Mahasiswa Undip Kembangkan Reaktor Plasma Quad-Core Hollow Multi-Pin

Lima mahasiswa Tim PKM-KC NUTRIPLAS saat menunjukkan prototipe reaktor plasma yang telah dirakit, Jumat (11/8/2026). (Sumber: Tim PKM-KC Nutriplas/Citizen Journalism)

Citizen Journalism – Tim mahasiswa lintas Program Studi (Prodi) Teknik Elektro, Teknik Mesin, dan Teknik Kimia, Fakultas Teknik (FT), serta Prodi Agribisnis, Fakultas Peternakan dan Pertanian (FPP) Universitas Diponegoro (Undip) mengembangkan alat berbasis teknologi plasma bernama Nutriplas untuk membantu petani mengatasi penyakit trotol atau bercak ungu pada tanaman bawang merah yang disebabkan oleh jamur Alternaria porri. Penyakit ini menjadi salah satu penyebab utama gagal panen di sentra bawang merah sejak lama.

Nutriplas dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKM-KC) 2026. Inovasi tersebut telah dipresentasikan dalam PKM Expo Undip pada Sabtu (15/8/2026). 

Alat ini memanfaatkan reaktor dielectric barrier discharge agar berkonfigurasi dengan Quad-Core Hollow Multi-Pin untuk menghasilkan plasma activated water, air yang telah diperkaya senyawa oksidatif reaktif sehingga mampu menonaktifkan spora jamur tanpa meninggalkan residu kimia seperti fungisida sintetis.

Prototipe alat dirancang sebagai satu sistem terintegrasi, mencakup tangki berkapasitas 60 liter, pompa, filtrasi, solenoid valve, dan sprinkler untuk mendistribusikan air ke tanaman. Sensor potential of hydrogen (pH)  dan Oxidation-Reduction Potential (ORP)  dipasang untuk memantau kualitas air secara berkala, sementara mikrokontroler chip Wi-Fi 32-bit buatan Espressif Systems (ESP32 ) yang menghubungkan seluruh komponen ke sebuah website kontrol dan dapat dipantau serta diakses dari jarak jauh.

Pada bagian pengujian kelistrikan, reaktor plasma Nutriplas menghasilkan tegangan 20,59 (kilovolt) kV dengan frekuensi switching 92,50 kilohertz (kHz) serta konsumsi daya sekitar 76 watt  (W). Tegangan ini jauh lebih rendah dibanding reaktor plasma konvensional yang membutuhkan hingga 40 kV sehingga Nutriplas bekerja lebih hemat energi tanpa mengurangi kemampuannya membentuk plasma. 

Setelah pengujian kelistrikan, tim melanjutkan pengujian air aktivasi menunjukkan konsentrasi ozon mencapai target 4 miligram per liter (mg/L) hanya dalam 25 menit, dengan nilai ORP 640 milivolt (mV) yang menandakan air tersebut cukup kuat untuk menonaktifkan spora jamur. Kondisi inilah yang dijadikan acuan sebelum air digunakan untuk menyiram tanaman.

Pada uji coba terhadap tanaman bawang merah yang diinokulasi Alternaria porri, penyiraman plasma activated water terbukti efektif menekan perkembangan penyakit bercak ungu, dengan tingkat efektivitas yang kompetitif dibanding fungisida mancozeb yang umum digunakan oleh petani.

Inovasi dari Nutriplas ini diharapkan bisa menjadi alternatif teknologi pengendalian penyakit tanaman yang ramah lingkungan dan bebas residu kimia, sekaligus memperkuat keberlanjutan budidaya bawang merah nasional.

 Penulis: Bintang Adhiyaksa Dani Saputro, Mahasiswa Teknik Elektro, Fakultas Teknik

Editor: Salsa Puspita, Andaru Surya

Scroll to Top