jelas karena mic-nya mungkin,” lanjut Rafa. 

Sheilla dan Jeovanni turut mengkritik televisi yang mati dikarenakan mati lampu. 

“Tapi itu TV-nya kita hilang, jadi kita tidak kelihatan tadi. Yang lain nyala, lampunya kita mati,” jelas Sheilla.

Attallah membenarkan hal tersebut. Ia menjelaskan bahwa beberapa televisi mati dikarenakan mati lampu dan genset. 

“Karena kabelnya itu terinjak ataupun terdorong oleh teman-teman mahasiswa baru. Buat mati lampu, itu masalah genset ya, tapi itu setau aku tidak terlalu lama ya, memang mengganggu kenyamanan kalau mati lampu pasti,” jelas Attallah ketika diwawancarai oleh Awak Manunggal pada, Senin (25/8). 

Selain perkara mati lampu, banyak maba juga mempertanyakan kendala sinyal yang sulit. Attallah menjelaskan bahwa sinyal memang diprioritaskan bagi tim kreatif yang memang membutuhkan live streaming

“Walaupun kami dari Undip itu memperkuat jaringan, cuma itu dikhususkan untuk Undip TV, dan anak media kreatif. Memang yang seharusnya kayak live streaming, bahkan panitianya aja makanya menggunakan Handy Talkie (HT),” jelas Attallah. 

Ia juga membeberkan bahwa banyak maba yang berkerumun di barisan belakang dan di luar tenda karena permasalahan urinoir yang tidak ada airnya sehingga membuat antrian panjang di area belakang. Attallah dan tim telah menyiapkan delapan urinoir di sekitar luar dan dalam stadion, tetapi terdapat beberapa kendala di luar kontrol para panitia. 

“Padahal kita juga sudah menyiapkan banyak, tapi apa nih hambatannya? Ternyata ada beberapa urinoir airnya nggak ada,” tutur Attallah.

Ia menjelaskan alasan di balik rentetan permasalahan di lapangan. Ia mengakui bahwa cuaca yang panas dan sesak karena posisi kursi yang saling berdempetan membuat para maba mencari alternatif lain untuk duduk, sehingga tidak sedikit dari mereka yang memilih duduk di bagian belakang dan di luar tenda. Para maba pun belum tentu ingin kembali lagi ke kursi masing-masing karena mereka harus menyusuri beberapa kursi dan maba lainnya, hal tersebut dirasa cukup ribet dan membuang waktu, sehingga mereka memilih untuk tetap duduk di belakang saja. 

“Ya sudah dilakukan mitigasi ya, tapi balik lagi mahasiswa baru itu punya pendiriannya, dan suka-suka mereka sih, susahnya di sana. Seperti itu,” cerita Attallah. 

Efisiensi dan Hubungan dengan Birokrasi

Attallah mengaku bahwa pada awal perjalanan ODM sempat terkendala respon yang lama dari birokrasi, namun hal tersebut dirasa lumrah di dalam sebuah organisasi dan kepanitiaan. 

“Lama, sebenarnya lama, tapi mendekati hari H gitu, udah di-kebut-kebutin lah sama mereka. Ya, kita harus mengejar mereka sih, seperti itu,” ucap Attallah

Meski begitu, pihak birokrasi sangat membantu dalam keberjalanan ODM 2025, terlebih yang memang membutuhkan persetujuan dan hubungan dengan stakeholder eksternal.

“Birokrasi itu sangat, apa ya, membantu lah, di peran-peran yang memang seharusnya dikelola oleh mereka gitu loh,” lanjutnya. 

Selain itu, Attallah menjelaskan bahwa ODM 2025 juga tak luput dari dampak efisiensi. Bahkan ia mengaku timnya baru membayarkan Guest Star ketika H-jam penampilan. 

“Mungkin kalau boleh cerita sedikit, kami membayar seorang Guest Star itu, H min jam,” aku Attallah. 

Ia menjelaskan bahwa pihak birokrasi tetaplah meng-cover seluruh kebutuhan konsumsi, kursi, tenda, hingga panggung, sehingga efisiensi ini terdampak pada hal yang mungkin tidak kita sadari. 

“Kesehatan dan keamanan itu kita masukkan ke dalam sponsorship. Karena memang dari birokrasi ada pemotongan lah yang sekiranya ini kayaknya bisa di-support oleh sponsor deh,” tutur Attallah. 

Attallah menegaskan meskipun ODM terdampak efisiensi, tetapi mereka tetap tidak mau kalah dengan dalih seperti itu. 

