Mundurnya Komisi Ahli BEM FH: Cerita di Balik Surat Resmi

Peristiwa – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum (FH) Universitas Diponegoro (Undip) mengunggah sebuah pengumuman resmi di akun Instagram @bemfhundip. Postingan yang diunggah pada Sabtu (13/9) ini menjelaskan terkait pemberhentian sekaligus pengangkatan Pelaksana Tugas (Plt) Komisi Ahli Bidang Pengabdian. Namun, unggahan tersebut hanya memuat keputusan formal organisasi tanpa menguraikan lebih jauh dinamika internal yang mendasarinya. Dalam surat pengunduran dirinya, Rizky Nathan Saputra atau akrab disapa Nathan, selaku Komisi Ahli Pengabdian menegaskan bahwa langkah tersebut diambil lantaran ia merasa sudah tidak lagi sevisi dengan Ketua BEM FH 2025, Imam Morezki.

Sedangkan, dalam dokumen keputusan resmi yang beredar menyebutkan bahwa yang bersangkutan—tercatat dengan nama Rizky Nathan Saputra—mengajukan surat pengunduran diri pada Minggu (7/9). Surat keputusan itu juga menyebutkan penilaian Inspektorat Penjamin Mutu BEM FH tentang penurunan kinerja sebagai salah satu pertimbangan, dan menetapkan Pradyaksa Purnadewa Jayawardana sebagai Plt Komisi Ahli Pengabdian. Surat keputusan tersebut ditetapkan pada Jumat (12/9).

Alasan yang Mendasari Langkah Mundur

Akhirnya, Awak Manunggal mencoba untuk melakukan wawancara secara langsung kepada pihak yang bersangkutan, Nathan pada Sabtu (27/9).

Dalam wawancara tersebut, Nathan menjelaskan bagaimana sebenarnya komunikasi yang terjadi di internal BEM FH.

“Selama ini komunikasi yang terbangun antara saya dengan pengurus, Badan Pengurus Harian (BPH), maupun Dewan Pimpinan baik-baik saja. Memang komunikasi yang terbangun dalam pelaksanaan tugas saya di BEM FH selalu saya koordinasikan kepada Wakil Ketua BEM FH dan tidak mengkoordinasikan kepada Ketua BEM FH sejak bulan Maret,” ujar Nathan.

Ia juga menambahkan bahwa secara umum komunikasi antar pengurus berjalan dua arah, meskipun tetap terdapat pola komando dalam pelaksanaannya.

Nathan mengonfirmasi bahwa dirinya memang telah memutuskan untuk mengundurkan diri. Menurutnya, keinginan tersebut sudah ada sejak Maret 2025, namun baru direalisasikan pada September 2025. 

“Saya memilih untuk mengundurkan diri di bulan September sebagai bentuk pernyataan sikap bahwa saya tidak ingin berada di bawah kepemimpinan Ketua BEM FH saat ini,” jelasnya.

Untuk memahami lebih jauh, Awak Manunggal juga berbincang dengan dua orang yang selama ini mengenal Nathan, yaitu Nakula dan Sadewa (red, nama samaran). Nakula mengatakan, berdasarkan cerita yang ia dengar dari Nathan, konflik itu bermula dari urusan personal antara Nathan dan Imam yang kemudian merembet pada hubungan keduanya. 

“Dari beberapa masalah yang udah dia ceritain ke aku… menurut aku sih, emang wise-nya sih, better dia keluar aja,” kata Nakula. 

Dalam paparan Nakula juga sempat terjadi cekcok yang memanas. Sadewa menambahkan bahwa, meskipun Nathan jarang membuka masalah ini ke siapa pun, dalam beberapa bulan terakhir Nathan mulai memberi kode dan bercerita soal ketidaknyamanan di kabinet. 

“Dia bilang dia mau keluar, sebenarnya kaget sih… yang aku tahu kan memang Mas Nathan dan Mas Imam itu dekat. Aku gak nyangka alasan keluarnya malah karena Mas Imam,” ujar Sadewa. 

Ia menegaskan poin yang sering disebut Nathan itu atas kelakuan Imam lebih dipandang sebagai “pengkhianatan” antarteman dekat. 

“Yang dititik beratkan oleh Mas Nathan adalah si pengkhianatan dari Mas Imam. Dia gak mau ngaku dan nutup-nutupin, cenderung manipulatif,” ujar Sadewa.

