
Foto bersama pasangan calon ketua dan wakil ketua ODM 2025 di Student Center, Undip pada Sabtu (26/4) (Sumber: Manunggal)
Peristiwa – Ketua dan Wakil Ketua Orientasi Diponegoro Muda (ODM) Universitas Diponegoro (Undip) 2025 telah ditetapkan pada Selasa (29/4). Berdasarkan postingan akun Instagram resmi @odmundip, Attallah Febrio dan Nasywa Qonita adalah pasangan calon (paslon) terpilih yang kemudian akan melanjutkan inovasi mereka pada ODM Undip 2025.
“Aku sempat alhamdulillah ya Allah, dan itu gak bertahan lama. 30 menit setelah itu ya kita kepikiran untuk ke depan ODM bagaimana cara merealisasikannya,” tutur Attallah ketika menceritakan responsnya terhadap pengumuman Ketua dan Wakil Ketua ODM Undip 2025.
Sebelumnya, Uji Publik Pemilihan Ketua dan Wakil Ketua ODM Undip 2025 berhasil diselenggarakan oleh Divisi Project Management Bidang Kaderisasi dan Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa (KPSDM) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Undip di Student Center bagian bawah pada Sabtu (26/4).
Uji Publik tersebut dilaksanakan sebagai langkah penentuan dan penyeleksian siapakah yang akan menjadi Ketua dan Wakil Ketua ODM Undip 2025. Selain itu, kegiatan ini juga sebagai bentuk transparansi mengenai gagasan yang akan dibawakan oleh para paslon ketua dan wakil ketua.
Hal Menarik dari ODM Undip 2025
Di tahun ini, KPSDM berhasil mendapatkan dua paslon Ketua dan Wakil Ketua ODM 2025. Antara lain yaitu Asra Risqolla dan Abdullah Ikhsan sebagai paslon satu, serta Attallah Febrio dan Nasywa Qonita sebagai paslon dua. Uji publik tahun ini menghadirkan empat panelis yaitu Ketua BEM Undip 2025, Aufa Atha Ariq, Ketua KPSDM BEM Undip 2025, Rozin Abdurrofi, Wakil Ketua ODM Undip 2024, Khoirunnisa Achmadah, dan Koordinator Divisi Acara ODM Undip 2024, Tita.
Menurut Ketua Bidang KPSDM BEM Undip 2025, Rozin Abdurrofi, penyelenggaran Uji Publik kemarin mencetak sejarah baru bagi ODM Undip. Dibandingkan empat tahun sebelumnya, uji publik ODM Undip tahun ini mengalami peningkatan dari jumlah paslon dan partisipan penonton. Biasanya paslon hanya ada satu, tetapi di tahun ini memiliki dua paslon sehingga diadakan sesi debat. Partisipan yang datang pun jauh lebih banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Menurutku terlepas (red, publik) udah banyak yang ilang-ilangan ya, tapi ini juga yang terbanyak dari tahun-tahun sebelumnya. Bahkan ketika tahun kemarin 2024 itu cuman tujuh orang publiknya,” tutur Rozin ketika diwawancarai oleh Awak Manunggal pada Sabtu (26/4).
Wakil ketua ODM Undip 2024, Khairunnisa juga menyoroti peningkatan jumlah paslon yang berbeda dari tahun sebelumnya.
“Jadi seenggaknya kita bisa comparing ketika mereka berkontestasi di satu tempat yang sama itu seperti apa. Dari cara mereka menanggapi permasalahan, problem solving, terus kira-kira bagaimana sih mereka memetakan pembedahan masalah,” jelas Nisa pada Kamis (1/5).
