Menjenguk Bilik Kelam Sejarah dan Mendengar Suara yang Terasingkan

Poster Film Eksil (Sumber: Historia dan Pikiran Rakyat)

 

Film – Film Eksil memberikan gambaran mengenai dahsyatnya gelombang kesedihan yang bergaduh di relung hati setiap manusia yang tertuduh oleh bangsa sendiri dan digelantungi stigma.

 

59 tahun setelah peristiwa kelam Gerakan 30 September, belum ada yang berubah dari bentuk rekonsiliasi yang diagung-agungkan. Pernah ada sebuah peristiwa yang menendang warga negaranya agar tak pulang ke tanah air. Bahkan, menghabisi keluarga mereka atas dasar ideologi yang dianut.

 

Tragedi 65 sudah setengah abad yang lalu, tetapi luka tetaplah luka, walau waktu membawanya berkelana dan tak pernah tunduk pada pusaran zaman. Peristiwa gelap gulita tersebut telah banyak merampas hidup ratusan ribu orang sampai harus meninggalkan jejak pahit.

 

Anak-anak muda yang pada awalnya pergi ke luar negeri untuk menuntut ilmu oleh sokongan pemerintah Presiden Soekarno, harus terdampar di tempat mereka menimba ilmu saat Orde Baru mengambil alih tampuk kekuasaan.

 

Belum juga terkuak alasan logis yang sampai saat ini ingin mereka terima: “Mengapa mereka dianggap sebagai kaum kiri, sedangkan mereka hendak memperjuangkan hari depan?” “Apa standar masuk akal hingga mereka layak disebut sebagai ‘musuh negara’?”

 

Suara-suara yang terasingkan itu dikemas dalam film dokumenter yang menyorot runtut mulai dari bagaimana peristiwa 65 merebut hidup mereka, tindak-tanduk Orde Baru yang membatasi pergerakan, sampai masa setelah Orde Baru di mana mereka tetap hidup seperti dikerangkeng dalam sebuah bui dan tidak diperbolehkan pulang. 

 

Bergulat dengan hidup yang terkesan begitu bengis, para eksil merelakan banyak hal, mulai dari keluarga, rumah, kekasih, anak-anak, bahkan ‘duka’. Duka yang dimaksud adalah ketika yang tersayang meninggal, mereka tidak bisa pulang ke Indonesia karena visa yang dicabut. Padahal, air mata sudah mendesak-desak untuk ingin bertemu terakhir kalinya.

 

Seperti sebuah catatan yang beraroma kepedihan, film dokumenter ini mengajak penonton untuk berkunjung ke sebuah lorong gelap. Masa lalu yang tidak sempurna dan masih mencari-cari senter untuk menerangi lorong itu. 

 

Melempar kita pada suatu waktu, ketika pemilik kekuasaan mendoktrin bahwa “Partai Komunis Indonesia (PKI) itu buruk”, “Komunis bukan hal yang baik”, atau bahkan, “Dalang di balik peristiwa 65 adalah PKI.” Namun, film ini justru memberikan sudut pandang baru dan berbeda.

 

Dengan didukung fakta dan data yang netral, film Eksil menyingkapkan bahwa PKI tidak seburuk yang kita bayangkan. Tegap dan kokohnya mereka adalah untuk rakyat dengan mengelukan kepentingan-kepentingan buruh tani. 

 

Seperti yang dicanangkan oleh sutradara film ini, “Apa yang salah mungkin bukan organisasi atau partainya, melainkan segelintir orang yang di dalamnya menyalahgunakan apa yang seharusnya dilakukan.”

 

Seruntut kisah yang tak henti-hentinya keluar dari para eksil menarasikan betapa marahnya mereka. Menceritakan betapa panjangnya perjalanan yang sudah mereka lalui. Saat mengetahui Orde Baru naik, yang ada dalam benak mereka hanyalah rasa ingin melawan. 

 

Stigmatisasi dari para penguasa yang keranjingan jabatan membuat mereka tertahan di negeri orang. Beberapa sempat ingin berganti kewarganegaraan, beberapa lagi berharap bisa diterima oleh negaranya sendiri. Sebetulnya tidak banyak yang diharapkan, selain permintaan maaf dan rasa bersalah dari mereka-mereka yang duduk di jajaran pemerintah.

 

Lola Amaria sebagai sutradara betul-betul menyajikan dokumenter dengan epik seolah semua tutur kata yang keluar mampu menembus layar dan menerjang nurani para penonton. Terenyuh akan cerita-cerita bak di negeri dongeng, padahal itulah pemerintah yang pernah berkuasa di negeri ini. Pemerintah yang menaungi kita saat ini, boleh jadi pemerintah yang sama seperti setengah abad lalu.

 

Film sederhana namun bersuara lantang ini bukan akal-akalan untuk menyajikan bagian paling melankolik dengan cara klise dari sejarah, melainkan tuturan yang tak boleh kita pahami hanya dari satu pihak saja.

 

Terdengarkah puisi milik Chalik Hamid salah seorang eksil yang terangkai indah dan dahsyat, “Kuburan kami ada di mana-mana, kuburan kami berserakan di mana-mana, di berbagai negeri, di berbagai benua.”

 

Masa pembuangan itu terdengar dari seruan puisi milik Hamid. Menjadi sebuah indikasi bahwa mereka tidak pernah (lagi) diterima. Bahkan, diri mereka sendiri tak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi hingga mereka dianggap berafiliasi dengan komunis dan seolah melawan Orde Baru. Semua terjadi begitu saja.

 

Eksil bukan film dokumenter biasa, seluruh cerita dan kesaksian kolektif dari sepuluh eksil dalam film dokumenter tersebut layak untuk diketahui siapapun, sebagai catatan untuk memperkaya perspektif soal sejarah.

 

Cerita dan kesaksian mereka bukanlah suatu gerutu atau keluhan, melainkan narasi hebat yang dikemas untuk kita tahu tentang bab-bab kelam yang membentuk bangsa Indonesia hari ini. Kita tidak boleh lupa, walau mereka (tetap) belum bisa pulang ke pangkuan Ibu pertiwi.

 

Penulis: Naftaly Mitchell

Editor: Ayu Nisa’Usholihah

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top