Nakula dan Sadewa pun menyebutkan bahwa upaya mediasi telah dilakukan beberapa kali, dua sampai tiga kali, tetapi tidak menemukan titik temu. Menurut penuturan Sadewa, sebenarnya sudah ada beberapa kali mediasi. 

“Pernah ditengahi Wakil Ketua, pernah juga lewat teman-teman organisasi. Tapi Nathan merasa kecewa, karena justru orang-orang di sekitarnya lebih menjustifikasi Imam. Itu makin bikin dia sakit hati,” ungkapnya.

Selain masalah personal, ada juga persoalan kerja. Menurut Nakula, “Kepemimpinan Imam terlalu banyak intervensi. Bahkan urusan program kerja bidang jadi ikut dicampuri, dan kalau gak nurut, birokrasi dipersulit.”

Sadewa menimpali, “Aku percaya Imam itu pintar, karismatik. Tapi dia terlalu fokus keluar, cari panggung. Internal jadi keteteran, banyak orang hilang atau keluar. Jadi wajar kalau Nathan merasa udah gak satu visi lagi.”

Gaya Kepemimpinan Ketua BEM FH 2025

Selain kisah personal, staf juga menyoroti gaya kepemimpinan Ketua BEM FH.

“Dua kali Imam atau wakilnya dijadwalkan datang ke program kerja bidang, tapi gak hadir. Anak-anak kecewa, apalagi dijanjiin bakal datang,” kata Nakula.

Sadewa menambahkan, “Plt sekarang memang sudah ada, tapi hubungan masih belum terbangun. Jadi bidang masih adaptasi. Internal BEM tahun ini memang agak kacau, gak terpegang karena Imam lebih fokus keluar.”

Soal komunikasi, keduanya sepakat alurnya sudah berjalan, tapi kurang ideal. “Secara struktur komunikasi aman. Tapi kalau soal membersamai staf, itu yang kurang. Anak-anak muda jadi keteteran,” ujar Nakula.

Munculnya Akun ASAB sebagai Bentuk Suara Kekecewaan

Tak hanya di lingkaran staf, gejolak juga muncul di luar. Muncul akun Instagram Aliansi Suara Anak BEM FH (ASAB) yang mengkritik kepemimpinan Imam. Nakula dan Sadewa mengaku tidak tahu siapa adminnya, tapi menganggap suaranya wajar. 

Make sense aja, karena ada kekecewaan yang harus disuarakan. Aku pribadi bahkan sepakat sama isi kritiknya,” ucap Nakula.

Sadewa menambahkan, “Aku sempat merasa bersalah karena gak peka sama kondisi Nathan. Jadi ketika ada akun itu, aku ikut menyuarakan juga. Walaupun gak tau adminnya siapa, tapi visinya sama: menyampaikan suara kekecewaan.”

Hingga kini, hubungan Nathan dan Imam belum membaik. “Musuhnya hanya Imam, bukan BEM, bukan ekstra, bukan teman-teman lain. Tapi sama Imam, sampai sekarang belum ada komunikasi baik lagi,” jelas Sadewa.

Pesan untuk Kedua Belah Pihak

Dalam pungkasan wawancara, keduanya menyampaikan pesan.

“Untuk Imam, lebih wise aja sebagai pemimpin. Jangan sampai masalah personal menghancurkan kepemimpinan. Untuk Nathan, sukses selalu di jalan yang dia pilih,” ujar Nakula

Sadewa turut berpesan, “untuk Imam, berbenahlah, jangan terlalu fokus keluar, ingat tanggung jawab internal. Transparansi juga harus dijaga. Untuk Nathan, semoga ini memang pilihan terbaik, baik untuk dirinya maupun untuk kabinet BEM FH secara keseluruhan.”

Pergantian Komisi Ahli Pengabdian BEM FH Undip 2025 menjadi cerminan bahwa dinamika organisasi mahasiswa tak hanya soal jabatan atau program kerja, tetapi juga menyangkut komunikasi, kepemimpinan, dan hubungan personal.

Awak Manunggal telah mencoba mengonfirmasi tanggapan Imam Morezki, tetapi pihak yang bersangkutan memilih untuk tidak memberikan komentar.

Reporter: Nuzulul Magfiroh, Naftaly Mitchell

Penulis: Nuzulul Magfiroh

Editor: Nurjannah, Naftaly Mitchell

Scroll to Top