Warta Utama — Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Vokasi (SV) Universitas Diponegoro (Undip) melalui Bidang Sosial Politik (Sospol) menggelar acara bioskop keliling (bioling) bertajuk “Layar Bergerak, Ingatan Menyala” pada Jumat (19/9) di Lapangan Basket Imam Barjo, Undip Pleburan. Kegiatan tersebut merupakan program yang dilaksanakan setiap tahun oleh BEM SV yang kali ini bekerja sama dengan Memoar Festival 2025, salah satu program kerja Bidang Sospol BEM Undip. Tujuannya adalah untuk menghidupkan kembali semangat perjuangan dan perlawanan, serta memperingati momentum September Hitam yang identik sebagai refleksi tragedi dan sejarah Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia.
Acara bioling ini menayangkan film dokumenter tentang Marsinah, sosok buruh perempuan asal Jawa Timur yang menjadi simbol keberanian melawan ketidakadilan pada era 1990-an. Pemilihan tokoh Marsinah merepresentasikan perjuangan buruh, khususnya perempuan, yang kerap mengalami penindasan dari pihak berkuasa.
Ketua pelaksana bioling 2025, Dewinta Maharani Azzahra atau akrab disapa Rara, menyampaikan bahwa film Marsinah ditampilkan bukan hanya sekadar tontonan. Ia menekankan bagaimana sosok Marsinah ini menggambarkan bahwa perempuan berhak menyuarakan aspirasi mereka dan tidak boleh dibungkam. Selain itu, Rara juga menjelaskan bahwa selama ini buruh hanya identik dengan pekerja laki-laki. Namun, Marsinah menjadi bukti nyata bahwa perempuan juga memiliki peran penting dalam perjuangan buruh.
“Karena mengangkat sosok buruh, terus biasanya buruh tuh yang paling menonjol kan laki-laki. Nah, Marsinah ini menunjukkan bahwa buruh, khususnya wanita, nggak boleh dibungkam, wanita bisa bersuara,” ujarnya.
Di sisi lain, Ketua Bidang Sospol BEM SV 2025, Zahran Achmad Muyassar, menegaskan bahwa kawan-kawan perempuan sebenarnya memiliki gerakan-gerakan perjuangan yang penting. Ia menyebut, selama ini bila melihat gerakan buruh, orang cenderung mengasosiasikan dengan kaum laki-laki.
“Mungkin teman-teman masih berkutat bahwa gerakan-gerakan buruh itu lahir dari kaum laki-laki. Tetapi, sejatinya tidak. Kita bisa buktikan dengan Marsinah, bahwa sebenarnya kaum perempuan juga mempunyai perjuangan dan hak yang sama dengan laki-laki,” jelasnya.
Selain memutar film Marsinah, Zahran juga menuturkan bahwa acara bioling ini bisa menjadi media untuk berbincang dan berdiskusi bersama seputar isu-isu krusial yang ada di sekitar mereka.
Kegiatan bioling dibuka untuk umum sehingga siapa pun boleh turut menonton dan mengingat kembali perjuangan Marsinah 32 tahun silam serta menumpuknya kasus pelanggaran HAM di Indonesia yang tidak diusut tuntas. Siti Qonita Nur Adibah, salah seorang peserta dari Program Studi (Prodi) Teknik Infrastruktur Sipil dan Perancangan Arsitektur, mengaku melalui kegiatan bioling dirinya menjadi tahu bahwa perjuangan Marsinah sempat diabadikan dalam bentuk film.
Qonita menyoroti bahwa film tersebut menampilkan perjuangan seorang perempuan yang berani bersuara dan melawan. Ia juga menyoroti perihal pemenuhan hak buruh yang masih jauh dari kata cukup.
“Tadi juga udah dijelasin kenapa mereka, para buruh itu sampai demo dan di situ dijelasin ternyata mereka jam kerjanya lebih tapi upahnya kurang. Jadi harusnya itu mampu ngebuat orang lain sadar kalau ternyata memang keadilan buat buruh sendiri itu perlu,” ungkap Qonita pada Jumat (19/9).
Sebagai penutup, Qonita memanjatkan harapannya bagi para aktivis yang gugur bersama Marsinah, juga mereka para perempuan yang masih memperjuangkan haknya.
“Bagi mereka yang gugur, terima kasih banyak karena jasa mereka benar-benar berharga buat kita. Kalau misalnya gak ada mereka mungkin kita juga gak bakal tahu akan hal ini, kita juga gak bakal melek akan hal ini,” ungkapnya.
Bagi mereka yang masih berjuang, Qonita berharap agar semua orang tidak tutup mata dan telinga atas kondisi negeri saat ini karena siapa lagi kalau bukan kita yang bersuara.
Sementara itu, Zahran juga menuturkan harapannya agar setiap mahasiswa, khususnya dari lingkungan Undip, mampu membuka mata dan hati terhadap sejarah yang terjadi di masa lalu.
“Aku ingin teman-teman lebih sadar terhadap sejarah, apa yang memang terjadi di bulan September ini. Apa yang menjadikannya September Hitam. Dan apa yang memang setiap tahunnya selalu dijadikan pertanyaan,” tutur Zahran.
Dengan kesadaran akan perjuangan, mereka tidak sekadar melihat sebuah poster atau simbol, melainkan meresapi semangat dan keberanian di baliknya sehingga lahir keyakinan kuat untuk ikut berjuang demi masa depan yang lebih baik.
Reporter: Naftaly Mitchell, Raisya Nurul, Salsa Puspita, Alya Nabilah
Penulis: Alya Nabilah, Raisya Nurul, Salsa Puspita
Editor: Nuzulul Magfiroh