Mencari ‘Rumah’ dalam Sosok Tangguh Kakak pada Lagu “Perhatikan, Rani”!

Formasi pertama Sheila On 7 (dari kiri): Anton (drum), Eross (gitar melodi), Duta (vokalis), Adam (bass), Sakti (gitar ritem). (Sumber: JEO Kompas.com

Musik – Beberapa dekade sebelum Nina dirayakan, lahir sebuah lagu dari Sheila On 7, yang berjudul “Perhatikan, Rani!”. Band asal Yogyakarta tersebut merilis lagu ini di album Sheila On 7 pada tahun 1999. Album tersebut dianggap oleh Sheila Gank sebagai suara generasi. Didominasi oleh tema percintaan yang umumnya dialami oleh anak muda, tetapi uniknya dalam album itu, hadir sebuah “ode sunyi” yang diselipkan untuk sosok kakak yang tengah merantau. Lagu ini tidak hanya berdiri sebagai musik pop, tetapi juga membingkai kegelisahan tentang ketidakpastian masa depan yang sering dialami oleh anak muda secara praktis.

Melalui petikan gitar Eross Candra yang terinspirasi dari sosok kakak sepupunya, Octriasarie Maharani, lagu ini menyuarakan narasi yang sering kali terabaikan dalam diskursus publik. “Perhatikan, Rani!” hadir sebagai representasi bagi para kakak yang kerap dituntut tampil tangguh di permukaan, namun menyimpan kerapuhan mendalam di balik layar, terutama bagi mereka yang terjebak dalam fenomena mencukupi kebutuhan diri sendiri, adik, dan orang tua, alias sandwich generation.

Diawali dengan ketukan drum khas Anton yang kemudian disambut dengan riff gitar Eros serta vokal latar Sakti, membuat nyawa lagu ini semakin utuh. Betotan bas dari Adam juga semakin melengkapi keutuhan ruh lagu ini. Dibalut dengan penulisan lirik yang begitu relate dengan kerasnya kehidupan perantauan, membuat lagu ini menjadi tembang yang selama ini dicari-cari untuk mewakili perjalanan hidup sosok teladan bagi adiknya tersebut.

Verse 1

Beranjak dewasa kakakku Rani tercinta
Sudah saatnya belajar berpijar
Tinggalkan Jakarta demi masa depan cipta
Sudah waktunya kau mulai terjaga
Wo-wo-ho-oh-ho-oh
Oh-ho-ho-ho-oh

 

Melalui verse ini, Sheila ingin menceritakan bahwa sosok “Rani” yang telah melewati masa kecilnya, digambarkan dengan kata pijar dan terjaga, sudah saatnya ia mulai berpijar—belajar dewasa dan mandiri dengan meninggalkan Jakarta. Di mana dalam lanskap Indonesia tahun 90-an bahkan hingga saat ini, Jakarta adalah episentrum dari hampir segala aspek kehidupan. Singkatnya, demi menggapai cita-cita, membuat “Rani” berlayar di kota lain, meski harus bertaruh moral dan jarak dengan keluarganya.

 

Verse 2

Beranjak melentik kakakku Rani yang cantik
Jadikan masa depanmu menarik, wo-ho-ho
Ingat s’lalu pesan kedua orang tuamu
Jalani dengan hatimu yang tulus

Verse ini menegaskan bahwa, parental attachment itu menjadi pondasi yang sangat penting. Disebutkan dalam bait jika Ingat s’lalu pesan kedua orang tuamu, Jalani dengan hatimu yang tulus, menegaskan betapa pentingnya peran orang tua untuk menciptakan lingkungan yang aman secara emosional maupun sosial bagi anak. Karena di kehidupan perantauan, nasihat orang tua adalah kompas moral yang utama.

Dalam verse 2 ini, Sheila mengajak pendengar untuk mengerti bahwa sebenarnya yang dibutuhkan oleh seorang kakak adalah kepastian bahwa dia tidak sedang berjalan sendirian. Perjalanan meniti masa depan rasanya terdengar meyakinkan di awal, namun perlahan akan diuji dengan realitas yang lebih kompleks. Oleh karena itu, pada verse ini juga, Sheila seakan ingin merangkul kakak-kakak yang sedang struggle dengan kehidupannya melalui atensi, meski sekecil berbalas pesan saja. Itu bukti bahwa ia masih diperhatikan,

Chorus

 

Dan jangan takut, jangan layu
Pada semua cobaan yang menerpamu
Jangan layu
Kami s’lalu bersamamu
Dalam derap, dalam lelap mimpi indah
Bersamamu

Pada bagian chorus ini, hadir sebuah tempo yang lebih tenang seakan mengisyaratkan sambutan hangat yang membentuk ruang aman bagi siapa pun yang mendengarnya. Apabila di verse sebelumnya, disebutkan bahwa Rani merantau meninggalkan Jakarta demi mengukir masa depan yang didambakannya.  Chorus ini menyentak kesadaran, bahwa merantau tidak seindah yang terkira. Mungkin bayangan pertama itu, wah bisa bebas, pulang bisa semaunya, tidur bisa kapan pun. Namun, dibalik itu ada lelah yang harus dibayarkan, tidak cuma lelah fisik tetapi juga lelah mental. Kalau akhirnya jatuh sakit, yang mengurus juga diri sendiri. Dominasi kesendirian dan terkikisnya suasana kebersamaan itulah yang terjadi di perantauan.

Oleh sebab itu, dapat ditarik benang merahnya bahwa setiap kakak yang merantau di luar sana, membutuhkan tempat pulang yaitu “rumah”. Rumah yang dimaksud di sini bukan semata dalam bentuk konkret, melainkan sebuah ruang atau tempat di mana sang kakak bisa seutuhnya kembali menjadi dirinya sendiri. Menanggalkan jubah yang memberatkannya, serta melepas topeng yang ia kenakan selama ini. Karena tak jarang pula, setelah harinya yang panjang, kakak membutuhkan tempat untuk kembali bersandar dan tempat berteduh di saat pikirannya gaduh. Di saat rencana-rencana yang ia inginkan tidak semulus harapannya, seporsi mie ayam tak mampu mengobati lukanya, hingga belahan jiwa tak mengerti perasaannya, yang ia miliki hanyalah “rumah”. Rumah yang mau menerimanya kembali apa adanya, bahkan di saat semesta sedang tidak berpihak kepadanya.

Realita kehidupan Rani yang diangkat dalam lagu ini ingin menegaskan bahwa di balik pribadi kakak yang mampu berdiri sendiri di tengah ketidakpastian, perlu hadir sebuah “rumah” yang menghadirkan ketenangan.

 

Verse

Padamkan sekejap warna-warni duniamu
Saat kau mulai kehilangan arah
Nyalakan sekejap warna-warni duniamu
Saat berjalanmu kembali tegap

Verse ini menjadi menarik untuk dibahas karena mulai menggunakan analogi dengan diksi “warna-warni”. Sheila melalui verse ini mengimbau bahwa sebagai insan yang hidup di perantauan, entah dengan modal atau status apa pun itu, juga adalah manusia pada umumnya. Kita pasti punya limit. Batas atau limit yang dimaksud di sini ialah tentang keterbatasan kemampuan manusia melakukan aktivitas fisik. “Warna-warni” dalam verse ini dibingkai dengan apik oleh Duta dan kawan-kawan dengan pasangan kata “padamkan” dan “nyalakan”. Kedua kata tersebut apabila dikaitkan dengan konteks “warna-warni”, menyasar pada daya tahan, atau limit itu tadi. Di tengah konstruksi sosial, bahwa figur kakak dianggap sebagai manusia yang tahan banting, verse ini menjadi penawar yang begitu manjur.

Ada kalanya, tubuh perlu jeda tatkala kehilangan arah tujuan. Agar tidak semakin terperosok dalam jurang kebingungan. Dan sesungguhnya, pada fase transisi dari posisi “padam” menuju “nyala”, terdapat hal unik tetapi penting untuk dilakukan. Kita semakin mengenali diri kita sendiri dan semakin jujur bahwa kita tidak bisa selalu tampil dalam keadaan utuh. Maka ketika sudah masuk fase “nyala” kembali, itu berarti tanda sudah tertanggalkannya ego dan luka-luka yang sempat terukir di dalam jiwa.

 

Bridge

Mungkin semua ini
‘Kan cepat berakhir
S’moga semua ini
Adalah persinggahan sementara mimpimu

Bagian ini menjadi momen paling emosional dalam lagu ini. Kombinasi antara strumming gitar dan fill in drum yang begitu padu dalam titian menuju reff ini, memberi nuansa yang menggugah semangat. Melalui bridge ini, Sheila ingin mengajak para kakak di luar sana untuk selalu membaca langkahnya dengan optimis di tengah tekanan inflasi ekonomi yang seringkali tidak stabil. Apalagi ketika merantau, meski terlihat mandiri, keputusan sering kali lahir dari persimpangan antara pilihan pribadi dan tuntutan keadaan. Oleh karena itu, menjadi dewasa adalah hal yang sangat dibutuhkan. Fase pendewasaan itu ibarat membangun sebuah rumah. Pondasinya diletakkan oleh keluarga, dindingnya dibangun oleh pengalaman, dan atapnya dipasang dengan keberanian untuk menerima diri apa adanya.

Pada akhirnya, “Perhatikan, Rani!” terdengar seperti suara lirih yang nyaris tenggelam di tengah kerasnya tuntutan hidup. Di balik sosok kakak yang tampak tegap melangkah, ada ruang-ruang sunyi yang tak selalu sempat ia ceritakan. Lagu ini tidak mengumandangkan heroisme perjuangan, ia justru mengingatkan bahwa setiap orang yang berangkat membawa mimpi juga memikul letih yang tak kasatmata. Barangkali, yang paling mereka perlukan bukan petuah panjang atau jalan keluar yang rumit, melainkan kepastian bahwa ketika dunia terasa tak berpihak, masih ada tempat untuk pulang.

Sebab jika suatu hari ia kembali dengan langkah yang tak lagi setegap biasanya, pertanyaannya bukan seberapa jauh ia telah gagal, melainkan apakah kita siap menerimanya tanpa banyak tanya dan tanpa syarat. Dan jika kelak kita berada di posisinya, adakah ruang yang benar-benar dapat disebutnya sebagai rumah?

Salam Harmoni.

Penulis: Benedictus Wegig Andaru Surya

Editor: Salsa Puspita

 

Referensi:

Album Sheila On 7: Perjalanan Musik dan Album Legendaris. (2025). Diakses dari Album Sheila On 7: Perjalanan Musik dan Album Legendaris pada 10 Februari 2025.

Scroll to Top