Inovasi yang Dibawa oleh Para Paslon
Berdasarkan pemaparan Uji Publik, para paslon membawa inovasi baru bagi ODM 2025 berdasarkan pengalaman dan riset yang dilakukan selama penyusunan Grand Design Event (GDE). Pada paslon satu, mereka membawakan tema “Melestarikan Kebudayaan Menjunjung Tinggi Kemanusiaan”. Mengacu pada tema yang diusung, mereka merencanakan salah satu program, yaitu Life Charity yang bekerjasama dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di seluruh dunia dalam pendistribusian hasil galang dana tersebut.
“Nah rencana kita adalah kita bekerja sama dengan PPI Dunia nantinya, karena ada teman kita di sana, jadi bisa kita saling membantu. Ketika ingin mengalokasikan dananya, kita benar-benar harus transparan juga, itu dia,” jelas Ikhsan pada Sabtu (26/4).
Selain itu, juga terdapat pembaruan atribut ODM yang semula berbentuk kaos menjadi polo. Dengan mempertimbangkan bahan, desain, dan harga yang kemudian diharapkan mampu menjadi pakaian yang dapat digunakan tidak hanya sekali pada event ODM, tetapi juga berkelanjutan.
Sedangkan paslon dua, mereka mengusung tema “Smart Spending Big Thinking” yang kemudian berfokus pada manajemen finansial yang cerdas dan terencana sehingga tidak bersikap hedonisme, serta berpikir rasional dan jangka panjang dalam menghadapi dunia perkuliahan.
Paslon dua menawarkan beberapa inovasi yang didapatkan berdasarkan evaluasi ODM 2024. Di antaranya adalah paralayang yang terinspirasi dari Korea Advanced Institute of Science & Technology (KAIST) University. Paralayang ini kemudian akan diterbangkan di atas mozaik untuk meningkatkan engagement dan ketertarikan publik.
“Kita berpandang ke depannya, paralayang ini sebenarnya output-nya sangat besar, di mana benefit didapatkan setelah paralayang ini meluncur dan tampil tentu benefit dan engagement yang akan diterima (red, kepada) ODM itu sendiri,” jelas Athallah ketika diwawancarai bersama Nasywa pada Kamis (1/5).
Selain itu, mereka berencana membuat WhatsApp Channel ODM yang akan dimanfaatkan untuk penyebaran informasi antara panitia dengan mahasiswa baru sehingga tidak adanya kesalahan informasi dan komunikasi sebagaimana yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya.
Penilaian Publik dan Panelis Terhadap Paslon
Ketika Attallah dan Nasywa ditanya terkait kepuasan mereka terhadap performance ketika Uji Publik, mereka menjelaskan bahwa kepuasan adalah milik publik yang menonton, bukan mereka. Bagaimanapun, kegiatan Uji Publik adalah kesempatan dalam menyampaikan gagasan dan memperkuat ide yang mereka bawakan.
“Dibilang puas nggak puasnya itu sebenarnya bagaimana penilaian publik terhadap kita, yang dimana kita itu all out dan mengeluarkan semuanya yang kita bisa. Itu balik lagi kepada bagaimana paslon lain menanggapi dan bagaimana publik menilai,” jelas Attallah.
Salah seorang panelis yang juga merupakan Wakil Ketua ODM Undip 2024, Khairunnisa juga menyampaikan hal yang sama, bahwa ia dan Ketua ODM Undip 2024, Aldi Kurniawan tidaklah menaruh ekspektasi apapun terhadap para paslon.
“Ngomongin ekspektasi, dan itu diimplementasikan sebagai panelis ketika aku melihat para paslon ini, agaknya kurang fair, gitu. Karena memang aku dan Aldi pun sangat belajar pada prosesnya. Mereka tetap perlu mempelajari dengan caranya mereka sendiri,” tutur Nisa ketika diwawancarai oleh Awak Manunggal pada Kamis (1/5).
Attallah dan Nasywa juga menyampaikan bahwa publik memiliki hak penuh atas penilaian mereka. Mereka juga mewajarkan apabila publik mencari informasi dan latar belakang para paslon sebelum publik menentukan pilihan mereka.
Hal tersebut berhubungan dengan beberapa kritik yang dilontarkan salah satu penonton yang tidak dapat dimintai keterangan lebih lanjut oleh Awak Manunggal terkait hal ini, karena ketika menghubungi beberapa rekannya belum kunjung mendapatkan balasan. Penonton tersebut mengkritisi perbedaan performance ketika berhadapan dengan tanggung jawab akademik dan organisasi salah satu paslon. Salah seorang penonton menyindir secara gamblang bahwa terdapat keluhan terkait tugas kuliah yang belum diselesaikan oleh salah satu paslon, namun sudah menambah daftar tanggung jawab dengan mendaftarkan diri sebagai seorang Ketua dan Wakil Ketua ODM Undip.
Tak hanya itu, adanya perbandingan personal branding di media sosial milik masing-masing paslon yang dilontarkan oleh Asra kepada Attallah juga mendapatkan perhatian publik. Paslon Asra dan Ikhsan menilai bahwa personal branding di media sosial juga merupakan hal yang dapat menjadi perbandingan dan menentukan kepantasan untuk menjadi ketua dan wakil ketua ODM. Namun, berbeda pendapat dengan paslon Attallah dan Nasywa ketika dimintai keterangan terkait hal ini. Meskipun Attallah menyetujui hal tersebut, tetapi baginya pengalaman dalam turut serta pada kepanitiaan ODM 2024 hingga ia mencalonkan diri untuk melanjutkan kepanitiaan ODM 2025 adalah bentuk upayanya dalam memantaskan diri selain dari latar belakang personal branding di sosial media. Bagi Attallah, mengetahui bagaimana ODM 2024 berjalan dan dapat mempresentasikan di ODM 2025 juga merupakan bekal penting bagi keberjalanan kepanitiaan ODM.
“ODM ini tuh bukan tentang pengalaman (red, organisasi) ataupun apa, tapi bagaimana cara kita tahu kondisi aktualnya yang terjadi dalam pengalaman, karena itu benar-benar berpengaruh dan bagaimana kesiapan kita untuk menjadi pemimpin,” tegas Nasywa menyetujui pernyataan Attallah.
Menimpali kedua hal tersebut, Nisa beranggapan bahwa latar belakang akademik, organisasi, hingga personal branding memang dapat menjadi salah satu penilaian dalam background checking oleh panelis dan publik, tetapi baginya poin utamanya adalah kontestasi ketika Uji Publik itu berlangsung.
“Kita melihat bagaimana mereka merealisasikan inovasi mereka dalam bentuk grand design itu. Dan bagaimana dia bisa merealisasikan grand design itu menjadi arahan kerja. Poinnya itu,” ujar Nisa.
Bagi Nisa, penilaian background checking tidak seharusnya menjadi prioritas pertimbangan terhadap hasil. Uji publik seharusnya menjadi ajang penilaian secara langsung dan berorientasi pada performance dan isi pemaparan.
“Jadi sebenarnya kontestasinya kita pertimbangkan dari kualitas grand design mereka dan bagaimana mereka memanajemen kepanitian mereka,” lanjut Nisa sebagai penegasan.
Menilik hasil penilaian Uji Publik dan debat kedua paslon, terlihat perbedaan porsi penilaian antara panelis sebesar 70 persen dan publik hanya 30 persen. Namun terkait dengan transparansi, penilaian dan proses Uji Publik benar-benar dilaksanakan secara transparan. Dimulai dari pemaparan grand design, tanya jawab panelis, debat, pertanyaan dari penonton, form penilaian yang diberikan kepada para penonton, hingga hasil penilaian yang dapat diakses publik melalui akun Instagram resmi @odmundip. Nisa juga menyatakan bahwa publik memanglah sesuatu yang tidak dapat dikontrol sehingga penilaian 30 persen dari publik adalah jumlah rataan dari form penilaian yang diisi oleh masing-masing penonton yang turut hadir. Selain itu, perbedaan porsi penilaian antara panelis dan peserta pun telah ditetapkan oleh KPSDM BEM Undip, sehingga penilaian tetap dilaksanakan dengan tetap menghargai ketetapan yang telah dibuat.
“Jadi bukan masalah ini sudah mewakilkan publik atau enggak, tapi sebenarnya seberapapun yang datang itu karena hasil rata-rata ya. Jadi memang rata-rata publik memilihnya seperti ini,” tegas Nisa.
Isu Efisiensi Dana Pendidikan dan Pesan untuk Asra dan Ikhsan
Menanggapi isu efisiensi dana pendidikan yang menjadi kekhawatiran akan berpengaruh dalam pendanaan ODM Undip 2025, Attallah dan Nasywa menyatakan bahwa meskipun faktor ini dapat memengaruhi anggaran dari birokrasi, tetapi mereka tetap harus menjalankan ODM sebagaimana mestinya. Berhubungan dengan tema ODM Undip tahun ini yang mengangkat tema ekonomi, mereka akan berusaha dalam memperluas kerjasama dengan berbagai sponsorship.
“Salah satu langkah yang akan kami lakukan itu adalah penguatan kerjasama dengan eksternal, mungkin dengan sponsor dan partnership yang lainnya,” ujar Attallah.
“Mungkin kami juga akan menguatkan di fundraising juga, karena kami kan juga memiliki divisi fundraising ya, dimana nanti disitu akan berfokus lebih ke bagaimana fundraising itu berjalan, seperti itu,” tambah Nasywa.
Menyinggung tentang paslon Asra dan Ikhsan, Attallah menyampaikan bahwa ia tidaklah memiliki hak untuk menyampaikan komentar apapun terhadap keduanya. Namun, ia berharap mereka tetap dapat bekerjasama dan mendukung keberjalanan ODM Undip 2025.
“Aku tidak tidak mengurangkan sedikit rasa hormatku kepada mereka, karena mungkin juga inovasi-inovasi yang akan mereka bawakan itu bisa direalisasikan di tempat lainnya. Harapan aku kita tetap berteman baik dan tetap saling mendukung,” ucap Attallah.
Attallah dan Nasywa pun membuka kesempatan yang bebas kepada siapa saja yang berkenan bergabung menjadi koordinator maupun panitia di ODM Undip 2025, termasuk Asra dan Ikhsan. Namun ia menegaskan bahwa siapapun yang mendaftar tetap akan melalui proses kualifikasi sebagaimana mestinya.
“Jika paslon sebelumnya ingin mendaftarkan sebagai rekan kita, kita open sebesar-besarnya, tergantung dari mereka apakah mereka ingin mencalonkan diri atau tidak. Mau gimana pun tetap kualifikasi karena kita sebagai menjadi ketua dan wakil juga mengikuti kualifikasi,” tegas Attallah dan Nasywa.
Rozin juga turut menyampaikan harapannya tentang apa yang telah disampaikan paslon dapat menjadi bukti implementasi ketika kepanitiaan ODM telah berjalan.
“Karena pada akhirnya apa yang diucapkan (red, mereka) di sini adalah menjadi janji,” tegas Rozin.
ODM merupakan wajah awal Undip kepada para mahasiswa baru. Sudah seharusnya mekanisme dan proses penyeleksian dilakukan secara ketat dan transparan. Semoga apa yang menjadi gagasan Attallah dan Nasywa dapat dibuktikan secara konkrit dan mewakilkan nama Undip dihadapan para mahasiswa baru dan masyarakat.
Reporter: Hanifah Khairunnisa, Dhini Khairunnisa, Raisya Nurul, Mitchell Naftaly, Nuzulul Magfiroh, Nurjannah
Penulis: Hanifah Khairunnisa
Editor: Nuzulul Magfiroh, Nurjannah