“Efisiensi itu ada. Aku juga ngomong ke semua fakultas, efisiensi itu ada. Ya, namun dari kami juga nggak mau kalah dengan kata-kata efisiensi. Kalau efisiensi ada, ya kita harus cari perusahaan lebih banyak saja, patokan aku seperti itu,”

Baginya, nilai jual ODM sangatlah besar, sehingga mereka mencari peluang di berbagai sponsor. Alhasil, jumlah sponsor dan nominalnya mampu lebih besar dibandingkan dari tahun sebelumnya.

“Kalau boleh cerita, sponsor dari ODM itu per-anak dipatokkan satu sponsor. Jadi, memang dari kita itu, apa ya, tujuan kerjanya sangat idealis lah kalau buat sponsor ini. Karena kan masalah pendanaan, ya,” jelas Attallah. 

Meski begitu, Attallah tetap menyatakan ketergantungannya pada pihak birokrasi. 

“Tapi, overall, membantu banget sih. Tanpa adanya mereka, kita juga mungkin nggak bisa sejauh itu,” 

Aksi Bebaskan Kawan Kami pada Orasi Ketua BEM

Orasi dari ketua BEM memang menjadi salah satu rangkaian di ODM setiap tahunnya. Kali ini berbeda, Ketua BEM Undip 2025, Aufa Atha Ariq Aoraqi mengajak para Ketua BEM Fakultas lainnya untuk menunjukan aksi protes dengan serempak menggunakan kaos hitam bertuliskan “Bebaskan Kawan Kami!” di hadapan seluruh maba. 

Menurut penjelasan Attallah sendiri, ia dan tim tidak merencanakan hal tersebut dan tidak tahu-menahu terkait apa yang ingin disampaikan oleh para ketua BEM, tetapi mereka sudah menyadari bahwa adanya gerakan seperti itu dari beberapa ketua BEM yang kaosnya terlihat sebelum dibuka. 

Attallah turut mengaku bahwa ia tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut. Ia merasa memang banyak mahasiswa sepakat dengan apa yang diaspirasikan oleh Ariq sendiri. 

“Kan kalau kita berbicara bebaskan kawan kami, ya sebenarnya, kita ya para mahasiswa sepakat soal itu gitu loh, dan memang tidak melenceng dari unsur-unsur yang seharusnya,” jelas Attallah.

Ia dan tim hanya memastikan bahwa apa yang disampaikan para ketua BEM tidaklah memakan waktu lama dan tidak membahayakan ODM itu sendiri. 

“Sekiranya mereka membuat sendiri, ya tidak apa-apa. Memang acara orasi ketua BEM itu milik ketua BEM gitu loh, jadi kami hanya menaungi tempat saja dan waktu. Seperti itu,” lanjutnya. 

Harapan Mereka Untuk Keberlangsungan ODM

Banyak yang memberikan kesan baik pada ODM tahun ini. Beberapa dari mereka juga mengharapkan hal baik untuk keberlangsungan ODM di tahun selanjutnya. 

“Mungkin kayak mic-nya atau beberapa kesalahan-kesalahan kecil sih sebenarnya. Kayak listriknya mati. Jadi tahun depan kalau bisa, bisa lebih baik lah. Walaupun hal-hal kecil banget, cuma harus put attention to detail juga gitu,” tutur Rafa

Adapun Sheilla dan Jeo turut menyampaikan harapannya untuk perubahan waktu pelaksanaan ODM agar menghindari terik panas matahari. 

“Menurut aku sih acaranya mungkin dari sore aja karena tempat itu panas. Jadi sore ke malam,” harap Sheilla.

“Bener, sore ke malam. Mungkin mulai dari jam 2, jadi nanti konsernya enak malam-malam, sore-sore,” lanjut Jeo mendukung. 

Attallah juga turut berharap untuk timnya menjaga semangat hingga tanggung jawab mereka benar-benar tuntas. 

“Kita masih Badan Pengurus Harian (BPH) inti tentunya, kita masih banyak tugas-tugas, dijaga semangatnya, beban moral kita masih ada satu tahun untuk kayak mungkin mengasih ilmu, ngasih sowan dan lain-lain. Ya semoga nggak ada unsur-unsur, apa ya, tangan gaib gitu loh,” 

ODM merupakan langkah awal bagi para mahasiswa baru untuk lebih menyelami kehidupan perkuliahan. Sama halnya dengan panitia yang masih tetap memiliki beban moral dan tanggung jawab hingga ODM di tahun depan. Terima kasih ODM Undip 2025!

 

Reporter: Hanifah Khairunnisa, Cahya Noviyanti 

Penulis: Hanifah Khairunnisa

Editor: Nuzulul Magfiroh, Nurjannah

Scroll to Top