
Warta Utama – Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro (Undip) menggelar acara Inagurasi Swaragama Budaya (Swadaya) pada Jumat (22/8) di Gedung Serbaguna (GSG), FIB Undip. Kegiatan ini merupakan bagian dari serangkaian acara pengenalan lingkungan kampus, yaitu PKKMB dan Pendikar yang dihadiri oleh 1.209 mahasiswa baru (maba) dari berbagai program studi (prodi).
Aulya Tamara Tazq, Ketua Swadaya 2025 dari Prodi Sastra Inggris, mengatakan tema yang diangkat untuk Swadaya tahun ini adalah pencarian jati diri para maba melalui eksplor dunia perkuliahan. Dia juga mendeskripsikan Swadaya sebagai kunci para maba dalam mencari lebih dalam tentang perkuliahan yang mereka jalankan.
“Temanya sendiri aku ambil Jumanji gitu dengan tagline Explore The Culture Unlock The Future. Aku ngebayanginnya, tuh, si mahasiswanya ini menjadi player atau hunter yang punya case atau misi sendiri dengan berbagai macam cara,” jelas Aulya saat diwawancarai oleh Awak Manunggal pada Selasa (20/8).
Acara Swadaya dimulai sejak pukul 10.10 Waktu Indonesia Barat (WIB) setelah pelaksanaan Pendidikan Karakter (Pendikar) hari terakhir. Sebagai agenda penyambutan maba, Swadaya menghadirkan kegiatan menarik dan interaktif. Acara ini dimulai dengan sambutan dari Ketua Swadaya 2025. Selanjutnya, terdapat orasi dari Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FIB, Ketua Himpunan dari masing-masing prodi, dan Ketua Senat FIB yang membangkitkan semangat para maba di GSG siang itu.
Selepas istirahat selesai, acara dilanjut dengan persiapan Inagurasi dan kumpul maba. Dengan ini, Inagurasi siap dimulai. Rangkaian acara diawali dengan fashion show yang menampilkan perwakilan maba dari tiap prodi. Mereka bergaya dengan kostum meriah yang dengan mudah mengundang atensi audiens.
Selanjutnya terdapat acara pentas seni yang menampilkan kolaborasi antar dua prodi yang telah ditetapkan sebelumnya. Terdapat penampilan menyanyi, menari, serta drama yang membuat suasana di GSG FIB Undip siang itu penuh dengan sorak sorai para mahasiswa baru dan panitia pelaksana Swadaya.
Swadaya juga turut menampilkan maskot ikonik mereka, yaitu Kaswara. Sosok burung yang perannya membangkitkan semangat para mahasiswa berhasil mengundang atensi audiens. Berjalan ke atas panggung, Kaswara tampil dengan elok.
Akhirnya, telah tiba saatnya sesi acara yang paling ditunggu yaitu chant battle. Chant battle merupakan kompetisi bagi setiap prodi FIB Undip menampilkan arak-arakan yang membangkitkan kemeriahan acara. Para mahasiswa baru menyanyikan lirik chant dari prodi masing-masing dengan penuh teriakan kebahagiaan dan kemudian ditutup oleh penampilan band di akhir acara.
Sesi chant battle merupakan momen yang paling memorial bagi para maba karena mengikat tali persahabatan dengan kawan baru melalui interaksi antarmahasiswa satu prodi yang intens.
Dua maba FIB dari Prodi Sejarah, yaitu Nabila Anindya Putri Huwaida dan Kalyatri Khadira Pertiwi menjelaskan bahwa chant battle merupakan salah satu rangkaian yang paling menarik selama keberlangsungan Swadaya.
“Kita mungkin paling seru chant battle. Itu seru banget, sih. Ya, walau gak menang, tapi tetep seru,” ujar Anin saat diwawancarai oleh Awak Manunggal pada Jumat (22/8).
Mereka turut menjelaskan bahwa chant battle antarprodi meningkatkan rasa keakraban antara sesama mahasiswa yang berada di jurusan yang sama. Kalyatri dan Anin menyatakan persiapan mereka singkat, tetapi hasilnya jauh lebih baik daripada yang mereka bayangkan.
Hal ini juga terjadi saat acara kolaborasi antar prodi. Persiapan yang minim waktu, tetapi hasilnya berhasil menarik perhatian. Walaupun pada saat keberjalanan koordinasi sempat mengalami kendala miskomunikasi, tetapi hasil penampilannya dapat buat tersenyum bangga.
Sosok Kaswara Sebagai Maskot Swadaya
Dilansir dari akun Instagram @swaragamabudaya, Kaswara merupakan sosok Kakaktua Swaragama yang dari bahasa Sansekerta berarti “raja burung” yang memiliki arti terbang tinggi dengan gagah. Eksistensi Kaswara mewakilkan Diponegoro Muda yang sedang mengepakkan sayapnya di langit kebudayaan.
Kaswara mengenakan sumping telinga yang berhiaskan enam berlian. Keenam berlian ini mewakili enam prodi di FIB. Perbedaan warna ini tidak melunturkan keberagaman warga budaya dalam menyinari satu sama lain. Bersama, mereka menggemakan budaya di FIB, tempat mereka menempa dan menorehkan ekspresi.
Kepala juga tidak luput dari hiasan berupa mahkota bernama Jamang. Bukan sekadar mahkota, Jamang dikenakan oleh para tokoh utama yang mengemban peran penting dan penuh makna pada budaya. Mahkota simbolik ini membawa makna bila kita melahirkan sebuah suara, maka haruslah disandingkan dengan kesadaran serta tanggung jawab.
Apa Kata Mereka Tentang Swadaya?
Perasaan antusias mengikuti Swadaya membara dalam benak para maba. Rasa penasaran untuk Swadaya mendominasi ekspektasi mereka. “Ekspektasi kita kayak mungkin kita bakal seru-seru bareng-bareng gitu, lho. Kita sama sekali gak ada materi lagi. Cuma kayak main-main, tapi ternyata ada materinya sedikit,” tukas Anin saat diwawancari oleh Awak Manunggal pada (22/8).
Swadaya juga berperan dalam beradaptasi di lingkungan kampus. Dengan adanya Swadaya, mahasiswa baru diperlihatkan bahwa kuliah tidak hanya semata-mata duduk di kelas dan mendengarkan materi. Acara ini juga memberikan pandangan lain mengenai pentingnya interaksi dan kerja sama.
“Swadaya ini juga ngajarin kita kerja sama yang bagus, kepemimpinan, terus diskusi dengan kelompok lain itu gimana. Jadi kuliah banyak kerja kelompok, ya, presentasi atau lainnya jadi benar-benar membantu,” tutur Kalyatri.
Anin dan Kalyatri juga menambahkan bahwa panitia juga berperan aktif dalam mendukung keberhasilan acara dan menjaga antusiasme mahasiswa. Informasi yang disampaikan jelas sehingga meminimalisir kesalahpahaman maba mengenai Swadaya.
Swadaya membangkitkan kesiapan mahasiswa baru dalam berkuliah. Mereka disuguhi cara pandang baru dalam menjalankan perkuliahan. Perkuliahan bukan sekadar nilai semata, tetapi juga tentang nilai kepemimpinan, kerja sama, cara berdiskusi, dan masih banyak lagi. Dengan ini, Swadaya membantu mahasiswa dalam menempuh langkah awal mereka dalam mencapai kesuksesan di bangku perkuliahan.
Reporter: Adelia Nurlatifa, Dhini Khairunnisa, Kemi Annisa
Penulis: Kemi Annisa
Editor: Nurjannah, Nuzulul Magfiroh