Menilik Kelangsungan Konsorsium Merdeka Belajar Undip-Unpad-Unhas

Konsorsium Merdeka Belajar UNDIP-UNPAD-UNHAS (Sumber : catatandiponegoro.blogspot.com)

Joglo Pos, Edisi V Tahun 2020— Sebagai upaya dalam mewujudkan program Kampus Merdeka, Universitas Diponegoro bersama Universitas Padjajaran dan Universitas Hasanuddin telah menghadirkan seat-in Konsorsium Merdeka Belajar (KMB). Saat ini program yang dimulai pada Senin (09/11) lalu ini masih terus berjalan dan akan berakhir pada 31 Desember mendatang.

Dalam program yang kemudian dikenal dengan nama KMB ini, ketiga universitas tersebut dapat saling bertukar pelajar untuk mengambil mata kuliah serta jurusan yang berbeda di luar dari KRS (Kartu Rencana Studi) mahasiswa yang bersangkutan. Seluruh mahasiswa aktif baik dari Undip maupun Unpad dan Unhas dapat mengikuti progam KMB ini tanpa syarat khusus apapun.

Merdeka belajar perlu diadakan, selain merupakan instruksi dari Kemendikbud merupakan ajang kepada mahasiswa dalam mengeksplorasi diri karena di dalamnya dapat langsung terjun mengetahui situasi dan kondisi di luar program studi. Dengan begitu, juga didapatkan pengalaman yang memperluas cara pandang kita dalam menindak sesuatu

“Program ini adalah kebijakan Kemendikbud untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa dalam mengembangkan diri dengan mengetahui situasi dan kondisi di luar program studi, di samping memberikan tambahan pengalaman akademik maupun non akademik sehingga akan memperluas sudut pandang dalam pengambilan keputusan,” ujar Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Undip, Prof. Budi Setiyono, Rabu (25/11).

Ketentuan Program Merdeka Belajar

Program KMB di tiap universitas memiliki ketentuannya sendiri dalam menentukan mata kuliah yang bisa dipilih. Wewenang tersebut diserahkan pada dekan melalui prodi penyelenggara.

“Tidak ada kriteria tertentu (untuk mata kuliah yang ditawarkan, red), kebijakan diserahkan kepada Dekan c.q Kaprodi,” ujar Prof. Budi.

Prof. Budi juga menyarankan agar menghubungi dosen wali lebih dulu saat hendak memilih mata kuliah KMB. Hal ini karena di Undip sendiri memiliki ketentuan SKS mata kuliah di universitas lain dapat menjadi perhitungan dalam Kartu Hasil Studi (KHS).

“SKS mata kuliah yang diambil di universitas lain bisa diakui dan masuk dalam KHS, sehingga disarankan untuk berkonsultasi dulu dengan dosen wali sebelum mengambil mata kuliah di universitas lain,” jelasnya.

Mekanisme Belajar Kampus Merdeka

Mata kuliah dapat dipilih melalui laman kmb.undip.ac.id, kemudian informasinya dapat terhubung melalui akun email mahasiswa.  Setelah mendapat email persetujuan, mahasiswa harus mendaftar kembali di laman universitas yang dituju. Untuk saat ini, mahasiswa hanya dapat mengikuti perkuliahan yang dilaksanakan secara daring.

Saat akhir semester tiba, mahasiswa yang mengikuti KMB akan mendapatkan surat keterangan selesai mengikuti kegiatan perkulihan mata kuliah program KMB dan juga hasil nilainya. Nilai tersebut kemudian diberikan ke program studi asal untuk dikonversi dengan nilai yang ada di KHS.

Prof Budi juga menjelaksan bahwa mahasiswa yang tidak kedapatan kursi pada program ini tak perlu khawatir, karena rencananya program KMB akan terus dihadirkan pada setiap semester.

“Merdeka Belajar direncanakan akan diselenggarakan setiap semester. Untuk Merdeka Belajar yang melibatkan dengan mahasiswa Universitas lain, harus dengan perjanjian kerjasama,” jelasnya

Pengalaman dari program KMB dapat menjadi pembelajaran untuk mahasiswa yang mengikutinya. Selain itu, KMB merupakan cara yang menyenangkan dalam mengenal sistem belajar di tempat lain sekaligus menambah relasi.

“Kesannya sangat menyenangkan dan asyik dapat pengalaman berkuliah di kampus lain, kita bisa mengetahui sistem perkuliahannya dan bisa menambah relasi juga,” ungkap Reisvhega Iriani Kaba, peserta program KMB dari Ilmu Gizi Unhas.

Kendala Mahasiswa dan Dosen

Dalam pelaksanaanya, Program KMB 3 universitas ini memiliki beberapa kendala. Seperti yang diungkap peserta KMB di Undip, Andi Arizona bahwa jadwal kuliah program studi asal bertabrakan dengan jadwal program studi tujuan.

“ada kendala juga sih, kek pelaksanaannya ndak seefisien yang dibayangkan karena jadwal kuliah aku ada yang bertabrakan. Seandainya program ini offline pasti lebih seru lagi,” ungkap Andi Arizona peserta program KMB dari Agroekoteknologi Unhas.

Sistem SSO Undip yang berbeda dari universitas asal peserta juga menjadi kebingungan tersendiri pada awalnya. Peserta KMB masih ada yang kesulitan untuk terhubung dengan perkuliahan.

“Awalnya sebenarnya karena tidak ada grup khusus yang mengarahkan. Kami jadi bingung mau lakukan apa setelah daftar dan lain-lain, jadi kami mahasiswa coba-coba sendiri deh,” sambung Reisvhega.

Dalam proses kelangsungannya, materi di dalam kelas yang disampaikan oleh dosen dirasakan sangat kurang memadai untuk peserta KMB. Hal ini mengingat program KMB baru berjalan pada saat-saat menjelang Ujian Akhir Semester (UAS).

“Sebenarnya konsep ini bagus, namun mungkin karena masih awal jadi banyak yang harus dibenahi, seperti misalnya waktu seat-in. Kehadiran mahasiswa di minggu-minggu menjelang UAS menyebabkan tidak banyak materi yang mereka dapat. Seperti kelas saya, teori (sudah, red) saya berikan di minggu-minggu awal dan pertemuan-pertemuan ini sudah masuk pada presentasi dan diskusi,” ujar Laura Andri R.M. salah satu dosen Sastra Indonesia Undip.

Dengan demikian untuk memaksimalkan ilmu yang didapat dalam program Merdeka Belajar akan lebih baik agar program ini dilaksanakan tiap awal semester.

“Mungkin akan lebih efektif jika seat-in dimulai tiap awal semester sehingga mahasiswa bisa mengikuti perkuliahan dengan lebih maksimal,” tambah dosen Sasindo tersebut.

Reporter: Nabila Lathifah, Fidya Azzahro

Penulis: Nabila Lathifah

Editor: Winda N, Alfiansyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *