Semarangan – Memoar Festival sukses digelar selama 1 minggu, mulai dari Senin hingga Sabtu (23-27/9) di Student Center, Universitas Diponegoro (Undip). Kegiatan ini berfokus pada peringatan September Hitam, yakni catatan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang ada di Indonesia, khususnya segala tragedi di bulan September.
September Hitam adalah memorialisasi yang dilakukan oleh rakyat untuk merawat ingatan serta menolak lupa, sekaligus melakukan refleksi agar terus menuntut negara untuk bertanggung jawab atas tindakan sewenang-wenang terkait hak hidup masyarakatnya; mulai dari pembunuhan Munir Said Thalib, Peristiwa Tanjung Priok, Peristiwa Semanggi, bahkan peristiwa salah satu genosida terbesar dalam sejarah umat manusia yakni Gerakan Tiga Puluh September (Gestapu).
Menghadirkan banyak narasumber sebagai pemantik untuk melancarkan diskusi-diskusi yang tajam dan bernas, kegiatan ini diakhiri dengan persembahan penampilan dari berbagai fakultas yang berkaitan dengan pelanggaran HAM di Indonesia; mulai dari puisi, teater, monolog, dan sebagainya.
# Diskusi Hari-1 tentang Pelanggaran HAM
Hari pertama Memoar Festival menyinggung tentang maraknya ketidaktuntasan kasus pelanggaran HAM di Indonesia yang mengambil tiga perspektif; yakni Legal Resourse Center untuk Keadilan Gender dan Hak Asasi Manusia (LRC-KJHAM), Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Tengah, dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI).
Perwakilan LRC-KJHAM, Nia, mengatakan bahwa sejatinya HAM tidak terlepas dari hak-hak perempuan. Segala bentuk kekerasan yang dialami perempuan juga termasuk pelanggaran HAM. Kasus kekerasan perempuan masih merajalela, ditambah beban stigma yang dialami perempuan ketika kesemuanya berhulu pada budaya patriarki.
Perwakilan WALHI, Rizky Ryansah, membuka catatan terkait pemenjaraan aktivis lingkungan hidup yang marak di Indonesia. Tindak kekerasan hingga pengurungan terhadap aktivis lingkungan tidak terlepas dari Proyek Strategi Nasional (PSN).
“Kalau bicara mengenai kriminalisasi, ini terkait dengan rezim yang berlaku, penyebabnya adanya PSN. Kasus ini termasuk warga Rempang yang menolak Eco City, juga beberapa warga Wadas yang menolak konversi tanah, hingga Daniel aktivis Karimunjawa,” jelas Rizky.
Pemantik dari AJI, Iwan, menilik kasus pelanggaran HAM dari kacamata jurnalis. Per hari ini, banyak bukti nyata kemerdekaan pers semakin sempit. Seorang jurnalis diteror setelah memberitakan suatu hal, mengalami represifitas, bahkan ancaman kurungan yang lebih kendor dibandingkan petinggi negara yang korupsi sekian triliun.
Kungkungan kebebasan pers ini ditandai dengan maraknya laporan perdata dan pidana dari para rekan jurnalis dan media.
“Apabila merujuk data AJI Indonesia, dari tahun 2006 hingga September 2024 tercatat ada 1090 kasus kekerasan yang dialami jurnalis. Nah, sebelum ada demo Peringatan Darurat terdapat 178 kasus yang kemudian meningkat belasan kasus setelah ada demo tersebut,” imbuh Iwan.
Diskusi pelanggaran HAM dari tiga perspektif ini adalah upaya untuk mengulik ruang yang kian hari kian sempit dan hukum yang kian hari kian mencekik. Masih banyak yang patut diperbaiki agar tatanan kehidupan membaik dan semua masyarakat, siapa pun tanpa terkecuali hidup aman dalam negara sendiri.
# Diskusi Hari-2 tentang Hari Tani
Diskusi Memoar Festival pada hari-2 dengan topik “Petani Menangis di Negeri Agraris” berupaya menggugat tindak-tanduk para penguasa yang merongrong petani negeri ini dengan segala cara dan tanpa menghiraukan kesejahteraan pemilik lumbung negeri.
Dalih manis sering kali diberikan untuk sebuah proyek yang hendak memajukan negara dalam berbagai sektor, seolah memprioritaskan petani dengan segala yang bisa mereka kerjakan sehari-hari. Padahal sebenarnya marak dijumpai pengalihfungsian lahan, perampasan lahan, hingga monopoli pupuk dan distribusi hasil panen. Jelas, petani dirugikan dan dibantai hak-haknya untuk memperoleh kehidupan yang layak.
Tentu masih banyak masalah yang dialami oleh petani sebagai salah satu pemasok kehidupan. Hari Tani hadir untuk memperingati perjuangan para buruh tani yang sudah melanggengkan hidup orang banyak di negeri ini. Tanpa mereka mungkin akan lebih banyak yang mati kelaparan.
Nasib petani untuk hidup bersumber dari penghasilan yang seharusnya sama besarnya dengan jerih lelah adalah perjuangan yang harus digaungkan. Seyogianya pemerintah memperhatikan kehidupan petani sebab Indonesia adalah negara agraris di mana petani jadi tumpuan.
# Diskusi Hari-3 tentang Batu Bunga: Pelanggaran HAM Berat 1965
Hari ke-3 membingkai terkait pelanggaran HAM kala pucuk pimpinan negeri pada tahun 1965. Masih banyak yang cacat dari penerusan sejarah dan terlampau compang-camping sehingga makna tunggal hanya ada pada pemerintah.
Diskusi ini berupaya meningkatkan kesadaran persoalan masih melekat dan menyuburnya impunitas di Indonesia. Hal ini berpotensi melanggengkan pelanggaran HAM karena dalang dan eksekutor tidak dihukum dengan seharusnya.
Impunitas menjadikan pelanggaran seperti jamur dan mengagungkan pelaku tanpa pernah diadili sehingga kekerasan, pelanggaran HAM, dan konflik akan berulang. Contohnya adalah kasus pembantaian massal tahun 1965, siapa di balik itu semua, bagaimana penyelesaian yang dilakukan oleh negara, serta narasi yang dibangun oleh negara menentukan seberapa panjang babak sejarah tersebut tanpa pernah mendapati titik penyelesaian. Hingga hari ini, bahkan kekerasan secara verbal terhadap korban dan keluarganya masih terus terjadi.
Kondisi demikian seharusnya dilawan. Mewariskan ingatan bukan tentang cacatnya sejarah negeri ini, melainkan ingatan dan keberpihakan oleh dan antargenerasi.
# Diskusi Hari-4: Satu Bulan Peringatan Darurat
Memoar Festival hari ke empat mengangkat tema diskusi tentang “Satu Bulan Peringatan Darurat: Brutalitas Aparat”. Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis (26/9), bertepatan dengan serangan yang diterima ketika aksi turun ke jalan kedua pada 26 Agustus lalu.
Terhitung satu bulan represifitas yang dilakukan oleh polisi ketika massa aksi turun ke jalan kala jantung negeri ini terpompa dan mengeluarkan peringatan darurat. Diskusi ini adalah bentuk perlawanan dan menolak lupa pada semua dosa polisi terhadap demonstran di bulan lalu.
Dalam diskusi, diceritakan bagaimana sebuah gerakan masif di negeri ini tertanggal 22 dan 26 Agustus bukan tanpa alasan. Pemimpin tertinggilah yang memulai sengkarut masalah hingga membuat rakyat murka. Kesemuanya disinyalir untuk berpihak pada presiden agar menuruti hasrat untuk tetap melanjutkan kepemimpinannya melalui anak-anak kesayangan, khusus di peringatan darurat, anak tengahlah yang sedang ditimang-timang.
Diskusi ini adalah upaya recalling bagaimana peringatan darurat yang terjadi di Semarang menjadi bagian dari amarah yang mendukung digagalkannya perubahan Undang-Undang yang nyaris menimang Kaesang. Juga bentuk menolak lupa dari kebengisan oleh pihak yang seharusnya melayani, mengayomi, dan melindungi, tapi justru menghabisi.
“Hari ini kita mau memantik bagaimana langkah selanjutnya, pasca aksi kemarin, dan harusnya kita mengeskalasi kegiatan-kegiatan ke depannya itu akan seperti apa,” ujar Pilar selaku moderator.
# Diskusi Hari-5: 20 Tahun Munir Dibunuh
Pada Jumat (27/9), Memoar Festival membahas tentang peringatan 20 tahun kematian Munir Said Thalib yang hingga kini belum mendapat titik terang. Masih jumpalitan kejanggalan yang mengakibatkan Munir mati terbunuh di udara.
