Kukira Kau Rumah, Perasaan Seorang Gadis Yang Hidup Dalam Kondisi Bipolar

Postingan “Kukira Kau Rumah” film baru keluaran SINEMAKU PICTURES & MD PICTURES PRESENT.

(Sumber : Unggahan Instagram @sinemaku.pictures)

Film – Film Kukira Kau Rumah garapan Umay Shahab, Imam Salimy, dan Monty Tiwa yang diproduseri sekaligus dibintangi oleh Prilly Latuconsina sukses menjadi trending topik di sosial media dalam beberapa hari setelah ditayangkan pertama kali pada Kamis (3/2). Film ini pernah masuk dalam nominasi Festival Film 2021 dan tayang perdana pada 28 November 2021 di Jogja NETPAC Asian Film Festival (JAFF). Film Kukira Kau Rumah diadaptasi dari lagu berjudul sama yang ditulis oleh Aya Canina, mantan vokalis Amigdala. 

Film ini menceritakan tentang seorang pemuda bernama Pram (Jourdy Pranata) yang kesepian akibat ditinggalkan oleh sang ayah sejak dia kecil. Ibu Pram, yang seharusnya merawat dia, malah disibukkan dengan pekerjaannya setiap hari. Pram akhirnya mengisi waktunya dengan membuat lagu dan bermain musik. Pram juga bekerja paruh waktu di sebuah kafe musik sebagai barista. Suatu waktu, Pram bertemu dengan Niskala (Prilly Latuconsina), dari pertemuan tersebut mereka menjadi tertarik satu sama lain dan semakin sering bertemu. Pram dan Niskala yang selama ini dilingkupi rasa kesepian merasa sangat bahagia karena kehadiran mereka saling mengisi satu sama lain. Namun, Pram tidak mengetahui bahwa Niskala mengidap bipolar. Selain itu, Niskala menyembunyikan fakta bahwa ia mengejar pendidikan tinggi dari ayahnya, Dedi (Kiki Narendra). Hal ini dikarenakan semenjak Niskala didiagnosis mengidap bipolar,  sang ayah menjadi sangat protektif terhadap Niskala. Bahkan, sampai melarang Niskala untuk melanjutkan pendidikannya. Niskala ingin membuktikan kepada ayahnya bahwa meskipun dengan kondisinya yang mengidap bipolar, ia masih bisa mendapatkan prestasi yang memukau. Sejak Pram akrab dengan Niskala, kehidupan mereka berdua berubah. Mereka merasa bahwa hari-hari mereka tidak sepi lagi. Pram mampu memberikan tempat bersandar bagi Niskala dan Niskala mampu mendukung hobi Pram dalam bermusik. Bahkan, duet Pram dengan Niskala mendapat apresiasi luar biasa dari masyarakat. Pada saat Pram akhirnya mengetahui bahwa Niskala mengidap gangguan bipolar, Pram tidak meninggalkannya, ia justru semakin mencintai seorang Niskala. 

Chemistry antara Prilly dan Jourdy dalam film ini benar-benar luar biasa. Kemampuan akting Prilly dalam film ini layak diberi tepuk tangan. Prilly berhasil memerankan dan membawa karakter Niskala dengan sangat baik dan menyentuh. Jourdy Pranata pun mampu membawakan peran Pram dengan baik. Namun, sangat disayangkan cerita film ini menurut saya kurang dalam dan terkesan terlalu cepat. Permasalahan mental health kurang dibahas secara detail. Seharusnya, film ini mampu lebih fokus terhadap permasalahan yang diceritakan dan mampu memberikan solusi permasalahan dan cerita yang dalam agar para penonton lebih teredukasi dengan kesehatan mental dan lebih mengetahui betapa pentingnya kesehatan mental. Bagaimana kesehatan mental tidak dapat sembarangan ditangani dan harus mendapatkan penanganan dengan baik dan benar. Karakter lain dalam film ini pun kurang disorot dengan detail. Mulai dari sahabat Niskala, Dinda (Shenina Cinnamon) dan Oktavianus (Raim Laode) hingga orang tua Niskala yang selama ini menjaga Niskala secara berlebihan. Detail permasalahan keluarga Pram kurang disorot dan tidak diceritakan mengapa dan bagaimana Ayah Pram bisa pergi. Padahal, peran-peran sampingan ini dapat menjadi karakter pendukung yang kuat dalam film Kukira Kau Rumah, agar kesan film tidak terlalu cepat. Terlepas dari hal tersebut, film Kukira Kau Rumah mampu memberikan visualisasi yang menarik dan enak untuk dipandang. Kamera yang menyorot ekspresi Niskala dan Pram dengan detail selama berjalannya film diambil dengan sangat apik. Hal tersebut dapat membuat penonton merasakan emosi yang dibawakan oleh para karakter. Musik yang disuguhkan selama film berjalan pun apik dan memanjakan telinga.

Kukira Kau Rumah ini menunjukkan betapa pentingnya belajar untuk menghargai dan tidak menghakimi hidup orang lain. Film ini juga memberikan tamparan keras bagi masyarakat yang masih meremehkan kesehatan mental dan dapat membantu meningkatkan kesadaran terkait isu kesehatan mental yang masih dipandang sebelah mata di Indonesia.

Penulis : Kalpika Lestari Wibowo 

Editor: Rafika Immanuela, Malahayati Damayanti F

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top