
Roadshow Pemira Undip 2024 di FT pada Minggu, (8/12) di Lapangan Tembak (Sumber: Manunggal)
Peristiwa – Roadshow Pemilihan Umum Raya (Pemira) Universitas Diponegoro (Undip) 2024 di Fakultas Teknik (FT) berlangsung pada Minggu, (8/12). Acara tersebut dilaksanakan di Lapangan Tembak Undip mulai pukul 13.00 hingga 21.45 WIB, menjadi ajang interaksi langsung antara para mahasiswa dengan calon Ketua dan Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Undip 2025.
Ketua BEM FT 2024, Muhammad Arsyad Dwi Rahardianto berbagi pandangan mengenai berbagai dinamika yang terjadi di Pemira Undip 2024. Dalam wawancara pada Rabu (11/12), Arsyad mengungkapkan beberapa masalah yang muncul, termasuk isu netralitas Komisi Penyelenggara Pemilihan Raya (KPPR), kaderisasi, janji pada uji kelayakan dan debat akbar, serta harapan untuk pemira yang lebih baik.
Arsyad menceritakan pengalamannya sebagai panelis dalam roadshow Pemira yang digelar di FT. Roadshow ini dijadwalkan mulai pukul 1 siang, tetapi pada pagi harinya, pihak KPPR baru menanyakan soal keberadaan panelis. Biasanya, FT tidak memiliki panelis karena sesi tanya jawab dilakukan terbuka untuk seluruh warga fakultas.
“Panelis itu seharusnya ada dua orang, saya dan Ketua Senat FT, tapi mereka baru menghubungi kami sekitar setengah 8 pagi, menjelang acara dimulai. Pada akhirnya, kami tetap menolak keberadaan panelis karena sesi tanya jawab lebih baik dilakukan secara terbuka untuk seluruh mahasiswa,” jelas Arsyad.
Terkait dengan lokasi roadshow, Arsyad menjelaskan bahwa peminjaman tempat di FT cukup sulit, apalagi selama masa Ujian Akhir Semester (UAS). Pada H-4 sebelum acara, pihak KPPR menghubungi BEM FT mengenai peminjaman tempat, tetapi karena UAS sedang berlangsung, tempat umum sulit dipakai. Akhirnya, mereka merekomendasikan penggunaan lapangan tembak, yang sering digunakan oleh teman-teman teknik untuk latihan supporteran. Salah satu poin yang menjadi perhatian Arsyad dan mahasiswa FT adalah tentang netralitas KPPR. Ia mengungkapkan kecurigaannya terhadap ketua KPPR Alifvito Nur Fadhlullah yang memiliki afiliasi dengan organisasi ekstra. Meski Ketua KPPR menyatakan tidak terafiliasi dengan organisasi ekstra, “Saya tidak berorganisasi internal dan juga eksternal.”
Tetapi Arsyad mendapati bukti yang membuktikan sebaliknya. Ini menimbulkan kekhawatiran bahwa ketidaknetralan KPPR bisa memengaruhi jalannya Pemira.
“Kenapa kita menyoroti netralitas KPPR? Karena ada kemungkinan jadwal roadshow yang mundur dan perubahan mendadak bisa dipengaruhi oleh afiliasi yang ada. Kami khawatir ini bisa memengaruhi jalannya Pemira,” jelasnya.
Alifvito pun mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada mahasiswa FT yang hadir dalam roadshow tersebut terkait organisasi eksternal yang ia ikuti. Dia mengaku berbohong agar tidak dianggap berpihak kepada salah satu pasangan calon (paslon) yang juga berasal dari organisasi yang sama.
“Saya meminta maaf karena telah berbohong, di sini saya mengaku bergabung dengan organisasi eksternal, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Namun, saya menjamin kenetralan saya sebagai panitia tanpa ada keberpihakan ke salah satu paslon,” ungkap Alifvito.
Selain itu, ada kejadian yang memicu kecurigaan, yaitu ketika roadshow yang sudah dijadwalkan mundur dan tiba-tiba ada acara bincang Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di jogging track pada waktu yang bersamaan. Meski KPPR memberikan alasan bahwa penundaan tersebut karena Badan Pengawas Pemilihan Raya (BPPR) yang belum terbentuk, Arsyad merasa ada yang tidak beres karena roadshow tetap dilanjutkan meski masalah tersebut belum tuntas.
Arsyad juga menyoroti masalah kaderisasi di FT, terutama mengenai implementasi pilar baru dalam organisasi mahasiswa yang diatur dalam buku biru. Pada tahun ini, pilar literasi dan bahasa menjadi fokus utama, tetapi ia mengaku masih belum ada penurunan program yang jelas untuk FT.
“Kami dari FT ingin tahu bagaimana penerapan pilar ini di tingkat fakultas. Tahun lalu, kaderisasi di FT cukup bermasalah dan perlu dibenahi. Kami berharap buku biru yang sudah disahkan bisa memberikan panduan yang jelas bagi semua fakultas,” katanya.
Mengenai kaderisasi riset, Arsyad juga mengungkapkan ketidakpuasan terhadap jawaban yang diberikan oleh paslon. Menurutnya, meski paslon menyebut akan bekerja sama dengan UKM Debat untuk pilar literasi dan bahasa, mereka belum memiliki kesepakatan konkret mengenai hal ini.
Dalam roadshow tersebut, Alifvito juga menyinggung soal janji jika peserta yang hadir dalam Debat Akbar pada Sabtu, (14/12) harus berjumlah 250 orang agar bisa berjalan. Namun, kenyataannya hal ini berbanding terbalik dengan realitas yang ada di lapangan. Pada hari-H debat akbar, peserta forum yang hadir hanya berjumlah sekitar 100 orang. Terakhir, Arsyad berharap agar Pemira tahun ini dapat berjalan dengan lebih baik. Ia menginginkan agar teman-teman KPPR tidak mengulang kesalahan yang sama dan agar paslon yang maju memiliki niat baik untuk kepentingan bersama, bukan untuk golongan tertentu.
“Siapa pun yang maju, asalkan niatnya baik untuk Undip, pasti akan mendapatkan hasil yang baik pula,” tutupnya.
Arsyad sebagai Kabem FT 2024 sangat peduli terhadap jalannya Pemira yang adil dan transparan. Isu-isu seperti netralitas KPPR, penundaan jadwal roadshow, serta kaderisasi di FT menjadi beberapa perhatian penting yang perlu diperhatikan oleh seluruh pihak yang terlibat. Arsyad berharap agar Pemira dapat menjadi pesta demokrasi yang benar-benar mengutamakan kepentingan seluruh mahasiswa Undip tanpa ada unsur kepentingan pribadi atau golongan.
Reporter: Nuzulul Magfiroh, Hildha Muhammad Tahir, M. Irham Maolana
Penulis: Nuzulul Magfiroh
Editor: Hesti Dwi Arini