Acara ini menghadirkan Suciwati (Istri Alm. Munir) dari Kamisan, serta Yati Andriyani dan Adrian dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS). Diskusi bernas ini membahas tentang sosok Munir beserta perjalanannya selama menjadi pejuang HAM.
Dimoderatori oleh Adam Firdaus, mahasiswa Fakultas Hukum yang semula memantik dengan ketertarikannya terhadap buku yang ditulis oleh Suciwati bertajuk Mencintai Munir. Kemudian, Suciwati menyambut pantikan tersebut dengan menceritakan bagaimana awal mula bertemu Munir ketika sama-sama berjuang untuk hak buruh, menikah, kemudian sama-sama berkecimpung dalam dunia yang membela para kaum marginal.
Yati membahas tentang KontraS yang ketika itu sebetulnya kamuflase untuk sebuah gerakan perlawanan. KontraS yang dibangun oleh Munir bergerak membersamai para Ibu dan keluarga yang kehilangan anak mereka ketika rezim Orde Baru berkuasa.
Sedangkan Adrian, bercerita tentang kronologi peristiwa kematian Munir, mulai dari berpamitan dengan keluarga di Bandara Soekarno Hatta hingga diracun di bandara Singapura, kemudian meninggal dalam perjalanan menuju Belanda. Adrian juga mengatakan bahwa sebetulnya Polycarpus memang tersangka. Namun, karena banyaknya kejanggalan, tentu ada dalang yang mengepalai aksi pembunuhan tersebut. Hal itulah yang hingga kini belum dituntaskan, sedang Munir telah pergi 20 tahun lamanya.
Harapan ketiga pegiat HAM ini adalah tetap meneruskan perjuangan dan selalu melawan. Ketika rezim merasa gatal dengan tingkah para rakyat dan kaum bawah, berarti sebenarnya ada yang salah. Jangan takut berada di jalan yang benar dan lantangkan suara perlawanan.
# Puncak Kegiatan Memoar Festival
Puncak Memoar Festival digelar pada Sabtu (28/9), di halaman Student Center Undip dengan melibatkan berbagai fakultas. Mahasiswa yang menjadi perwakilan menampilkan puisi, monolog, teater, dan hal lain yang masih dalam lingkup pelanggaran HAM.
Salah satu penampilan monolog dari Karen Citra Yuni mahasiswa Program Studi (Prodi) Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), yang membawakan karya sastra milik R. Riantiarno berjudul “Tolong”. Monolog ini membingkai tentang kekerasan yang dialami oleh perempuan ketika bekerja sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Malaysia.
Dalam penampilannya, Karen menghayati bagaimana perasaan korban selama bekerja dan penyelesaian kasus untuk korban. Penampilan yang mengiris hati itu turut menggaungkan peringatan bagi semua yang menyaksikan.
“Harapan aku mereka bisa mengambil beberapa pesan. Salah satunya karena TKW kebanyakan perempuan, aku mau mereka bisa lebih aware terhadap kekerasan perempuan. Bukan cuma yang dialami sama satu tokoh di sini, Atika, tapi semua perempuan, terutama di Indonesia,” jelas Karen.
Kegiatan ini juga menghadirkan teater dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Fakultas Hukum (FH), Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB), serta berbagai penampilan dari fakultas lainnya. Salah satu penampilan monolog mengangkat isu tentang Penembakan Misterius (Petrus) yang terjadi pada tahun 1982-1985, juga penampilan lain yang mengusung tema patriarki yang mencekik perempuan.
Memoar Festival adalah upaya untuk mewariskan ingatan tentang catatan pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia. Tentu bukan hanya di Bulan September, tapi secara menyeluruh yang menjadi peringatan bagi para penguasa untuk mengusut tuntas pelakunya. Bukan hanya eksekutor, melainkan dalang.
September Hitam bisa diekspresikan melalui banyak hal; karya sastra, rajutan diskusi, dan menonton film sehingga upaya menolak lupa diturunkan dari generasi ke generasi. Catatannya, segala yang berkaitan dengan pelanggaran HAM adalah kekelaman yang perlahan harus ditembus untuk bisa memandang sejarah lebih baik dan memperbaiki negeri ini.
Reporter : M. Irham Maolana, Nuzulul Magfiroh, Mitchell Naftaly
Penulis : Mitchell Naftaly
Editor : Ayu Nisa’Usholihah

