Menyelami Spiritualitas dalam “Senyumanmu”

Formasi terbaru Letto (dari kiri): Kornel (gitar ritme), Patub (gitaris), Noe (vokalis), Dhedot (drummer), Arian (bass). (Sumber: Spotify.com)

 

Musik – Mendengarkan sebuah lagu tentu menjadi salah satu pilihan yang tepat kala kita suntuk atau mengalami pengalaman emosional tertentu, seperti jatuh cinta, patah hati, bersemangat, dan sebagainya. Lagu sendiri terbentuk oleh lirik dan melodi yang kemudian dinyanyikan. Melalui lagu, pengarang memanifestasikan pikiran dan perasaannya. Sebagai pendengar, pernah suatu kali tebersit dalam benak kita—apa makna dari lagu yang sedang kita dengarkan? Nah, dalam perjalanan memaknai sebuah lagu, terkadang kita tidak bisa langsung menemukan maknanya dalam tempo yang singkat karena akan bias nantinya. Oleh karena itu, ketika menginterpretasikan lagu, tercipta “jurang” antara pengarang dengan pendengarnya yang kemudian menciptakan konsep koma—semua lagu akan abadi dalam tafsiran pendengarnya masing-masing.

Apa jadinya jika lagu yang kita kira romantis ternyata mengandung unsur magis di dalamnya? Yap, seperti lagu yang bertajuk “Senyumanmu”, salah satu lagu besutan Letto, sebuah band pop-rock asal Yogyakarta. Grup musik ini terbentuk pada 21 April 2004 dengan salah satu single hits mereka “Ruang Rindu”. Pada formasi awalnya, Letto terdiri dari empat pentolan, yaitu Noe (Sabrang Mowo Danar Panuluh) sebagai vokalis—anak dari seorang tokoh intelektual Muslim terkemuka Indonesia—Cak Nun, Patub (Agus Riyono) sebagai gitaris, Arian (Ari Prastowo) sebagai basis, dan Dhedot (Dedi Riyono) sebagai drumer.

Tak ubah lagu romansa pada umumnya, lagu yang bercokol dalam album Lethologica ini menyuguhkan lirik puitis nan romantis. Apabila didengarkan secara sepintas, lagu berdurasi 4 menit 20 detik ini menggambarkan keadaan seorang pria tengah memuji seorang perempuan yang amat sangat dicintainya. Tertulis dalam penggalan lirik indah matamu, gerai rambutmu: sinar wajahmu, lembut katamu, sepertinya mampu menggubah dunia. Secara tersurat, indah, gerai dan lembut—karakteristik perempuan—menunjukkan betapa besarnya impresi sosok perempuan yang didambakan, hingga pria tersebut sangat mengaguminya. Meski yang mampu menggubah dunia—sejatinya hanya Tuhan—ini wajar terjadi tatkala seseorang tengah berenjana.

Beranjak dari lirik-lirik yang mewah akan diksi indah, kini saya mengajak Anda untuk menganalisis lebih dalam apa makna sesungguhnya lagu ini? Tenang saja, kali ini saya tidak akan menggunakan sepenuhnya teori-teori linguistik—pragmatik, sintaksis, atau semantik—melainkan saya akan menganalisisnya dengan sederhana.

 

Indah matamu

Gerai rambutmu

Menunjukkan itulah keindahan

Yang memberikan

Bentuk senyuman

Sebentuk usapan

Kepada hati

 

Kata-kata seperti “indah”, “gerai”, “senyuman”, dan “usapan” pada verse pertama, cenderung merujuk kepada hal-hal yang dimiliki atau pun dilakukan oleh perempuan—meski laki-laki pun bisa dikatakan demikian, tetapi dalam konteks lagu ini saya rasa tidak—mengacu pada tafsiran saya pada paragraf ketiga. Dalam lagu ini, empat kata tersebut berubah maknanya apabila kita melihat sisi lain, misalnya spiritualitas. Jika anda mencoba memasuki lingkup spiritualitas, apa yang terlintas dalam benak anda ketika mendengar kata “indah”, “senyuman”, dan “usapan”? Pasti timbul banyak jawaban dalam pikiran anda, tetapi saya mengajak untuk mengenal lebih dalam pada satu jawaban, yaitu Tuhan. Bentuk paras yang terlampau indah nan menawan tak lain tak bukan hanya dimiliki oleh Tuhan. Hal ini diperkuat pula dengan kata “senyuman” dan “usapan” yang menunjukkan betapa murah-senyum Tuhan, bahkan ketika kita, umat-Nya, seringkali terlalu angkuh di hadapan-Nya. Tuhan senantiasa memberi senyuman-Nya kepada kita, juga betapa senyuman-Nya menjadi pelipur lara kala kita tengah dilanda kemurungan dalam hidup.

Berlanjut ke verse kedua:

 

Sinar wajahmu

Lembut katamu

Sepertinya mampu

Menggubah dunia

Yang terasa

Begitu hampa

Semuanya sirna

Tanpa cinta

 

Berdasarkan lirik di atas, makna lagu ini perlahan mulai terungkap. Siapa pemilik wajah yang sinarnya seterang rembulan, penutur kata yang paling lembut, dan kuasa siapa yang mampu menggubah dunia—jika bukan Tuhan itu sendiri? Segala sesuatu akan menjadi hampa—mengacu pada lirik di baris enam hingga delapan—mengisyaratkan bahwa kehampaan akan terjadi apabila dalam diri kita tidak tumbuh rasa kecintaan kepada-Nya sebagai manifestasi rasa cinta kita kepada Tuhan, Empunya Semesta Alam.

Sebagai umat manusia yang dipenuhi kesan duniawi, sudah sepatutnya kita merenungkan kembali arti hidup kita di dunia ini. Apakah kita sudah semestinya menjadi “manusia” yang Tuhan inginkan, atau justru malah kita yang mengingkari ketulusan yang telah Tuhan berikan kepada kita? Video klip lagu ini juga turut menegaskan bahwa semua hal yang bersifat duniawi adalah sementara hukumnya. Selama ini, segala hal baik milik kita maupun yang kita irikan dari orang lain, hanyalah sebuah titipan dari Tuhan. Ketidakbersyukuran atas apa yang telah kita miliki menutupi segala keindahan yang telah Tuhan berikan.

Secara keseluruhan, lagu ini tak hanya mengajak kita untuk senantiasa bersyukur atas apa yang kita punya, tetapi juga memberi makna tersirat bahwa untuk mencapai apa yang disebut “abadi” dalam chorus adalah kita mesti mengingat Tuhan dalam setiap perbuatan dan menghindari segala hal yang masih mengedepankan akal atau hati yang kotor. Sebab, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada kita selanjutnya, bahkan satu detik ke depan pun adalah suatu kerahasiaan. Oleh karena itu, selagi masih diberi kesempatan hidup oleh Tuhan, pergunakanlah dengan sebaik-baiknya.

Fun fact, sebenarnya saya bukan penggemar Letto—Plettonik, tetapi fans berat—Baladewa—band kawakan yang sudah hampir 40 tahun melanglang buana dalam antero permusikan Indonesia. Di samping itu, rasa nostalgia akan lagu-lagu lawas serta kesuwungan mendorong terciptanya resensi ini. 

Selamat mendengarkan!

 

Penulis: Benedictus Wegig Andaru Surya

Editor: Nurjannah, Nuzulul Magfiroh

 

Referensi:

Musica Studios (2009, 3 Juni). Letto – Senyumanmu [Official Music Video]. [Video]. Youtube. https://youtu.be/JsSh3XcXo2Y?si=y2NYxAqL72LvZrUm

Cahaya untuk Indonesia. (2021, 18 April). Sabrang: Semua Orang Pasti PERNAH TERSESAT dalam Hidupnya. [Video]. Youtube. https://youtu.be/Z2iUFqekh6s?si=CozYWHvzvcDlL43i

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top